Vitamin K2 dan D3: Pengapuran Melambat, Apakah Jantung Lebih Aman?
Hadi Riyadi
Bayangkan seseorang menerima hasil pemeriksaan yang menunjukkan pengapuran pada pembuluh darah jantungnya. Ia mulai memperbaiki pola makan, lebih teratur beraktivitas, dan menggunakan obat yang diresepkan dokter. Kemudian muncul berita bahwa kombinasi dua vitamin dapat memperlambat pengapuran tersebut. Harapan pun timbul: mungkinkah vitamin membantu melindungi jantung dengan cara yang belum dijangkau pengobatan sebelumnya?
Pertanyaan itu memperoleh perhatian baru setelah publikasi penelitian DANCODE dalam jurnal Circulation pada Oktober 2026. Penelitian ini menemukan bahwa suplementasi vitamin K2 dan D3 selama dua tahun memperlambat pertambahan skor kalsium pada arteri koroner, yaitu pembuluh darah yang memasok darah ke otot jantung. Temuan tersebut menarik karena berasal dari uji acak tersamar ganda dengan pembanding plasebo, bukan sekadar pengamatan terhadap kebiasaan mengonsumsi vitamin (Hasific et al., 2026).
Namun, hasil positif ini menyisakan pertanyaan yang lebih penting bagi pasien: apakah perlambatan pengapuran juga berarti lebih sedikit serangan jantung, stroke, atau kematian? Tiga editorial yang menyertai penelitian tersebut mengingatkan bahwa jawabannya belum tersedia. Di sinilah letak daya tarik sekaligus tantangannya: suatu intervensi dapat mengubah hasil pemeriksaan, tetapi manfaat akhirnya bagi kehidupan manusia masih harus dibuktikan (Davis dan Manson, 2026; Daubert dan Blaha, 2026; Lauer, 2026).
Pengapuran pembuluh darah bukan sekadar endapan pasif
Istilah “pengapuran” sering membangkitkan gambaran kerak pada pipa air. Gambaran itu membantu menjelaskan adanya mineral yang mengendap, tetapi proses di dalam tubuh jauh lebih kompleks. Kalsifikasi pembuluh darah melibatkan aktivitas sel, protein pengatur mineralisasi, peradangan, serta perubahan jaringan. Proses tersebut bukan sekadar akibat kalsium dari makanan yang langsung menempel pada dinding pembuluh darah (Hasific et al., 2026).
Pada arteri koroner, kalsifikasi dapat menjadi bagian dari plak aterosklerosis. Plak merupakan perubahan pada dinding arteri yang mengandung berbagai komponen, termasuk lipid, jaringan ikat, sel-sel peradangan, dan kalsium. Komposisi serta sifat biologisnya dapat berbeda. Karena itu, mengetahui jumlah kalsium memberi informasi penting, tetapi belum menggambarkan seluruh keadaan plak (Daubert dan Blaha, 2026).
Kalsium koroner dapat diukur melalui pemeriksaan CT dan dinyatakan sebagai skor coronary artery calcium, disingkat CAC. Salah satu metode yang lazim digunakan adalah skor Agatston, yang memperhitungkan luas dan kepadatan area berkalsium. Secara umum, skor CAC yang lebih tinggi menunjukkan beban aterosklerosis koroner yang lebih besar dan berkaitan dengan risiko kejadian kardiovaskular yang lebih tinggi (Hasific et al., 2026).
Akan tetapi, kemampuan suatu penanda untuk memperkirakan risiko tidak otomatis menjadikannya sasaran pengobatan yang telah terbukti. Mengidentifikasi orang berisiko tinggi dan membuktikan bahwa menurunkan suatu penanda akan mengurangi risiko merupakan dua tugas ilmiah yang berbeda. Perbedaan inilah yang menjadi pusat perdebatan mengenai vitamin K2, vitamin D3, dan CAC (Lauer, 2026).
Mengapa vitamin K2 dan D3 menjadi perhatian?
Vitamin K biasanya dikenal karena perannya dalam pembekuan darah. Namun, protein yang bergantung pada vitamin K juga ditemukan di jaringan lain. Salah satunya adalah matrix Gla protein atau MGP, yang berperan dalam pengaturan mineralisasi. Protein ini memerlukan proses karboksilasi yang bergantung pada vitamin K agar dapat menjalankan fungsinya dalam menghambat kalsifikasi (Hasific et al., 2026).
Vitamin K2 merupakan kelompok senyawa menaquinone. Dalam DANCODE, bentuk yang digunakan adalah menaquinone-7 atau MK-7. Sementara itu, vitamin D3, yang disebut pula kolekalsiferol, memiliki hubungan dengan pembentukan protein pengatur mineralisasi, termasuk MGP. Secara biologis, hal tersebut memberi alasan untuk meneliti kedua vitamin secara bersamaan: satu berkaitan dengan pembentukan protein, sedangkan yang lain diperlukan dalam pengaktifannya (Daubert dan Blaha, 2026).
Penjelasan ini terdengar menjanjikan, tetapi mekanisme yang masuk akal belum cukup untuk menetapkan manfaat suplementasi. Tubuh bukan rangkaian sederhana dengan satu tombol yang dapat dinyalakan untuk menghasilkan satu efek. Keadaan awal zat gizi, penyakit, obat, dosis, dan proses metabolisme dapat memengaruhi hasil akhir. Karena itu, hipotesis biologis harus diuji pada manusia melalui penelitian yang sesuai (Davis dan Manson, 2026).
DANCODE mencoba membawa gagasan tersebut selangkah lebih jauh. Penelitian ini tidak hanya mengukur kadar vitamin atau protein dalam darah, tetapi juga menilai perubahan kalsifikasi koroner selama dua tahun. Dengan demikian, peneliti dapat memeriksa apakah pengaruh biologis yang diharapkan disertai perubahan yang terlihat pada pencitraan (Hasific et al., 2026).
Apa yang dilakukan dalam penelitian DANCODE?
DANCODE dilaksanakan di tiga rumah sakit Denmark. Peserta direkrut dari pasien yang sebelumnya menjalani CT jantung karena dugaan penyakit arteri koroner. Mereka mempunyai skor CAC sedikitnya 400 satuan Agatston, yang menunjukkan kalsifikasi berat. Jadi, peserta penelitian ini bukan sampel masyarakat sehat yang dipilih secara umum (Hasific et al., 2026).
Analisis penelitian mencakup 398 peserta, dengan median usia 71 tahun. Sekitar 30% adalah perempuan, median skor CAC awal mencapai 903, dan sekitar 44% mempunyai skor sedikitnya 1.000. Karakteristik ini menunjukkan bahwa penelitian dilakukan pada orang dengan beban kalsifikasi yang sudah tinggi, sehingga penerapan hasilnya pada kelompok lain memerlukan kehati-hatian (Hasific et al., 2026).
Peserta mendapat kombinasi vitamin K2 sebanyak 720 mikrogram dan vitamin D3 sebanyak 25 mikrogram, setara dengan 1.000 IU, setiap hari, atau tablet plasebo. Intervensi berlangsung selama 24 bulan. Peserta maupun tim penilai tidak mengetahui pembagian kelompok sampai penelitian selesai. Pemeriksaan CAC dilakukan pada awal penelitian, setelah satu tahun, dan setelah dua tahun (Hasific et al., 2026).
Dosis tersebut merupakan dosis yang diuji dalam penelitian, bukan anjuran suplementasi untuk semua orang. Selain itu, peserta tetap menerima perawatan rutin. Sekitar 86–87% sudah menggunakan statin pada awal penelitian. Dengan demikian, DANCODE menilai tambahan vitamin di atas perawatan yang berjalan, bukan membandingkan vitamin dengan statin atau menguji vitamin sebagai pengganti pengobatan (Daubert dan Blaha, 2026).
Hasil positif yang perlu dibaca dengan tepat
Setelah dua tahun, rata-rata kenaikan skor CAC adalah 248 satuan pada kelompok plasebo dan 196 satuan pada kelompok vitamin. Selisih kenaikan antarkelompok sekitar 52 satuan, dengan interval kepercayaan 95% antara 24 hingga 79 satuan lebih rendah pada kelompok vitamin. Hasil tersebut mendukung adanya perlambatan progresi kalsifikasi pada kelompok intervensi (Hasific et al., 2026).
Jika dibandingkan dengan kenaikan pada kelompok plasebo, selisih itu setara dengan perlambatan sekitar 21%. Namun, angka ini mudah disalahartikan. Penelitian tidak menunjukkan bahwa jumlah pengapuran berkurang 21% dari keadaan awal. Penelitian juga tidak menunjukkan bahwa risiko serangan jantung menurun 21%. Yang lebih kecil adalah pertambahan skor CAC selama masa pengamatan (Hasific et al., 2026).
Skor CAC tetap meningkat pada kedua kelompok. Karena itu, istilah yang paling tepat adalah “memperlambat pertambahan pengapuran”, bukan “menghilangkan pengapuran”, “melarutkan plak”, atau “membersihkan pembuluh darah”. Perbedaan bahasa tersebut menentukan apakah pembaca memahami hasil penelitian atau justru memperoleh harapan yang melampaui bukti (Hasific et al., 2026).
Pada kelompok suplementasi, kadar MGP tidak aktif juga menurun. Temuan ini mendukung bahwa intervensi memengaruhi jalur biologis yang dituju. Meskipun demikian, perubahan penanda tersebut tidak dapat berdiri sendiri sebagai bukti bahwa peserta menjadi lebih terlindungi dari kejadian penyakit jantung (Hasific et al., 2026; Lauer, 2026).
Bagaimana dengan jumlah dan jenis plak?
Sebagian peserta menjalani analisis plak melalui CT angiografi koroner. Analisis ini mencakup 143 peserta dengan citra yang dapat dinilai dan skor CAC awal di bawah 1.000. Kalsifikasi yang sangat luas dapat menyulitkan pengukuran plak secara akurat, sehingga tidak semua peserta dapat dimasukkan dalam analisis tersebut (Hasific et al., 2026).
Pada kelompok ini, pertambahan volume plak berkalsium lebih kecil pada peserta yang menerima vitamin, dengan selisih sekitar 8 milimeter kubik dibandingkan plasebo. Namun, tidak terdapat perbedaan bermakna secara statistik dalam perubahan volume plak total ataupun plak nonkalsifikasi (Hasific et al., 2026).
Hasil tersebut penting karena menunjukkan bahwa perlambatan kalsifikasi tidak disertai bukti peningkatan plak nonkalsifikasi antarkelompok. Akan tetapi, “tidak ditemukan perbedaan” bukan berarti kesamaan telah dibuktikan secara pasti. Jumlah peserta relatif kecil dan merupakan kelompok terpilih, sehingga perbedaan yang bermakna secara klinis belum dapat sepenuhnya disingkirkan (Davis dan Manson, 2026).
Temuan pencitraan ini memberi petunjuk tentang mekanisme, tetapi belum menjawab apakah plak menjadi lebih aman. Menilai keamanan plak memerlukan pemahaman tentang komposisi, kestabilan, dan hubungannya dengan kejadian klinis. Perubahan satu bagian dari plak tidak selalu cukup untuk menggambarkan perubahan keseluruhan risiko (Daubert dan Blaha, 2026).
Mengapa lebih sedikit pertambahan kalsium belum tentu lebih baik?
Pertanyaan ini terdengar berlawanan dengan intuisi. Jika pengapuran berkaitan dengan penyakit, bukankah menghambatnya pasti menguntungkan? Masalahnya, kalsifikasi dapat memiliki makna berbeda menurut tahap dan keadaan plak. Kalsifikasi kecil atau tersebar pada plak yang aktif tidak selalu mempunyai arti yang sama dengan kalsifikasi padat pada plak yang lebih matang (Hasific et al., 2026).
Statin memberi contoh penting. Obat ini terbukti mengurangi kejadian kardiovaskular, tetapi pada keadaan tertentu dapat meningkatkan kepadatan kalsifikasi koroner. Salah satu penjelasannya adalah berkurangnya komponen lipid dan perubahan plak menuju keadaan yang lebih stabil. Dengan demikian, peningkatan kalsifikasi setelah terapi tidak selalu dapat ditafsirkan sebagai kegagalan pengobatan (Daubert dan Blaha, 2026).
Sebaliknya, mengurangi pertambahan kalsium melalui jalur tertentu belum tentu memberikan manfaat yang sama dengan menurunkan LDL atau mengurangi komponen plak yang rentan. Kita perlu mengetahui apakah intervensi memengaruhi proses penyakit yang menyebabkan kejadian klinis, atau terutama mengubah penanda yang terlihat pada pemeriksaan (Lauer, 2026).
Ini bukan bukti bahwa vitamin K2 dan D3 membahayakan plak. Ini adalah alasan mengapa hasil DANCODE belum cukup untuk menyatakan bahwa jantung menjadi lebih aman. Kemungkinan manfaat tetap terbuka, tetapi arah dan besarnya manfaat klinis harus ditentukan melalui penelitian yang memang dirancang untuk menjawabnya (Davis dan Manson, 2026).
Penanda pemeriksaan dan manfaat yang dirasakan pasien
Dalam penelitian, perubahan skor CAC merupakan luaran pencitraan. Sementara itu, serangan jantung, stroke, kematian, atau kebutuhan menjalani tindakan medis merupakan luaran klinis. Keduanya dapat berkaitan, tetapi hubungan tersebut harus dibuktikan untuk intervensi yang sedang diuji (Lauer, 2026).
DANCODE tidak mempunyai ukuran sampel dan jumlah kejadian yang memadai untuk memastikan pengaruh terhadap kejadian kardiovaskular. Selama penelitian, tercatat dua kejadian pada kelompok vitamin dan tiga pada kelompok plasebo. Selisih satu kejadian tidak dapat dijadikan dasar untuk menyatakan vitamin mencegah penyakit jantung, terlebih untuk menghitung klaim persentase manfaat yang meyakinkan (Davis dan Manson, 2026).
Lauer mengingatkan bahwa sejarah kedokteran memuat sejumlah intervensi yang berhasil mengubah penanda, tetapi tidak memperbaiki hasil klinis. Penanda dapat membantu memilih terapi yang layak diteliti lebih lanjut. Namun, keberhasilan pada tahap tersebut belum setara dengan keberhasilan melindungi pasien (Lauer, 2026).
Dari sudut pandang pembaca, pertanyaan yang perlu diajukan sederhana: apa yang sebenarnya membaik? Apakah angka pemeriksaan, gejala, kemampuan beraktivitas, atau risiko mengalami penyakit berat? Pertanyaan ini membantu kita menghargai temuan baru tanpa menyamakan seluruh jenis hasil penelitian.
Apakah manfaat berasal dari K2, D3, atau keduanya?
DANCODE membandingkan kombinasi dua vitamin dengan plasebo. Tidak tersedia kelompok vitamin K2 saja maupun kelompok vitamin D3 saja. Oleh sebab itu, penelitian ini belum dapat memisahkan kontribusi masing-masing komponen atau membuktikan bahwa keduanya memberikan efek sinergis (Davis dan Manson, 2026).
Untuk menjawabnya, peneliti dapat menggunakan desain empat kelompok: plasebo, K2 saja, D3 saja, serta kombinasi keduanya. Desain tersebut membantu menilai efek masing-masing vitamin dan apakah kombinasi menghasilkan pengaruh yang berbeda dari yang diharapkan berdasarkan komponen tunggalnya (Davis dan Manson, 2026).
Kehati-hatian ini relevan karena hasil penelitian vitamin D sebelumnya tidak selalu sesuai dengan harapan biologis. Dalam uji VITAL yang melibatkan 25.871 peserta, vitamin D3 sebanyak 2.000 IU sehari selama median 5,3 tahun tidak menurunkan kejadian kardiovaskular mayor secara bermakna dibandingkan plasebo (Manson et al., 2019).
VITAL tidak menguji kombinasi K2 dan D3 pada pasien dengan kalsifikasi berat sehingga tidak dapat digunakan untuk menolak hasil DANCODE. Namun, penelitian tersebut mengingatkan bahwa fungsi penting vitamin dalam tubuh tidak otomatis berarti suplementasi akan mencegah penyakit pada setiap populasi. Manfaat perlu diuji sesuai bentuk, dosis, kombinasi, dan keadaan pesertanya.
Seberapa kuat dan seberapa terbatas buktinya?
DANCODE mempunyai sejumlah kekuatan: pembagian kelompok dilakukan secara acak, menggunakan plasebo, menerapkan penyamaran, dan menilai CT tanpa mengetahui kelompok perlakuan. Hasil utamanya juga relatif konsisten dalam sejumlah analisis tambahan. Hal ini membuat temuan perlambatan progresi CAC layak diperhatikan (Hasific et al., 2026).
Namun, hasilnya tetap memiliki batas. Pengamatan berlangsung dua tahun, peserta terutama merupakan orang lanjut usia dengan kalsifikasi berat, dan analisis plak hanya mencakup sebagian peserta. Kepatuhan konsumsi tablet dinilai melalui laporan peserta serta didukung perubahan biomarker, tetapi tidak dihitung secara langsung dengan penghitungan tablet (Hasific et al., 2026).
Davis dan Manson juga menyoroti variasi pengukuran skor Agatston ketika beban kalsium sudah tinggi. Catatan ini penting terutama ketika seseorang ingin menafsirkan perubahan hasil CT miliknya sendiri. Perbedaan antarkelompok dalam uji acak tidak dapat langsung diubah menjadi patokan untuk menyatakan keberhasilan terapi pada setiap individu (Davis dan Manson, 2026).
Penelitian memperoleh pendanaan dan dukungan tablet dari industri. Penulis menyatakan bahwa penyandang dana tidak berperan dalam desain, pelaksanaan, analisis, atau keputusan publikasi. Informasi ini perlu disampaikan secara terbuka. Keterlibatan industri tidak otomatis membatalkan hasil, tetapi transparansi dan pengulangan oleh penelitian lain tetap penting (Hasific et al., 2026).
Apa artinya bagi masyarakat dan pasien?
Pesan penelitian ini bukan bahwa setiap orang perlu segera membeli kombinasi vitamin K2 dan D3. Temuannya menunjukkan kemungkinan bahwa jalur kalsifikasi dapat dimodifikasi pada kelompok pasien tertentu. Belum ada bukti dari DANCODE bahwa penggunaan rutin kombinasi tersebut mencegah serangan jantung atau memperpanjang umur (Hasific et al., 2026).
Suplementasi untuk mengatasi kekurangan atau indikasi medis tertentu juga perlu dibedakan dari suplementasi untuk tujuan pencegahan penyakit jantung. Seseorang dapat mempunyai alasan yang sah untuk menerima vitamin, tetapi alasan tersebut tidak boleh diganti dengan klaim perlindungan kardiovaskular yang belum terbukti (Davis dan Manson, 2026).
Perhatian khusus diperlukan pada pengguna warfarin atau obat antagonis vitamin K lainnya. Perubahan asupan vitamin K dapat mengubah efek antikoagulannya. Karena itu, penambahan suplemen harus dibicarakan dengan tenaga kesehatan yang menangani terapi tersebut. DANCODE sendiri mengecualikan pengguna antagonis vitamin K dan menghentikan intervensi pada peserta yang mulai menggunakan obat tersebut selama penelitian (Hasific et al., 2026; NIH Office of Dietary Supplements, tanpa tahun).
Sementara menunggu bukti lanjutan, pengendalian faktor risiko yang telah terbukti tetap menjadi dasar: lipid darah, tekanan darah, diabetes, kebiasaan merokok, serta pola hidup. Ketiga editorial sepakat bahwa temuan tentang vitamin tidak boleh digunakan untuk menggantikan intervensi dengan manfaat klinis yang sudah diketahui (Davis dan Manson, 2026; Daubert dan Blaha, 2026; Lauer, 2026).
Harapan baru yang perlu dilanjutkan dengan pertanyaan tepat
DANCODE merupakan langkah yang berarti. Penelitian ini menunjukkan bahwa kombinasi vitamin K2 dan D3 dapat memperlambat pertambahan kalsifikasi koroner dalam kondisi yang diuji. Temuan tersebut layak menjadi dasar penelitian yang lebih besar, lebih lama, dan berfokus pada kejadian penyakit yang penting bagi pasien (Hasific et al., 2026).
Penelitian berikutnya perlu menjawab siapa yang paling mungkin memperoleh manfaat, apakah vitamin K2 saja sudah cukup, bagaimana perubahan komposisi plak berlangsung, dan apakah perlambatan CAC diikuti penurunan serangan jantung, stroke, atau kematian. Pengukuran efek samping juga perlu dilakukan dalam populasi yang lebih luas dan masa pengamatan lebih panjang (Davis dan Manson, 2026; Lauer, 2026).
Bagi pembaca, kisah ini memberi pelajaran tentang cara menerima kabar kesehatan. Kita dapat mengakui sebuah kemajuan tanpa mengubahnya menjadi janji. Kita juga dapat menyampaikan keterbatasan tanpa menutup kemungkinan manfaat di masa depan.
Vitamin K2 dan D3 membuka pertanyaan baru tentang pengaturan kalsifikasi pembuluh darah. Pengapuran yang bertambah lebih lambat merupakan temuan yang menjanjikan. Namun, kepastian bahwa jantung menjadi lebih aman memerlukan bukti berikutnya—bukti yang menunjukkan bahwa lebih banyak orang benar-benar terhindar dari penyakit, bukan hanya mengalami perubahan pada hasil pemeriksaan.
Daftar pustaka
Daubert, M.A. and Blaha, M.J. (2026) ‘Coronary calcium regression with vitamin supplementation: a therapeutic target or too good to be true?’, Circulation, 154, pp. 1669–1671. https://doi.org/10.1161/CIRCULATIONAHA.126.082640.
Davis, J.W. and Manson, J.E. (2026) ‘Cholecalciferol and menaquinone supplementation: does prevention of coronary artery calcium progression mean heart benefit?’, Circulation, 154, pp. 1666–1668. https://doi.org/10.1161/CIRCULATIONAHA.126.082639.
Hasific, S., Øvrehus, K.A., Mejldal, A., Hosbond, S., Lambrechtsen, J., Kumarathurai, P., Dey, D., Ravn, E.J., Rasmussen, L.M., Gerke, O., Mickley, H. and Diederichsen, A. (2026) ‘Vitamin K2 and D3 supplementation in patients with severe coronary artery calcification: the DANCODE trial’, Circulation, 154, pp. 1656–1665. https://doi.org/10.1161/CIRCULATIONAHA.126.082363.
Lauer, M.S. (2026) ‘Coronary artery calcium (CAC): from marker to treatment target?’, Circulation, 154, pp. 1672–1674. https://doi.org/10.1161/CIRCULATIONAHA.126.082642.
Manson, J.E., Cook, N.R., Lee, I.-M. et al. (2019) ‘Vitamin D supplements and prevention of cancer and cardiovascular disease’, The New England Journal of Medicine, 380, pp. 33–44. https://doi.org/10.1056/NEJMoa1809944.
National Institutes of Health, Office of Dietary Supplements (tanpa tahun) Vitamin K: Fact sheet for health professionals. Tersedia pada: https://ods.od.nih.gov/factsheets/VitaminK-HealthProfessional/ (Diakses: 31 Oktober 2026).






