Karbohidrat dan Penuaan Sehat: Mengapa Tidak Semua Karbohidrat Sama?
Hadi Riyadi
Nasi, roti, buah, dan minuman manis sama-sama mengandung karbohidrat. Namun, apakah semuanya memberikan pengaruh yang sama terhadap kesehatan? Pertanyaan ini sering terlupakan ketika pembicaraan tentang makanan berhenti pada anjuran “kurangi karbohidrat”.
Bagi kebanyakan orang, mengurangi karbohidrat identik dengan menjaga berat badan, mengendalikan gula darah, bahkan memperpanjang usia. Padahal, karbohidrat hadir dalam makanan yang sangat beragam. Ada yang dikonsumsi bersama serat dan berbagai zat gizi, ada pula yang terutama memberikan energi dari gula atau pati dengan sedikit serat.
Penelitian terbaru mengarahkan perhatian pada pertanyaan yang lebih bermakna: karbohidrat seperti apa yang kita makan, dan bagaimana kebiasaan tersebut berkaitan dengan kesehatan ketika usia bertambah?
Menariknya, penelitian tahun 2025 (Ardisson Korat et al., 2025) menunjukkan bahwa konsumsi sumber karbohidrat berkualitas pada usia pertengahan berhubungan dengan kondisi kesehatan yang lebih baik pada usia lanjut. Temuan ini memberi alasan untuk menilai kembali kebiasaan menyamaratakan semua karbohidrat sebagai sesuatu yang perlu dihindari.
Menua sehat memiliki arti yang lebih luas
Bayangkan dua orang yang sama-sama mencapai usia 75 tahun. Seseorang masih dapat berjalan, berbelanja, dan menikmati kegiatan bersama keluarga. Sementara itu, orang lainnya menghadapi keterbatasan fisik dan berbagai masalah kesehatan. Usia mereka sama, tetapi pengalaman menjalani usia lanjut dapat berbeda.
Karena itu, penelitian tentang penuaan semakin memperhatikan kualitas hidup, bukan hanya lamanya hidup. Dalam penelitian gizi, penuaan sehat dapat mencakup kelangsungan hidup hingga usia tertentu, terbebas dari penyakit kronis utama, serta terjaganya fungsi fisik, kemampuan kognitif, dan kesehatan mental.
Definisi penelitian ini cukup ketat. Seseorang yang tidak memenuhi seluruh kriterianya tetap dapat memiliki kehidupan yang bermakna dan kualitas hidup yang baik. Ukuran tersebut digunakan untuk membandingkan kelompok, bukan untuk memberi label keberhasilan atau kegagalan seseorang dalam menua.
Apa yang ditemukan penelitian tahun 2025?
Ardisson Korat dan kolega (2025) menganalisis 47.513 perempuan dalam Nurses’ Health Study. Pola makan pada usia pertengahan dinilai menggunakan kuesioner, kemudian dihubungkan dengan kesehatan sekitar tiga dekade berikutnya. Sebanyak 3.706 peserta memenuhi definisi penuaan sehat yang digunakan.
Konsumsi karbohidrat dari biji-bijian utuh, buah, sayuran, dan kacang-kacangan, serta asupan serat yang lebih tinggi, berhubungan dengan hasil yang lebih baik. Sebaliknya, kelompok karbohidrat olahan menunjukkan hubungan yang kurang menguntungkan.
Setiap kenaikan 10 poin persentase energi dari karbohidrat berkualitas berhubungan dengan odds penuaan sehat yang 31% lebih tinggi. Angka ini bukan tambahan peluang sebesar 31 poin persentase, bukan perpanjangan umur 31%, dan bukan bukti bahwa menambahkan karbohidrat akan memberikan hasil yang sama pada setiap orang (Ardisson Korat et al., 2025).
Pesan pentingnya terletak pada sumber karbohidrat. Penelitian tersebut tidak memberikan alasan untuk makan karbohidrat tanpa batas, tetapi menguatkan pentingnya memilih sumbernya dengan cermat.
Apa yang dimaksud dengan karbohidrat berkualitas?
Istilah “berkualitas” merujuk pada karakteristik makanan secara keseluruhan. Kita perlu memperhatikan kandungan serat, sumber pangan, serta zat gizi lain yang menyertainya.
WHO menganjurkan agar karbohidrat terutama diperoleh dari biji-bijian utuh, sayuran, buah, dan kacang-kacangan. Pendekatan ini memudahkan masyarakat memilih makanan tanpa harus menghitung setiap jenis molekul karbohidrat (WHO, 2023).
Biji-bijian utuh masih mempertahankan bagian utama bijinya, termasuk lapisan luar dan lembaga. Contohnya oat dan beras pecah kulit. Buah utuh juga berbeda dari minuman berpemanis: keduanya dapat mengandung gula, tetapi buah menyediakan air, serat, dan zat gizi lain dalam struktur pangan yang berbeda.
Karena itu, istilah “karbohidrat sederhana” dan “karbohidrat kompleks” saja belum cukup untuk menentukan mutu makanan. Pati dalam produk tepung yang sangat halus tetap termasuk karbohidrat kompleks secara kimia, tetapi produk tersebut belum tentu kaya serat. Sebaliknya, keberadaan gula alami dalam buah tidak membuat buah utuh setara dengan minuman manis.
Penilaian yang lebih berguna adalah melihat makanan yang benar-benar dimakan, bukan hanya nama kelompok karbohidratnya.
Serat: bagian yang sering tertinggal dalam pembicaraan
Ketika orang menghitung karbohidrat, perhatian biasanya tertuju pada jumlah gram atau kalorinya. Serat sering kurang diperhatikan, padahal bukti kesehatannya cukup kuat.
Reynolds dan kolega (2019) menggabungkan 185 penelitian prospektif dan 58 uji klinis. Konsumsi serat yang lebih tinggi berhubungan dengan risiko lebih rendah untuk sejumlah penyakit kronis dan kematian. Dalam uji klinis, peningkatan serat juga memberikan perbaikan pada beberapa faktor risiko, termasuk berat badan, tekanan darah sistolik, dan kolesterol total.
Kajian ini memang bukan publikasi terbaru, tetapi tetap penting karena menggabungkan bukti observasional dan intervensi. Hasilnya membantu menjelaskan mengapa kualitas karbohidrat mendapat perhatian dalam pedoman berikutnya (Reynolds et al., 2019).
Serat juga menghubungkan makanan dengan lingkungan usus. Sebagian serat dapat dimanfaatkan mikroorganisme usus, sehingga pengaruh makanan tidak berhenti pada penyerapan glukosa. Meski demikian, hubungan biologis tersebut tidak boleh langsung diubah menjadi janji bahwa suatu makanan berserat pasti memperlambat penuaan.
Apakah cukup melihat indeks glikemik?
Indeks glikemik menggambarkan respons kenaikan glukosa darah setelah mengonsumsi makanan yang mengandung sejumlah karbohidrat tersedia, dibandingkan dengan makanan acuan. Informasi ini berguna, tetapi tidak mewakili seluruh kualitas pangan.
Dalam menyusun pedoman karbohidrat, WHO mempertimbangkan indeks glikemik, beban glikemik, daya cerna pati, serat, dan sumber makanan. WHO kemudian menekankan serat serta kelompok pangan yang manfaat kesehatannya lebih konsisten (WHO, 2023).
Artinya, memilih makanan tidak perlu berubah menjadi perlombaan mencari angka indeks glikemik paling rendah. Kandungan serat, porsi, komposisi menu, dan kebutuhan orang yang mengonsumsinya tetap perlu diperhatikan. Klaim “indeks glikemik rendah” pada kemasan juga tidak dapat menggantikan penilaian terhadap keseluruhan produk.
Bagaimana dengan diet rendah karbohidrat?
Penelitian tentang kualitas karbohidrat tidak berarti bahwa setiap pola makan rendah karbohidrat buruk. Pertanyaannya adalah makanan apa yang dikurangi dan apa yang menggantikannya.
Liu dan kolega (2023) meneliti 123.332 orang dari tiga kohort. Pola makan rendah karbohidrat yang menekankan protein nabati, lemak sehat, dan sumber karbohidrat berkualitas berhubungan dengan kenaikan berat badan yang lebih kecil dalam jangka panjang. Pola rendah karbohidrat dengan mutu makanan yang kurang baik tidak menunjukkan hubungan yang sama.
Penelitian ini bersifat observasional dan menilai perubahan berat badan, bukan penuaan sehat secara langsung. Pola makan yang diamati juga tidak dapat disamakan begitu saja dengan diet ketogenik yang sangat rendah karbohidrat (Liu et al., 2023).
Temuan tersebut mengingatkan bahwa label diet belum cukup. Mengurangi minuman manis sambil mempertahankan buah dan kacang-kacangan berbeda dari menghilangkan berbagai makanan berserat kemudian menggantinya dengan makanan yang miskin serat.
Kesehatan usia lanjut dibentuk oleh keseluruhan pola makan
Karbohidrat tidak bekerja sendirian. Penelitian Tessier dan kolega (2025) dalam Nature Medicine menganalisis 105.015 perempuan dan laki-laki dengan pengamatan hingga 30 tahun.
Kepatuhan yang lebih tinggi terhadap beberapa pola makan sehat berhubungan dengan peluang menua sehat yang lebih besar. Pola tersebut umumnya mencakup buah, sayuran, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, dan lemak tidak jenuh; sebagian juga mencakup pangan hewani tertentu dalam jumlah yang sesuai (Tessier et al., 2025).
Ada catatan penting terhadap penelitian ini. Penelitian ini dan penelitian karbohidrat sebelumnya sama-sama menggunakan sebagian data Nurses’ Health Study. Keduanya saling melengkapi, tetapi tidak boleh dihitung sebagai bukti yang sepenuhnya independen.
Secara praktis, temuan tersebut mendukung penyusunan menu yang seimbang. Menambah makanan berserat perlu berjalan bersama kecukupan protein, lemak, energi, dan zat gizi lainnya.
Apakah masyarakat Indonesia harus berhenti makan nasi?
Penelitian tersebut tidak menguji kewajiban berhenti makan nasi pada masyarakat Indonesia. Karena itu, hasilnya tidak tepat diterjemahkan menjadi larangan universal terhadap makanan pokok tertentu.
Pendekatan yang lebih realistis adalah memperbaiki komposisi makan secara bertahap. Sebagai contoh, seseorang dapat mengurangi minuman berpemanis, lebih sering memilih buah utuh, menambah sayuran dan kacang-kacangan, serta mencoba mengganti sebagian biji-bijian olahan dengan pilihan utuh yang disukai dan terjangkau.
WHO merekomendasikan sedikitnya 25 gram serat alami dari makanan per hari untuk orang dewasa. Ini merupakan berat serat, bukan berat sayuran atau buah. Angka tersebut adalah sasaran kesehatan masyarakat, bukan dosis khusus untuk mencegah penuaan (WHO, 2023).
Penerapannya dapat dilakukan melalui kebiasaan sederhana:
• Menyediakan sayuran dan sumber protein dalam menu makan utama.
• Memilih buah utuh lebih sering daripada minuman manis.
• Menggunakan kacang-kacangan sebagai bagian menu, bukan hanya pelengkap sesekali.
• Membandingkan kandungan serat dan gula pada produk kemasan.
• Menyesuaikan porsi makanan pokok dengan kebutuhan energi dan aktivitas.
Contoh tersebut merupakan penerapan prinsip kualitas pangan. Penelitian di Amerika Serikat belum membuktikan bahwa satu menu lokal tertentu dapat menjamin penuaan sehat.
Apa yang belum dapat disimpulkan?
Sebagian besar bukti langsung tentang karbohidrat dan penuaan sehat berasal dari penelitian observasional. Orang dengan pola makan lebih baik mungkin juga lebih aktif, memiliki akses pelayanan kesehatan lebih baik, atau menjalani kebiasaan lain yang memengaruhi hasil.
Penyesuaian statistik membantu mengurangi pengaruh tersebut, tetapi tidak dapat menghilangkannya sepenuhnya. Penilaian makanan melalui kuesioner juga memiliki keterbatasan. Selain itu, hasil pada kelompok tenaga kesehatan di Amerika Serikat belum tentu memiliki besaran hubungan yang sama pada masyarakat Indonesia.
Karena itu, makanan berkualitas tidak boleh dipromosikan sebagai jaminan bebas penyakit atau cara untuk kembali muda. Penuaan dipengaruhi banyak hal, dan orang yang mengalami penyakit tidak berarti gagal menjaga makanannya.
Namun, bukti yang tersedia memberi arah yang berguna: memperbaiki kualitas sumber karbohidrat merupakan langkah yang layak diperhatikan sejak usia pertengahan, bahkan lebih awal.
Pertanyaan di meja makan pun dapat berubah. Kita tidak hanya bertanya, “Berapa banyak nasi yang harus dikurangi?”, tetapi juga, “Sudah cukupkah serat, beragamkah sumber pangan, dan bagaimana susunan menu sehari-hari?”
Penuaan sehat dibangun melalui kebiasaan yang dapat dijalankan terus-menerus. Dalam kebiasaan tersebut, karbohidrat dari makanan yang dipilih dengan baik tetap memiliki tempat.
Daftar pustaka
Ardisson Korat, A.V., Duscova, E., Shea, M.K., Jacques, P.F., Sebastiani, P., Wang, M., Mahdavi, S., Eliassen, A.H., Willett, W.C. and Sun, Q. (2025) ‘Dietary carbohydrate intake, carbohydrate quality, and healthy aging in women’, JAMA Network Open, 8(5), e2511056. https://doi.org/10.1001/jamanetworkopen.2025.11056.
Liu, B., Hu, Y., Rai, S.K., Wang, M., Hu, F.B. and Sun, Q. (2023) ‘Low-carbohydrate diet macronutrient quality and weight change’, JAMA Network Open, 6(12), e2349552. https://doi.org/10.1001/jamanetworkopen.2023.49552.
Reynolds, A., Mann, J., Cummings, J., Winter, N., Mete, E. and Te Morenga, L. (2019) ‘Carbohydrate quality and human health: A series of systematic reviews and meta-analyses’, The Lancet, 393(10170), pp. 434–445. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(18)31809-9.
Tessier, A.-J., Wang, F., Ardisson Korat, A., Eliassen, A.H., Chavarro, J., Grodstein, F., Li, J., Liang, L., Willett, W.C., Sun, Q., Stampfer, M.J., Hu, F.B. and Guasch-Ferré, M. (2025) ‘Optimal dietary patterns for healthy aging’, Nature Medicine, 31, pp. 1644–1652. https://doi.org/10.1038/s41591-025-03570-5.
World Health Organization (2023) Carbohydrate intake for adults and children: WHO guideline. Geneva: World Health Organization. ISBN 978-92-4-007359-3. https://www.who.int/publications/i/item/9789240073593.







