Probiotik untuk Atlet: Perlukah untuk Mendukung Kesehatan dan Performa?
Hadi Riyadi
Keterangan gambar: Ilustrasi konsultasi gizi untuk mengenali pemicu kembung dan nyeri perut serta menyesuaikan pola makan dengan toleransi individu. Gambar dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI); tokoh dan situasi yang ditampilkan bersifat ilustratif, bukan dokumentasi pasien sebenarnya.
Probiotik adalah mikroorganisme hidup yang, jika diberikan dalam jumlah memadai, memberikan manfaat kesehatan. Istilah “bakteri baik” sering digunakan agar mudah dipahami, tetapi tidak semua mikroorganisme memiliki kemampuan yang sama. Manfaatnya dapat berbeda hingga tingkat strain, yaitu kelompok khusus dalam satu spesies mikroorganisme. Karena itu, keberhasilan satu strain dalam penelitian tidak otomatis berlaku untuk semua produk yang mencantumkan kata “probiotik” pada kemasannya (Jäger et al., 2019).
Mengapa usus mendapat perhatian dalam olahraga? Saat latihan berat atau berkepanjangan, terutama dalam cuaca panas, aliran darah menuju saluran pencernaan dapat berkurang. Bersamaan dengan tekanan fisik dan perubahan fungsi pencernaan, keadaan ini dapat memicu mual, kram, atau diare. Akan tetapi, keluhan tersebut memiliki banyak penyebab. Jumlah makanan, waktu makan, minuman yang digunakan, dan toleransi individu perlu diperiksa sebelum menyimpulkan bahwa atlet membutuhkan suplemen tertentu (Costa et al., 2025).
Salah satu bidang penelitian probiotik adalah kesehatan saluran pernapasan. Meta-analisis oleh Łagowska dan Bajerska (2021) menemukan manfaat terhadap penurunan skor keparahan gejala infeksi saluran pernapasan atas pada atlet. Temuan ini menjanjikan, tetapi tidak berarti semua produk dapat mencegah pilek atau membuat atlet kebal terhadap infeksi. Penurunan keparahan gejala juga berbeda dengan pembuktian bahwa seseorang lebih jarang tertular penyakit.
Bagi atlet, manfaat kesehatan dapat memiliki arti praktis. Keluhan yang lebih ringan mungkin membantu menjaga keteraturan latihan. Namun, manfaat tidak langsung seperti ini perlu dibedakan dari peningkatan kecepatan lari, kekuatan, atau hasil pertandingan. Seorang atlet yang merasa lebih nyaman setelah mengonsumsi probiotik belum tentu mengalami peningkatan kapasitas fisik akibat suplemen tersebut. Perubahan latihan, tidur, dan pola makan dapat ikut memengaruhi hasil.
Untuk gangguan pencernaan akibat olahraga, bukti yang tersedia justru mengajak kita berhati-hati. Pernyataan bersama Sports Dietitians Australia dan Ultra Sports Science Foundation tahun 2025 menyimpulkan bahwa probiotik yang telah diteliti belum menunjukkan pengaruh yang konsisten dan bermakna terhadap kerusakan lapisan usus, kebocoran penghalang usus, maupun gejala pencernaan saat berolahraga. Ada penelitian yang melaporkan manfaat, tetapi hasil keseluruhannya belum mendukung penggunaan probiotik sebagai solusi umum untuk semua keluhan perut atlet (Costa et al., 2025).
Bagaimana dengan performa? Meta-analisis terbaru oleh Zhang dan rekan-rekan (2026), yang menggabungkan 21 uji klinis dengan 685 peserta sehat, menemukan peningkatan kecil hingga sedang pada indikator performa secara keseluruhan. Sinyal manfaat paling jelas terlihat pada beberapa indikator daya tahan. Hasil ini menarik, tetapi peserta, strain, dosis, dan cara pengukuran performa berbeda-beda. Peningkatan hasil tes laboratorium juga belum tentu menghasilkan peningkatan prestasi pertandingan dengan besaran yang sama. Penulis tetap menekankan perlunya penelitian yang lebih besar untuk memperjelas rekomendasi (Zhang et al., 2026).
Klaim tentang pemulihan juga perlu dibaca dengan teliti. Kajian tahun 2025 yang mencakup 19 penelitian dengan 526 atlet menemukan peningkatan IL-10, salah satu protein pengatur respons peradangan. Namun, beberapa penanda peradangan lainnya tidak berubah secara bermakna. Perubahan satu penanda darah belum membuktikan bahwa nyeri otot pasti berkurang atau atlet dapat kembali berlatih lebih cepat. Pemulihan perlu dinilai melalui keluhan, fungsi tubuh, dan kemampuan menjalani latihan, bukan hanya hasil pemeriksaan laboratorium (Aparicio-Pascual et al., 2025).
Jika probiotik dipertimbangkan, pemilihan produk sebaiknya dimulai dari tujuan yang jelas. Apakah yang ingin diperbaiki adalah keluhan tertentu, atau sekadar mengikuti tren? Label perlu mencantumkan identitas mikroorganisme hingga strain, jumlah mikroorganisme hidup, masa simpan, dan petunjuk penyimpanan. Jumlah mikroorganisme biasanya dinyatakan sebagai colony-forming unit (CFU), yaitu satuan pembentuk koloni. Angka CFU yang besar atau daftar strain yang panjang saja belum cukup untuk menunjukkan bahwa produk sesuai dengan kebutuhan atlet; kecocokan dengan bukti penelitian lebih penting (Jäger et al., 2019).
Pendekatan praktisnya adalah menetapkan sasaran dan cara evaluasi bersama ahli gizi olahraga atau dokter. Misalnya, atlet mencatat frekuensi keluhan, hari latihan yang terganggu, dan perubahan toleransi pencernaan selama periode penggunaan. Catatan tersebut membantu menilai apakah ada manfaat yang terasa. Hindari mengubah banyak hal sekaligus karena akan sulit mengetahui faktor yang berpengaruh. Produk yang bermanfaat bagi rekan satu tim belum tentu memberikan hasil serupa pada diri sendiri.
Jadi, probiotik dapat dipertimbangkan sebagai pendukung pada keadaan tertentu, tetapi belum merupakan kebutuhan rutin bagi semua atlet. Bukti terbaru memberi harapan, sekaligus menunjukkan bahwa manfaatnya tidak seragam. Sebelum membeli suplemen, atlet perlu memastikan kebutuhan energi, makanan sehari-hari, cairan, tidur, dan pengaturan latihan sudah diperhatikan. Keputusan menggunakan probiotik akan lebih masuk akal apabila memiliki tujuan jelas, didukung penelitian yang sesuai, dan dievaluasi berdasarkan respons individu.
Referensi
Aparicio-Pascual, D., Clemente-Suárez, V.J., Tornero-Aguilera, J.F. and Rubio-Zarapuz, A. (2025) ‘The effect of probiotic supplementation on cytokine modulation in athletes after a bout of exercise: A systematic review and meta-analysis’, Sports Medicine – Open, 11, 58. https://doi.org/10.1186/s40798-025-00860-7.
Costa, R.J.S., Gaskell, S.K., Henningsen, K., et al. (2025) ‘Sports Dietitians Australia and Ultra Sports Science Foundation joint position statement: A practitioner guide to the prevention and management of exercise-associated gastrointestinal perturbations and symptoms’, Sports Medicine, 55, pp. 1097–1134. https://doi.org/10.1007/s40279-025-02186-6.
Jäger, R., Mohr, A.E., Carpenter, K.C., et al. (2019) ‘International Society of Sports Nutrition position stand: Probiotics’, Journal of the International Society of Sports Nutrition, 16, 62. https://doi.org/10.1186/s12970-019-0329-0.
Łagowska, K. and Bajerska, J. (2021) ‘Probiotic supplementation and respiratory infection and immune function in athletes: Systematic review and meta-analysis of randomized controlled trials’, Journal of Athletic Training, 56(11), pp. 1213–1223. https://doi.org/10.4085/592-20.
Zhang, X., Chang, Z., Zhao, S., Wu, X., Wang, X., Ai, G. and Ning, Z. (2026) ‘Effect of probiotic intake on athletic ability in healthy people: A systematic review and Bayesian meta-analysis’, Frontiers in Nutrition, 13, 1731627. https://doi.org/10.3389/fnut.2026.1731627.

No comments:
Post a Comment