Sayur dan Buah Membantu Melindungi Ginjal pada Pasien Hipertensi
Hadi Riyadi
Ketika seseorang didiagnosis hipertensi, perhatian biasanya tertuju pada angka tekanan darah dan obat yang harus diminum. Padahal, isi piring juga layak mendapat perhatian. Sayur dan buah yang tersedia di pasar dan meja makan sehari-hari ternyata dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan ginjal. Penelitian menunjukkan bahwa menambah konsumsi keduanya dapat membantu memperlambat penurunan fungsi ginjal pada kelompok pasien hipertensi tertentu, apabila dilakukan bersama pengobatan dan pemantauan yang tepat.
Keterangan gambar: Ilustrasi edukasi pemilihan sayur dan buah dalam pengaturan makan pasien hipertensi. Gambar dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk keperluan ilustrasi; tokoh dan situasi yang ditampilkan bukan dokumentasi pasien sebenarnya.Hubungan tekanan darah dan ginjal berlangsung dua arah. Tekanan darah yang terus tinggi dapat merusak pembuluh darah kecil di ginjal sehingga kemampuan organ ini menyaring darah menurun. Sebaliknya, ginjal yang terganggu dapat kesulitan membuang kelebihan cairan, yang kemudian memperberat hipertensi. Karena itu, mengendalikan tekanan darah juga merupakan langkah untuk melindungi ginjal. Kerusakan awal sering tidak menimbulkan keluhan, sehingga pemeriksaan tetap diperlukan meskipun seseorang merasa sehat (NIDDK 2020).
Bukti menarik datang dari penelitian Goraya dan rekan-rekan yang diterbitkan dalam The American Journal of Medicine pada 2024. Sebanyak 153 pasien hipertensi dengan kebocoran albumin yang tinggi dalam urine dibagi secara acak menjadi tiga kelompok. Mereka memperoleh tambahan sayur dan buah, tablet natrium bikarbonat, atau perawatan biasa. Semua kelompok tetap mendapatkan pengobatan untuk perlindungan ginjal dan jantung. Penelitian berlangsung selama lima tahun, sehingga dapat mengamati perubahan fungsi ginjal secara bertahap.
Hasilnya, penurunan kemampuan penyaringan ginjal lebih lambat pada kelompok sayur dan buah dibandingkan kelompok perawatan biasa. Rata-rata penurunannya sekitar 1,08 dibandingkan 1,94 mL/menit/1,73 m² per tahun. Angka ini menggambarkan perubahan perkiraan kemampuan ginjal menyaring darah; penurunan yang lebih kecil berarti fungsi ginjal lebih terjaga. Kelompok natrium bikarbonat juga mengalami perlambatan penurunan fungsi ginjal. Temuan tersebut menunjukkan manfaat tambahan intervensi diet di atas pengobatan yang sudah diberikan (Goraya et al., 2024).
Mengapa sayur dan buah dapat membantu? Salah satu penjelasannya adalah pengurangan beban asam dari makanan. Ketika tubuh mengolah zat gizi, sebagian proses menghasilkan asam yang perlu ditangani, antara lain oleh ginjal. Banyak sayur dan buah menyediakan senyawa yang setelah diolah tubuh membantu menetralkan beban tersebut. Istilah “beban asam” di sini tidak sama dengan rasa masam di lidah, dan tidak berarti seseorang perlu mengubah darah menjadi lebih basa dengan produk tertentu.
Laporan lanjutan dalam Kidney International Reports tahun 2025 memberikan penjelasan tambahan. Pada peserta dari uji yang sama, penambahan sayur dan buah untuk menurunkan beban asam makanan berkaitan dengan berkurangnya penumpukan asam serta membaiknya sejumlah penanda cedera ginjal. Peserta memiliki hipertensi, tidak menderita diabetes, dan kemampuan penyaringan ginjal yang masih normal, tetapi sudah mengalami kebocoran albumin. Dengan demikian, fungsi penyaringan yang tampak normal belum tentu berarti ginjal sepenuhnya sehat. Laporan ini memperdalam temuan sebelumnya, bukan penelitian terpisah yang menambah jumlah peserta (Goraya et al., 2025).
Manfaat sayur dan buah juga perlu dipandang sebagai bagian dari keseluruhan pola makan. Pola DASH, singkatan dari Dietary Approaches to Stop Hypertension, menekankan sayuran, buah, biji-bijian utuh, serta pilihan sumber protein yang sesuai, sambil membatasi natrium. Penelitian DASH menunjukkan bahwa pola makan tersebut membantu menurunkan tekanan darah. Sayur dan buah menyediakan serat, kalium, dan magnesium, tetapi keberhasilannya tetap dipengaruhi makanan lain yang dikonsumsi. Menambah sayur sambil terus mengonsumsi makanan sangat asin belum merupakan perubahan yang menyeluruh (NHLBI tanpa tahun).
Penerapannya tidak harus menggunakan bahan mahal. Bagi pasien yang tidak memerlukan pembatasan kalium, langkah awal dapat berupa menyediakan sayur pada makan siang dan malam serta memilih buah utuh sebagai bagian dari selingan. Pilihan dapat disesuaikan dengan musim, anggaran, dan selera keluarga. Cara memasak juga perlu diperhatikan: sayur yang diberi banyak garam, kecap, atau bumbu instan dapat membawa natrium dalam jumlah besar. Bawang, serai, kunyit, dan rempah lain dapat membantu memberikan rasa ketika penggunaan garam dikurangi.
Namun, anjuran menambah sayur dan buah perlu disesuaikan pada pasien yang fungsi ginjalnya sudah menurun. Sebagian pasien mengalami kesulitan membuang kalium sehingga kadarnya dalam darah meningkat. Dalam keadaan ini, jenis makanan, porsi, cara pengolahan, dan obat yang digunakan perlu ditinjau bersama tenaga kesehatan. Pedoman KDIGO 2024 menganjurkan pengaturan kalium secara individual, terutama pada pasien dengan kadar kalium tinggi atau berisiko mengalaminya. Pedoman tersebut juga menyoroti kalium yang mudah diserap dari pangan olahan; pembatasan tidak seharusnya dilakukan dengan melarang seluruh sayur dan buah tanpa penilaian (KDIGO CKD Work Group, 2024).
Hasil penelitian ini juga tidak dapat langsung diterapkan pada semua kondisi penyakit ginjal, terutama pasien stadium lanjut atau yang menjalani dialisis. Penelitian utamanya melibatkan kelompok pasien yang dipilih dengan kriteria tertentu. Perlambatan penurunan fungsi ginjal tidak sama dengan penyembuhan, dan belum berarti setiap pasien akan terhindar dari gagal ginjal. Tablet natrium bikarbonat yang digunakan dalam penelitian pun merupakan intervensi medis, bukan anjuran untuk mengonsumsi soda kue sendiri.
Bagi pasien hipertensi, kebiasaan makan sayur dan buah dapat ditempatkan bersama kepatuhan minum obat, pembatasan garam, aktivitas fisik, serta pemeriksaan berkala. Pemeriksaan kreatinin darah untuk memperkirakan fungsi penyaringan dan albumin urine membantu tenaga kesehatan menilai keadaan ginjal. Pilihan makanan kemudian dapat disesuaikan dengan hasil pemeriksaan tersebut. Perlindungan ginjal dimulai dari kebiasaan sehari-hari, dengan pola makan yang lebih baik dan pengobatan yang berjalan beriringan (KDIGO CKD Work Group, 2024).
Referensi
Goraya, N., Madias, N.E., Simoni, J., Kahlon, M., Aksan, N. and Wesson, D.E. (2024) ‘Kidney and cardiovascular protection using dietary acid reduction in primary hypertension: A five-year, interventional, randomized, control trial’, The American Journal of Medicine, 137(11), pp. 1114–1127.e8. https://doi.org/10.1016/j.amjmed.2024.06.006.
Goraya, N., Madias, N.E., Simoni, J., Kahlon, M., Aksan, N. and Wesson, D.E. (2025) ‘Randomized trial of dietary acid reduction and acid-base status of patients with CKD and normal estimated GFR’, Kidney International Reports, 10(2), pp. 355–374. https://doi.org/10.1016/j.ekir.2024.10.032.
Kidney Disease: Improving Global Outcomes (KDIGO) CKD Work Group (2024) ‘KDIGO 2024 clinical practice guideline for the evaluation and management of chronic kidney disease’, Kidney International, 105(4S), pp. S117–S314. https://doi.org/10.1016/j.kint.2023.10.018.
National Heart, Lung, and Blood Institute (tanpa tahun) ‘DASH: Health benefits’. Tersedia pada: https://www.nhlbi.nih.gov/health/dash/health-benefits (Diakses: 6 Oktober 2026).
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK) (2020) ‘High blood pressure & kidney disease’. Ditinjau terakhir Maret 2020. Tersedia pada: https://www.niddk.nih.gov/health-information/kidney-disease/high-blood-pressure (Diakses: 6 Oktober 2026).

No comments:
Post a Comment