Laman

Saturday, October 24, 2026

Niat Baik Saja Tidak Cukup: Tiga Kisah Etika Penelitian Gizi

Hadi Riyadi

Keterangan gambar: Ilustrasi tiga pelajaran etika penelitian gizi—persetujuan peserta, perlindungan kelompok rentan, dan independensi ilmiah. Gambar dibuat dengan AI sebagai ilustrasi simbolis, bukan dokumentasi tokoh atau peristiwa nyata.

        Semangkuk nasi, segelas susu, dan sesendok gula tampak jauh dari persoalan etika. Namun, ketika makanan menjadi bagian dari penelitian, muncul pertanyaan yang menyangkut hak manusia: apakah orang mengetahui apa yang sedang diteliti? Apakah kebutuhan mereka tetap diutamakan? Apakah kesimpulan yang dibaca masyarakat disusun secara independen?
        Tiga kisah tentang Golden Rice, eksperimen gizi di Kanada, dan keterlibatan industri gula memperlihatkan bahwa penelitian gizi dapat menghadapi persoalan pada tahap yang berbeda. Persoalan dapat muncul saat meminta persetujuan, menentukan perlakuan terhadap peserta, atau menafsirkan bukti. Ketiganya memiliki konteks dan dasar bukti yang berbeda, tetapi mengajarkan hal yang sama: tujuan memperbaiki kesehatan harus diwujudkan melalui proses yang dapat dipercaya.
        Golden Rice membawa harapan untuk menyediakan beta-karoten, bahan yang dapat diubah tubuh menjadi vitamin A, melalui beras. Dalam penelitian pada anak di Tiongkok, peneliti menguji seberapa baik beta-karoten tersebut dimanfaatkan tubuh. Artikel penelitian terbit pada 2012 di The American Journal of Clinical Nutrition, lalu ditarik pada 2015 (American Society for Nutrition, 2015).
        Pemberitahuan penarikan menyebut tiga persoalan: bukti persetujuan komite etik lokal yang tidak memadai sesuai ketentuan yang berlaku, tidak tersedianya dokumentasi yang membuktikan bahwa seluruh orang tua atau anak memperoleh formulir persetujuan lengkap, serta masalah kelayakan dua peserta. Alasan tersebut perlu dibaca secara tepat. Penarikan artikel karena persoalan etik tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa Golden Rice berbahaya (American Society for Nutrition, 2015).
        Bagi orang tua, penjelasan penelitian harus membantu mereka memahami apa yang akan diberikan kepada anak, kegiatan yang harus dijalani, serta risiko dan ketidakpastiannya. Persetujuan bukan sekadar lembar bertanda tangan. Penjelasan perlu disampaikan dengan bahasa yang dapat dipahami, disertai kesempatan bertanya dan kebebasan menolak. Dalam penelitian anak, izin orang tua juga perlu dilengkapi persetujuan anak sesuai kemampuan pemahamannya (World Medical Association, 2024).
        Pelajaran Golden Rice terasa dekat dengan penelitian pangan fungsional, fortifikasi, dan suplementasi. Harapan menghasilkan produk yang bermanfaat dapat membuat peneliti terlalu berfokus pada hasil. Padahal, peserta memiliki hak untuk memahami prosesnya, termasuk ketika peneliti sangat yakin bahwa intervensinya menjanjikan.
        Kisah kedua membawa kita ke Kanada pada 1942–1952. Berdasarkan penelitian arsip, sejarawan Ian Mosby mengungkap serangkaian penelitian gizi pada masyarakat Indigenous atau masyarakat adat, termasuk anak-anak di enam sekolah berasrama. Sejumlah eksperimen dilakukan pada orang yang telah mengalami kekurangan gizi, tampaknya tanpa pengetahuan atau persetujuan mereka yang memadai (Mosby, 2013). 
        Situasinya menyedihkan: peneliti mengenali kelaparan dan masalah kesehatan, tetapi kondisi tersebut sekaligus dipandang sebagai kesempatan untuk mempelajari intervensi gizi. Dalam sebagian eksperimen, perbaikan makanan atau pelayanan dibatasi agar pengamatan penelitian tidak terganggu. Mosby menempatkan praktik tersebut dalam konteks kebijakan kolonial dan ketimpangan kekuasaan yang membatasi kendali masyarakat atas kehidupan mereka sendiri (Mosby, 2013).
        Kasus ini mengajukan pertanyaan yang sulit dihindari: ketika peneliti menemukan anak yang kekurangan gizi, apa yang harus lebih dahulu dilakukan? Kebutuhan memperoleh kelompok pembanding tidak boleh membuat penderitaan dianggap sebagai kondisi yang perlu dipertahankan demi data. Rancangan yang tampak rapi secara metodologis tetap dapat bermasalah apabila mengabaikan kebutuhan dasar peserta.
        Pelajaran tersebut tetap relevan untuk penelitian anemia, stunting, atau kekurangan zat gizi. Sejak menyusun protokol, peneliti perlu menentukan tindakan ketika menemukan peserta yang membutuhkan pertolongan. Pemilihan kelompok kontrol harus mempertimbangkan pelayanan yang semestinya tersedia, bukan hanya kemudahan menunjukkan perbedaan antarkelompok. Perlindungan juga perlu disertai pelibatan komunitas agar penelitian menjawab kebutuhan mereka (World Medical Association, 2024).
        Kisah ketiga berlangsung melalui dokumen, pendanaan, dan publikasi. Pada 2016, Cristin Kearns, Laura Schmidt, dan Stanton Glantz menerbitkan analisis dokumen internal industri gula. Mereka melaporkan bahwa Sugar Research Foundation mendanai sebuah tinjauan mengenai penyakit jantung, menetapkan tujuan, menyumbangkan artikel untuk dipertimbangkan, dan menerima draf tulisan. Pendanaan serta perannya tidak diungkapkan dalam publikasi tersebut (Kearns, Schmidt dan Glantz, 2016). 
        Menurut analisis itu, tinjauan tersebut menekankan lemak dan kolesterol sebagai faktor pangan dalam penyakit jantung, sementara bukti mengenai kemungkinan peran gula diberi bobot lebih kecil. Temuan ini menunjukkan bahwa pengaruh sponsor dapat bekerja melalui cara bukti dipilih dan diceritakan, bukan hanya melalui perubahan angka penelitian (Kearns, Schmidt dan Glantz, 2016).
        Kasus ini tidak membuktikan bahwa semua penelitian yang didanai industri keliru. Temuan sejarah tersebut juga tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa gula adalah satu-satunya penyebab penyakit jantung atau bahwa lemak jenuh tidak perlu diperhatikan. Pelajaran utamanya menyangkut independensi: pembaca perlu mengetahui siapa yang mendanai penelitian dan sejauh mana sponsor terlibat.
        Bagi mahasiswa, kasus industri gula memperluas makna kejujuran ilmiah. Menulis tinjauan pustaka menuntut kesediaan membahas bukti yang mendukung maupun yang melemahkan pendapat sendiri. Sebuah tulisan dapat menyesatkan meskipun setiap angka yang dikutip benar, apabila bukti yang tidak sesuai sengaja diabaikan.
        Ketiga kisah tersebut memberi pegangan praktis bagi penelitian gizi. Sebelum mengumpulkan data, peneliti perlu memastikan peserta memahami kegiatan dan bebas menentukan pilihan. Selama penelitian, kebutuhan kesehatan peserta harus tetap diperhatikan. Ketika menganalisis dan menulis hasil, peneliti perlu menjaga agar kepentingan pribadi maupun sponsor tidak menentukan kesimpulan.
        Etika tumbuh melalui keputusan sehari-hari: meluangkan waktu untuk menjelaskan, menindaklanjuti masalah kesehatan, mencatat perubahan protokol, mengungkapkan pendanaan, dan melaporkan hasil yang tidak sesuai harapan. Kebiasaan tersebut membantu menjaga hubungan antara ilmu pengetahuan dan orang-orang yang memungkinkan penelitian berlangsung.
        Ilmu gizi berusaha menjawab bagaimana makanan dapat memperbaiki kehidupan. Cara memperoleh jawabannya harus mencerminkan tujuan itu. Di balik setiap sampel, hasil pemeriksaan, dan angka dalam tabel, ada manusia yang berhak diperlakukan dengan jujur dan bermartabat.

Referensi
American Society for Nutrition (2015) ‘Retraction of Tang G, Hu Y, Yin S-a, Wang Y, Dallal GE, Grusak MA, and Russell RM. β-Carotene in Golden Rice is as good as β-carotene in oil at providing vitamin A to children. Am J Clin Nutr 2012;96:658–64’, The American Journal of Clinical Nutrition, 102(3), p. 715. https://doi.org/10.3945/ajcn.114.093229.

Kearns, C.E., Schmidt, L.A. and Glantz, S.A. (2016) ‘Sugar industry and coronary heart disease research: A historical analysis of internal industry documents’, JAMA Internal Medicine, 176(11), pp. 1680–1685. https://doi.org/10.1001/jamainternmed.2016.5394.

Mosby, I. (2013) ‘Administering colonial science: Nutrition research and human biomedical experimentation in Aboriginal communities and residential schools, 1942–1952’, Histoire sociale/Social History, 46(91), pp. 145–172. https://doi.org/10.1353/his.2013.0015.

World Medical Association (2024) ‘Declaration of Helsinki: Ethical principles for medical research involving human participants’. Tersedia pada: https://www.wma.net/policies-post/wma-declaration-of-helsinki/.


Thursday, October 22, 2026

 Kopi, Teh, dan Daya Ingat: Benarkah Membantu Melindungi Otak?

Hadi Riyadi

Keterangan gambar: Ilustrasi menikmati kopi dan teh sambil membaca dan berbincang, sebagai pengantar pembahasan hubungan konsumsi minuman tersebut dengan daya ingat dan kesehatan otak. Gambar dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI); tokoh dan suasana bersifat ilustratif, bukan dokumentasi individu atau peserta penelitian sebenarnya.

Secangkir kopi pada pagi hari atau teh hangat pada sore hari merupakan bagian dari keseharian banyak orang. Minuman ini menemani percakapan, pekerjaan, dan waktu beristirahat. Ketika muncul berita bahwa kopi dan teh berkaitan dengan risiko demensia yang lebih rendah, pertanyaan pun timbul: apakah kebiasaan sederhana ini benar-benar dapat membantu menjaga daya ingat?
Jawabannya menarik, tetapi belum sesederhana “minum kopi agar tidak pikun”. Penelitian terbaru memberikan petunjuk tentang kemungkinan manfaatnya, sekaligus mengingatkan bahwa menjaga kesehatan otak tidak dapat diserahkan kepada satu jenis minuman.

Penelitian besar membawa kabar yang menjanjikan

Studi Zhang dan rekan-rekan yang diterbitkan dalam JAMA pada Februari 2026 mengikuti 131.821 peserta dari dua kelompok tenaga kesehatan di Amerika Serikat, dengan masa pengamatan hingga 43 tahun. Selama pengamatan, tercatat 11.033 kasus demensia. Konsumsi kopi berkafein yang lebih tinggi berkaitan dengan risiko demensia sekitar 18% lebih rendah secara relatif dibandingkan konsumsi terendah. Ini bukan berarti risiko setiap orang turun sebesar 18 poin persentase.

Hubungan yang paling menguntungkan terlihat pada sekitar dua sampai tiga cangkir kopi berkafein atau satu sampai dua cangkir teh sehari. Perbedaan kemampuan berpikir dan mengingat juga ditemukan, tetapi besarnya relatif kecil. Kopi tanpa kafein tidak menunjukkan hubungan serupa secara jelas. Temuan ini merupakan hubungan statistik, bukan bukti bahwa kopi atau teh secara langsung mencegah demensia (Zhang et al., 2026).

Mengapa hasil penelitian belum seragam?

Pada bulan yang sama, Mazzoleni dan rekan-rekan menerbitkan meta-analisis, yaitu penelitian yang menggabungkan hasil sejumlah studi. Kajian ini mencakup sepuluh penelitian dengan lebih dari 450.000 peserta. Hasilnya menunjukkan hubungan konsumsi teh dengan risiko demensia yang lebih rendah. Namun, manfaat kopi dalam jumlah sedang belum tampak meyakinkan, sedangkan konsumsi tinggi menunjukkan kemungkinan peningkatan risiko.

Kajian tersebut menelusuri penelitian hingga Desember 2025, sehingga belum mencakup studi JAMA yang terbit pada Februari 2026. Artinya, keduanya tidak menilai kumpulan bukti yang persis sama. Perbedaan populasi, ukuran cangkir, kebiasaan konsumsi, serta cara menentukan demensia juga perlu diperhatikan ketika membandingkan hasil. Temuan mengenai konsumsi tinggi pun belum membuktikan bahwa kopi menyebabkan demensia (Mazzoleni et al., 2026).

Perbedaan hasil seperti ini merupakan bagian wajar dari perkembangan ilmu. Satu penelitian dapat memperkuat dugaan, sedangkan penelitian lain memperlihatkan batas-batasnya. Karena itu, judul berita yang menyebut kopi sebagai “pencegah pikun” melangkah lebih jauh daripada kesimpulan yang dapat ditarik dari bukti tersebut.

Merasa lebih segar berbeda dengan perlindungan jangka panjang

Kafein dapat membantu meningkatkan kewaspadaan dengan menghambat kerja adenosin, zat yang berperan dalam munculnya rasa kantuk. Inilah salah satu alasan seseorang merasa lebih siap bekerja setelah minum kopi. Namun, merasa lebih waspada selama beberapa jam berbeda dari terhindar dari penurunan daya ingat selama bertahun-tahun.

Perbedaan ini penting karena efek yang segera terasa sering dianggap sebagai tanda perlindungan jangka panjang. Padahal, penelitian tentang kewaspadaan, hasil tes daya ingat, dan kejadian demensia menjawab pertanyaan yang berbeda. Seseorang dapat merasa lebih segar tanpa berarti proses penyakit di otaknya berubah.

Ada pula sisi yang perlu diperhatikan: kafein dapat mengganggu tidur. Dalam uji acak silang pada 23 laki-laki, Gardiner dan rekan-rekan menemukan bahwa dosis 400 mg dapat mengganggu tidur meskipun dikonsumsi hingga 12 jam sebelumnya. Peserta tidak selalu menyadari perubahan kualitas tidurnya. Karena penelitian ini kecil dan hanya melibatkan laki-laki, hasilnya tidak dapat diterapkan secara seragam kepada semua orang (Gardiner et al., 2025).

Bagaimana menikmati kopi dan teh secara bijak?

Temuan tentang demensia belum menjadi alasan bagi orang yang tidak biasa minum kopi untuk mulai mengonsumsinya. Bagi penikmat kopi atau teh, yang lebih masuk akal adalah memperhatikan jumlah, waktu minum, dan respons tubuh. Tidak perlu menambah konsumsi hanya karena berharap memperoleh perlindungan otak yang lebih besar.

Kandungan kafein tidak sama pada setiap cangkir. Jenis produk, ukuran sajian, dan cara penyeduhan dapat membuat perbedaannya cukup besar. Karena itu, menghitung jumlah cangkir saja belum tentu menggambarkan banyaknya kafein yang masuk.

Kafein berlebihan dapat menimbulkan sulit tidur, rasa gelisah, atau jantung berdebar. Kepekaan tiap orang berbeda, termasuk karena kondisi kesehatan dan penggunaan obat. Orang yang sedang hamil, menyusui, atau memiliki kondisi tertentu perlu membicarakan pembatasan kafein dengan tenaga kesehatan. Respons tubuh sendiri tetap perlu diperhatikan meskipun orang lain merasa nyaman dengan jumlah yang sama. medlineplus.gov

Perlindungan otak memerlukan kebiasaan yang lebih luas

Laporan Komisi Lancet tahun 2024 menempatkan pencegahan demensia dalam pendekatan sepanjang kehidupan. Faktor yang dapat diperbaiki mencakup kurangnya aktivitas fisik, merokok, tekanan darah tinggi, diabetes, kolesterol LDL tinggi, serta keterasingan sosial. Gangguan pendengaran dan penglihatan yang tidak ditangani juga mendapat perhatian (Livingston et al., 2024).

Pesannya dekat dengan kehidupan sehari-hari: tetap bergerak, menjaga hubungan sosial, dan mengelola kondisi kesehatan merupakan bagian penting dari upaya merawat otak. Kebiasaan minum kopi atau teh dapat ditempatkan dalam pola hidup tersebut, sesuai kesukaan dan toleransi masing-masing.

Secangkir kopi atau teh boleh menjadi teman membaca, berbincang, dan menikmati hari. Penelitian terbaru memberi alasan untuk terus mengkaji manfaatnya, tetapi belum memberikan jaminan pencegahan demensia. Harapan yang paling masuk akal adalah menikmati minuman ini secara wajar sambil tetap merawat kesehatan tubuh secara menyeluruh.

Daftar pustaka

Gardiner, C.L., Weakley, J., Burke, L.M. et al. (2025) ‘Dose and timing effects of caffeine on subsequent sleep: a randomized clinical crossover trial’, Sleep, 48(4), zsae230. https://doi.org/10.1093/sleep/zsae230.

Livingston, G., Huntley, J., Liu, K.Y. et al. (2024) ‘Dementia prevention, intervention, and care: 2024 report of the Lancet standing Commission’, The Lancet, 404(10452), pp. 572–628. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(24)01296-0.

Mazzoleni, E., Malavolti, M., Rossetti, A., Mazzoli, R., Vinceti, M. and Filippini, T. (2026) ‘Coffee and tea consumption and risk of dementia: a dose-response meta-analysis of cohort and cohort-nested case-control studies’, Journal of Epidemiology and Population Health, 74(1), 203168. https://doi.org/10.1016/j.jeph.2026.203168.

National Library of Medicine (n.d.) ‘Caffeine’, MedlinePlus. Tersedia pada: https://medlineplus.gov/caffeine.html (Diakses: 17 Oktober 2026).

Zhang, Y., Liu, Y., Li, Y. et al. (2026) ‘Coffee and tea intake, dementia risk, and cognitive function’, JAMA, 335(11), pp. 961–974. https://doi.org/10.1001/jama.2025.27259.

Saturday, October 17, 2026

Probiotik untuk Atlet: Perlukah untuk Mendukung Kesehatan dan Performa?

Hadi Riyadi


Keterangan gambar: Ilustrasi konsultasi gizi untuk mengenali pemicu kembung dan nyeri perut serta menyesuaikan pola makan dengan toleransi individu. Gambar dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI); tokoh dan situasi yang ditampilkan bersifat ilustratif, bukan dokumentasi pasien sebenarnya.

        Probiotik adalah mikroorganisme hidup yang, jika diberikan dalam jumlah memadai, memberikan manfaat kesehatan. Istilah “bakteri baik” sering digunakan agar mudah dipahami, tetapi tidak semua mikroorganisme memiliki kemampuan yang sama. Manfaatnya dapat berbeda hingga tingkat strain, yaitu kelompok khusus dalam satu spesies mikroorganisme. Karena itu, keberhasilan satu strain dalam penelitian tidak otomatis berlaku untuk semua produk yang mencantumkan kata “probiotik” pada kemasannya (Jäger et al., 2019).
        Mengapa usus mendapat perhatian dalam olahraga? Saat latihan berat atau berkepanjangan, terutama dalam cuaca panas, aliran darah menuju saluran pencernaan dapat berkurang. Bersamaan dengan tekanan fisik dan perubahan fungsi pencernaan, keadaan ini dapat memicu mual, kram, atau diare. Akan tetapi, keluhan tersebut memiliki banyak penyebab. Jumlah makanan, waktu makan, minuman yang digunakan, dan toleransi individu perlu diperiksa sebelum menyimpulkan bahwa atlet membutuhkan suplemen tertentu (Costa et al., 2025).
        Salah satu bidang penelitian probiotik adalah kesehatan saluran pernapasan. Meta-analisis oleh Łagowska dan Bajerska (2021) menemukan manfaat terhadap penurunan skor keparahan gejala infeksi saluran pernapasan atas pada atlet. Temuan ini menjanjikan, tetapi tidak berarti semua produk dapat mencegah pilek atau membuat atlet kebal terhadap infeksi. Penurunan keparahan gejala juga berbeda dengan pembuktian bahwa seseorang lebih jarang tertular penyakit.
        Bagi atlet, manfaat kesehatan dapat memiliki arti praktis. Keluhan yang lebih ringan mungkin membantu menjaga keteraturan latihan. Namun, manfaat tidak langsung seperti ini perlu dibedakan dari peningkatan kecepatan lari, kekuatan, atau hasil pertandingan. Seorang atlet yang merasa lebih nyaman setelah mengonsumsi probiotik belum tentu mengalami peningkatan kapasitas fisik akibat suplemen tersebut. Perubahan latihan, tidur, dan pola makan dapat ikut memengaruhi hasil.
        Untuk gangguan pencernaan akibat olahraga, bukti yang tersedia justru mengajak kita berhati-hati. Pernyataan bersama Sports Dietitians Australia dan Ultra Sports Science Foundation tahun 2025 menyimpulkan bahwa probiotik yang telah diteliti belum menunjukkan pengaruh yang konsisten dan bermakna terhadap kerusakan lapisan usus, kebocoran penghalang usus, maupun gejala pencernaan saat berolahraga. Ada penelitian yang melaporkan manfaat, tetapi hasil keseluruhannya belum mendukung penggunaan probiotik sebagai solusi umum untuk semua keluhan perut atlet (Costa et al., 2025).
        Bagaimana dengan performa? Meta-analisis terbaru oleh Zhang dan rekan-rekan (2026), yang menggabungkan 21 uji klinis dengan 685 peserta sehat, menemukan peningkatan kecil hingga sedang pada indikator performa secara keseluruhan. Sinyal manfaat paling jelas terlihat pada beberapa indikator daya tahan. Hasil ini menarik, tetapi peserta, strain, dosis, dan cara pengukuran performa berbeda-beda. Peningkatan hasil tes laboratorium juga belum tentu menghasilkan peningkatan prestasi pertandingan dengan besaran yang sama. Penulis tetap menekankan perlunya penelitian yang lebih besar untuk memperjelas rekomendasi (Zhang et al., 2026).
        Klaim tentang pemulihan juga perlu dibaca dengan teliti. Kajian tahun 2025 yang mencakup 19 penelitian dengan 526 atlet menemukan peningkatan IL-10, salah satu protein pengatur respons peradangan. Namun, beberapa penanda peradangan lainnya tidak berubah secara bermakna. Perubahan satu penanda darah belum membuktikan bahwa nyeri otot pasti berkurang atau atlet dapat kembali berlatih lebih cepat. Pemulihan perlu dinilai melalui keluhan, fungsi tubuh, dan kemampuan menjalani latihan, bukan hanya hasil pemeriksaan laboratorium (Aparicio-Pascual et al., 2025).
        Jika probiotik dipertimbangkan, pemilihan produk sebaiknya dimulai dari tujuan yang jelas. Apakah yang ingin diperbaiki adalah keluhan tertentu, atau sekadar mengikuti tren? Label perlu mencantumkan identitas mikroorganisme hingga strain, jumlah mikroorganisme hidup, masa simpan, dan petunjuk penyimpanan. Jumlah mikroorganisme biasanya dinyatakan sebagai colony-forming unit (CFU), yaitu satuan pembentuk koloni. Angka CFU yang besar atau daftar strain yang panjang saja belum cukup untuk menunjukkan bahwa produk sesuai dengan kebutuhan atlet; kecocokan dengan bukti penelitian lebih penting (Jäger et al., 2019).
        Pendekatan praktisnya adalah menetapkan sasaran dan cara evaluasi bersama ahli gizi olahraga atau dokter. Misalnya, atlet mencatat frekuensi keluhan, hari latihan yang terganggu, dan perubahan toleransi pencernaan selama periode penggunaan. Catatan tersebut membantu menilai apakah ada manfaat yang terasa. Hindari mengubah banyak hal sekaligus karena akan sulit mengetahui faktor yang berpengaruh. Produk yang bermanfaat bagi rekan satu tim belum tentu memberikan hasil serupa pada diri sendiri.
        Jadi, probiotik dapat dipertimbangkan sebagai pendukung pada keadaan tertentu, tetapi belum merupakan kebutuhan rutin bagi semua atlet. Bukti terbaru memberi harapan, sekaligus menunjukkan bahwa manfaatnya tidak seragam. Sebelum membeli suplemen, atlet perlu memastikan kebutuhan energi, makanan sehari-hari, cairan, tidur, dan pengaturan latihan sudah diperhatikan. Keputusan menggunakan probiotik akan lebih masuk akal apabila memiliki tujuan jelas, didukung penelitian yang sesuai, dan dievaluasi berdasarkan respons individu.

Referensi

Aparicio-Pascual, D., Clemente-Suárez, V.J., Tornero-Aguilera, J.F. and Rubio-Zarapuz, A. (2025) ‘The effect of probiotic supplementation on cytokine modulation in athletes after a bout of exercise: A systematic review and meta-analysis’, Sports Medicine – Open, 11, 58. https://doi.org/10.1186/s40798-025-00860-7.

Costa, R.J.S., Gaskell, S.K., Henningsen, K., et al. (2025) ‘Sports Dietitians Australia and Ultra Sports Science Foundation joint position statement: A practitioner guide to the prevention and management of exercise-associated gastrointestinal perturbations and symptoms’, Sports Medicine, 55, pp. 1097–1134. https://doi.org/10.1007/s40279-025-02186-6.

Jäger, R., Mohr, A.E., Carpenter, K.C., et al. (2019) ‘International Society of Sports Nutrition position stand: Probiotics’, Journal of the International Society of Sports Nutrition, 16, 62. https://doi.org/10.1186/s12970-019-0329-0.

Łagowska, K. and Bajerska, J. (2021) ‘Probiotic supplementation and respiratory infection and immune function in athletes: Systematic review and meta-analysis of randomized controlled trials’, Journal of Athletic Training, 56(11), pp. 1213–1223. https://doi.org/10.4085/592-20.

Zhang, X., Chang, Z., Zhao, S., Wu, X., Wang, X., Ai, G. and Ning, Z. (2026) ‘Effect of probiotic intake on athletic ability in healthy people: A systematic review and Bayesian meta-analysis’, Frontiers in Nutrition, 13, 1731627. https://doi.org/10.3389/fnut.2026.1731627.


Thursday, October 15, 2026

Berjalan Setelah Makan: Langkah Sederhana untuk Membantu Mengendalikan Gula Darah

Hadi Riyadi

Keterangan gambar: Ilustrasi berjalan santai setelah makan sebagai bagian dari kebiasaan hidup aktif untuk membantu pengendalian gula darah. Gambar dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI); tokoh dan situasi yang ditampilkan bersifat ilustratif, bukan dokumentasi individu atau pasien sebenarnya.
        Setelah makan, banyak orang langsung kembali duduk: bekerja di depan komputer, menonton televisi, atau menikmati percakapan sambil memegang telepon. Padahal, menyisihkan beberapa menit untuk berjalan dapat menjadi kebiasaan sederhana yang bermanfaat. Penelitian menunjukkan bahwa aktivitas setelah makan dapat membantu mengurangi kenaikan gula darah pada kondisi tertentu. Namun, seberapa besar manfaatnya, kapan sebaiknya dilakukan, dan apakah berjalan sepuluh menit sudah cukup?
        Ketika makanan berkarbohidrat dicerna, sebagian hasilnya berupa glukosa yang masuk ke aliran darah. Kenaikan gula darah setelah makan merupakan proses normal. Insulin membantu tubuh menggunakan dan menyimpan glukosa tersebut. Saat berjalan, otot berkontraksi dan membutuhkan energi. Kontraksi ini membantu meningkatkan pengambilan glukosa oleh otot, termasuk melalui mekanisme yang tidak sepenuhnya bergantung pada insulin. Inilah salah satu alasan aktivitas fisik dapat membantu pengendalian gula darah (Kanaley et al., 2022).
        Penelitian Hashimoto dan rekan-rekan yang diterbitkan dalam Scientific Reports pada 2025 memberikan gambaran menarik. Sebanyak 12 orang dewasa muda sehat mengikuti tiga kondisi pada kesempatan berbeda: beristirahat, berjalan sepuluh menit segera setelah minum larutan glukosa, serta berjalan 30 menit yang dimulai 30 menit setelah minum. Larutan tersebut mengandung 75 gram glukosa, dan peserta berjalan dengan kecepatan yang nyaman.
        Kedua kondisi berjalan menghasilkan paparan gula darah selama dua jam yang lebih rendah dibandingkan beristirahat. Pada kondisi berjalan sepuluh menit, puncak gula darah juga lebih rendah dibandingkan kondisi istirahat. Temuan ini memperlihatkan bahwa aktivitas singkat dapat memberikan efek yang terukur. Namun, penelitian tersebut tidak membuktikan bahwa berjalan sepuluh menit selalu lebih baik daripada berjalan 30 menit, karena waktu mulai dan durasinya berbeda sekaligus (Hashimoto et al., 2025).
        Keterbatasan penelitian itu perlu diperhatikan. Pesertanya sedikit, masih muda, dan tidak menderita diabetes. Mereka juga meminum larutan glukosa, bukan menyantap makanan campuran seperti nasi, ikan, sayur, dan buah. Makanan sehari-hari mengandung protein, lemak, dan serat yang dapat memengaruhi kecepatan pencernaan. Karena itu, hasilnya merupakan bukti awal yang menjanjikan, bukan jaminan bahwa setiap orang akan memperoleh penurunan gula darah yang sama. 
        Bagaimana pada pasien diabetes tipe 2? Studi TREx tahun 2025 memberikan hasil yang lebih beragam. Sebanyak 14 peserta menjalani empat kondisi yang menggabungkan rentang waktu makan delapan atau 12 jam, dengan atau tanpa berjalan setelah makan. Aktivitasnya berupa berjalan selama 15 menit dengan intensitas yang ditetapkan peneliti, dimulai 45 menit setelah makan. Makanan peserta distandardisasi, kemudian gula darah dan insulin diamati selama 14 jam.
        Hasilnya, berjalan setelah makan menurunkan paparan insulin selama pengamatan, tetapi tidak menghasilkan perubahan bermakna pada paparan gula darah 14 jam. Memperpendek rentang waktu makan juga tidak memberikan manfaat tambahan yang jelas terhadap gula darah dalam percobaan tersebut. Penurunan insulin tidak dapat disamakan dengan penurunan gula darah. Penelitian ini menunjukkan bahwa respons tubuh bergantung pada kondisi peserta, rancangan aktivitas, dan ukuran hasil yang digunakan (Bravo-Garcia et al., 2025).
        Gambaran lebih luas diperoleh dari kajian sistematis dan meta-analisis Engeroff, Groneberg, dan Wilke (2023). Secara keseluruhan, olahraga setelah makan lebih mendukung pengendalian kenaikan gula darah sesaat dibandingkan olahraga sebelum makan atau tidak berolahraga. Analisis tersebut juga menunjukkan bahwa jarak waktu antara makan dan aktivitas ikut memengaruhi hasil. Meskipun demikian, belum ada satu waktu mulai yang pasti paling baik untuk semua orang, semua menu, dan semua bentuk aktivitas.
        Dalam kehidupan sehari-hari, pendekatan yang realistis adalah mencoba berjalan ringan sekitar sepuluh menit setelah salah satu waktu makan, apabila kondisi tubuh memungkinkan. Pilih lintasan datar dan kecepatan yang nyaman. Berjalan dapat dilakukan di halaman, koridor kantor, atau sekitar rumah. Tidak perlu langsung mengejar langkah cepat atau membuat napas terengah-engah. Jika perut terasa sangat penuh, sesuaikan waktu mulai dan kenyamanan, bukan memaksakan diri mengikuti angka menit tertentu.
        Kebiasaan ini lebih mudah dipertahankan jika dikaitkan dengan rutinitas yang sudah ada. Misalnya, setelah merapikan meja makan, ajak anggota keluarga berjalan sebentar. Di kantor, gunakan sebagian waktu setelah makan siang untuk mengelilingi koridor. Contoh-contoh ini merupakan cara menerapkan kebiasaan bergerak, bukan jaminan besarnya penurunan gula darah. Keberhasilan awal dapat dinilai dari keteraturan melakukannya dan berkurangnya waktu duduk.
Penting pula membedakan manfaat sesaat dari manfaat jangka panjang. Gula darah yang lebih rendah selama dua jam setelah satu kali makan belum membuktikan penurunan HbA1c, yaitu gambaran rata-rata gula darah sekitar dua sampai tiga bulan. Temuan tersebut juga belum membuktikan pencegahan komplikasi diabetes. Untuk menilai manfaat berkelanjutan, diperlukan penelitian lebih lama dan kebiasaan yang benar-benar dipertahankan.
        Pedoman American Diabetes Association tahun 2026 tetap menempatkan aktivitas fisik teratur sebagai bagian penting pengelolaan diabetes. Sebagian besar orang dewasa dengan diabetes dianjurkan mencapai sedikitnya 150 menit aktivitas aerobik intensitas sedang hingga berat per minggu, sesuai kemampuan dan kondisi kesehatan. Duduk berkepanjangan juga perlu diselingi gerakan setidaknya setiap 30 menit. Jalan ringan setelah makan dapat menjadi tambahan yang berguna, sementara latihan kebugaran tetap perlu diperhatikan.
        Bagi pengguna insulin atau obat tertentu seperti sulfonilurea, aktivitas fisik dapat meningkatkan risiko gula darah terlalu rendah. Rencana berjalan dan pemantauan gula darah sebaiknya disesuaikan bersama tenaga kesehatan, terutama jika pernah mengalami hipoglikemia. Jangan mengubah dosis obat sendiri.
Berjalan setelah makan menawarkan langkah awal yang sederhana untuk lebih aktif. Manfaatnya tidak perlu dibesar-besarkan agar layak dilakukan. Dengan pola makan yang sesuai, pengobatan bila diperlukan, dan aktivitas teratur, beberapa menit berjalan dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan metabolik sehari-hari.

Referensi
American Diabetes Association Professional Practice Committee for Diabetes (2026) ‘5. Facilitating positive health behaviors and well-being to improve health outcomes: Standards of Care in Diabetes—2026’, Diabetes Care, 49(Suppl. 1), pp. S89–S131. https://doi.org/10.2337/dc26-S005.

Bravo-Garcia, A.P., Radford, B.E., Hall, R.C., et al. (2025) ‘Combined effects of time-restricted eating and exercise on short-term blood glucose management in individuals with Type 2 Diabetes Mellitus: The TREx study, a randomised controlled trial’, Diabetes Research and Clinical Practice, 222, 112081. https://doi.org/10.1016/j.diabres.2025.112081.

Engeroff, T., Groneberg, D.A. and Wilke, J. (2023) ‘After dinner rest a while, after supper walk a mile? A systematic review with meta-analysis on the acute postprandial glycemic response to exercise before and after meal ingestion in healthy subjects and patients with impaired glucose tolerance’, Sports Medicine, 53(4), pp. 849–869. https://doi.org/10.1007/s40279-022-01808-7.

Hashimoto, K., Dora, K., Murakami, Y., et al. (2025) ‘Positive impact of a 10-min walk immediately after glucose intake on postprandial glucose levels’, Scientific Reports, 15, 22662. https://doi.org/10.1038/s41598-025-07312-y.

Kanaley, J.A., Colberg, S.R., Corcoran, M.H., et al. (2022) ‘Exercise/physical activity in individuals with type 2 diabetes: A consensus statement from the American College of Sports Medicine’, Medicine & Science in Sports & Exercise, 54(2), pp. 353–368. https://doi.org/10.1249/MSS.0000000000002800.






Wednesday, October 14, 2026

Kasus Havasupai: Pentingnya Persetujuan dalam Penelitian

Hadi Riyadi

Keterangan gambar: Ilustrasi simbolis kasus Havasupai yang menekankan pentingnya persetujuan, penghormatan terhadap masyarakat adat, dan kepercayaan dalam penelitian. Dibuat menggunakan AI; bukan foto tokoh atau dokumentasi peristiwa sebenarnya.

        Bayangkan seseorang bersedia memberikan darahnya karena ingin membantu peneliti memahami penyakit yang banyak menyerang keluarganya. Bertahun-tahun kemudian, ia mengetahui bahwa darah tersebut juga digunakan untuk meneliti penyakit jiwa dan asal-usul leluhurnya, tanpa penjelasan yang ia pahami sebelumnya. Ia mungkin merasa kecewa, marah, dan kehilangan kepercayaan. Persoalannya bukan hanya untuk apa darah itu digunakan, tetapi juga siapa yang berhak menentukan penggunaannya.
        Situasi itulah yang menjadi inti kasus Havasupai, sebuah komunitas masyarakat adat Amerika Serikat yang tinggal di kawasan Grand Canyon, Arizona. Kisah ini dibahas dalam buku On Being a Scientist: A Guide to the Responsible and Ethical Conduct of Research, edisi keempat, sebagai pelajaran tentang hubungan antara penelitian, persetujuan, dan kepercayaan masyarakat (National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine, 2026). Kasus tersebut memperlihatkan bahwa kecakapan ilmiah harus berjalan bersama tanggung jawab terhadap orang-orang yang memungkinkan penelitian berlangsung.

Harapan untuk memahami diabetes
        Kisah ini bermula pada 1989, ketika anggota masyarakat Havasupai meminta bantuan peneliti Arizona State University (ASU) untuk memahami tingginya kejadian diabetes di komunitas mereka. Hubungan dengan universitas sebenarnya telah terbangun cukup lama melalui kegiatan seorang antropolog, John Martin. Hubungan tersebut menjadi dasar kepercayaan ketika penelitian mengenai kemungkinan faktor genetik diabetes mulai direncanakan.
        Pengambilan darah dilakukan pada awal 1990-an. Bagi masyarakat yang berpartisipasi, memberikan sampel merupakan bagian dari usaha mencari jawaban atas masalah kesehatan yang mereka hadapi. Mereka berharap penelitian dapat menghasilkan pengetahuan yang berguna bagi keluarga dan komunitasnya.
        Namun, sampel tersebut kemudian digunakan pula dalam penelitian mengenai skizofrenia, hubungan kekerabatan biologis atau inbreeding, serta migrasi manusia. Pada 2003, Carletta Tilousi, seorang anggota Havasupai, menghadiri ujian disertasi dan mempertanyakan bagaimana persetujuan pemilik sampel diperoleh. Peristiwa ini menjadi titik penting terbukanya persoalan penggunaan darah di luar penelitian diabetes (Arizona Court of Appeals, 2008).

Mengapa tanda tangan tidak cukup?
        Pusat persoalannya adalah perbedaan antara apa yang tertulis dalam formulir dan apa yang dipahami oleh peserta. Formulir persetujuan menggunakan ungkapan luas tentang penelitian penyebab gangguan perilaku atau medis. Peneliti memandang rumusan tersebut mencakup beragam penelitian, sedangkan anggota masyarakat memahami bahwa darah mereka diberikan untuk penelitian diabetes (Sterling, 2011).
        Perbedaan ini menunjukkan arti penting informed consent, atau persetujuan setelah penjelasan. Persetujuan merupakan proses komunikasi agar seseorang memahami kegiatan yang akan dilakukan, kemungkinan risiko dan manfaatnya, serta pilihan yang tersedia. Tanda tangan merupakan dokumentasi dari proses tersebut; keberadaannya tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa pemahaman telah tercapai.
        Dalam kasus Havasupai, pertanyaan etik yang mendasar ialah apakah peserta benar-benar mengetahui dan menyetujui penggunaan darahnya untuk tujuan lain. Jika penjelasan yang mereka terima berpusat pada diabetes, kalimat yang sangat luas dalam formulir tidak otomatis menyelesaikan kesenjangan pemahaman tersebut (Sterling, 2011). 

Darah memiliki makna yang melampaui laboratorium
        Di laboratorium, darah dapat dipandang sebagai bahan biologis yang mengandung informasi genetik. Bagi pemberinya, darah juga dapat memiliki makna pribadi, keluarga, budaya, dan spiritual. Perbedaan cara memandang ini perlu dipahami sebelum penelitian dimulai.
Menurut uraian dalam buku On Being a Scientist, penelitian migrasi yang menggunakan sampel Havasupai menghasilkan penjelasan tentang asal-usul leluhur dari Asia. Penjelasan tersebut bertentangan dengan keyakinan Havasupai bahwa masyarakat mereka berasal dari Grand Canyon. Penelitian mengenai skizofrenia dan inbreeding juga menyentuh persoalan sensitif yang dapat memengaruhi bagaimana komunitas dipandang oleh orang lain (National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine, 2026).
        Menghormati budaya tidak berarti peneliti harus menyesuaikan hasil ilmiah dengan suatu kepercayaan. Tanggung jawabnya adalah menjelaskan tujuan penelitian secara jujur, menghormati keputusan masyarakat mengenai partisipasi, dan mempertimbangkan dampak sosial dari penelitian tersebut. Kebebasan mengembangkan pengetahuan tidak menghapus kewajiban untuk memperoleh akses terhadap sampel secara etis.
        Kasus ini juga membantu kita memahami bahwa risiko penelitian dapat melampaui rasa sakit akibat pengambilan darah. Rasa dikhianati, kekhawatiran terhadap stigma, dan terganggunya hubungan dengan lembaga penelitian merupakan dampak yang perlu diperhitungkan.

Penyelesaian sengketa dan batas maknanya
        Pada April 2010, sengketa diselesaikan melalui kesepakatan yang mencakup pembayaran sebesar US$700.000 kepada 41 anggota Havasupai. Kesepakatan juga mencakup pengembalian sampel darah serta bantuan pendidikan dan dukungan untuk memperoleh pendanaan bagi fasilitas kesehatan. Pengembalian sampel memiliki arti penting karena berkaitan dengan penghormatan terhadap kehendak para pemberinya (Mello dan Wolf, 2010; Sterling, 2011).
        Ada satu rincian yang perlu diperjelas ketika menceritakan hasil kasus ini. Pernyataan bahwa perkara tersebut tidak menghasilkan preseden hukum perlu dibatasi pada pokok sengketa mengenai penggunaan sampel dan persetujuan. Pengadilan banding Arizona sudah mengeluarkan putusan pada 2008 mengenai persoalan prosedural gugatan. Akan tetapi, penyelesaian melalui kesepakatan pada 2010 membuat pokok sengketanya tidak berakhir dengan putusan akhir pengadilan yang menentukan batas persetujuan untuk penggunaan sekunder sampel (Arizona Court of Appeals, 2008; Garrison, 2013).

Kepercayaan yang rusak memengaruhi penelitian berikutnya
        Kesepakatan dapat mengakhiri sengketa, tetapi membangun kembali kepercayaan membutuhkan waktu lebih panjang. Pengalaman satu komunitas dapat memengaruhi cara komunitas lain menilai tawaran penelitian. Kekhawatiran yang muncul cukup masuk akal: apakah peneliti akan menggunakan sampel sesuai penjelasan awal, dan apakah masyarakat akan tetap memiliki suara setelah sampel dibawa ke laboratorium?
        Penelitian Garrison (2013), melalui wawancara dengan peneliti genetika dan ketua komite etik, menemukan bahwa tanggapan terhadap kasus Havasupai tidak seragam. Sebagian responden tidak melihat pengaruh langsung terhadap pekerjaannya. Pada sebagian lainnya, tanggapan yang muncul berupa keinginan memperoleh persetujuan yang lebih luas atau menghindari penelitian dengan masyarakat adat. Temuan ini menunjukkan bahwa perhatian terhadap sengketa belum tentu menghasilkan hubungan penelitian yang lebih baik.
Menghindari masyarakat yang dianggap “sulit” juga dapat menimbulkan persoalan keadilan. Komunitas yang sudah kurang terwakili dalam penelitian berisiko semakin jauh dari kesempatan memperoleh manfaatnya. Karena itu, perbaikan perlu diarahkan pada cara membangun kemitraan dan berbagi kewenangan, bukan sekadar melindungi institusi dari gugatan (Garrison, 2013).

Melibatkan masyarakat sejak merancang penelitian
        Salah satu langkah yang dapat dilakukan ialah melibatkan calon peserta dan perwakilan masyarakat dalam penyusunan penjelasan penelitian. Mereka dapat membantu menunjukkan istilah yang membingungkan, kekhawatiran yang belum dibahas, dan penggunaan sampel yang dianggap sensitif.
        Skinner et al. (2015) menggunakan prinsip penelitian partisipatif berbasis masyarakat untuk mengembangkan materi perekrutan dan persetujuan dalam penelitian genomik. Pendekatan tersebut menempatkan pandangan masyarakat sebagai masukan bagi penyusunan dokumen yang lebih mudah dipahami. Dengan demikian, peneliti tidak hanya menilai kejelasan formulir dari sudut pandangnya sendiri.
        Pendekatan serupa dikembangkan oleh De Sutter et al. (2022) dalam perancangan persetujuan elektronik. Pelibatan peserta membantu mengidentifikasi kebutuhan informasi dan bentuk komunikasi berkelanjutan dengan tim penelitian. Pelajarannya adalah bahwa mengganti kertas dengan layar belum cukup. Teknologi perlu mendukung pemahaman dan komunikasi, bukan hanya mempermudah pengumpulan tanda tangan. Kedua penelitian ini memberikan contoh pendekatan perbaikan; keduanya bukan penelitian yang secara langsung menguji pemulihan kepercayaan masyarakat Havasupai.
        Pada tahun 2024 di dalam Deklarasi Helsinki 2024 memperkuat kedudukan peserta sebagai pihak yang memiliki suara dalam penelitian, termasuk sejak tahap perencanaan.  Oleh karena itu Deklarasi Helsinki 2024 telah mengganti istilah human subjects menjadi human participants, yang dapat diterjemahkan sebagai “partisipan penelitian” atau “peserta penelitian”. Peneliti harus memfasilitasi calon partisipan, partisipan terdaftar, dan komunitas mereka untuk membagikan prioritas serta nilai-nilai mereka; berpartisipasi dalam perancangan penelitian, implementasi, dan kegiatan Relevan lainnya; serta terlibat dalam memahami dan menyebarluaskan hasil penelitian.

Kewenangan masyarakat juga perlu dihormati
        Dalam konteks masyarakat adat Amerika Serikat, hubungan penelitian melibatkan pula kewenangan pemerintahan suku. Karena itu, persetujuan individu dan kewenangan komunitas perlu diperhatikan sesuai konteksnya. Izin dari pemimpin komunitas tidak seharusnya menghapus kebebasan individu untuk menolak, sementara persetujuan individu tidak membuat kepentingan dan kewenangan komunitas menjadi tidak relevan.  Contohnya adalah Navajo Nation Human Research Review Board, yang menjalankan kewenangan untuk mengatur dan mengawasi penelitian di wilayah Navajo. Namun, kronologinya perlu dijelaskan dengan tepat: badan ini dibentuk pada Maret 1996, sehingga tidak tepat menyebut pembentukannya sebagai akibat langsung dari terungkapnya kasus Havasupai pada 2003 atau penyelesaian sengketanya pada 2010. Keberadaannya menunjukkan bahwa upaya masyarakat adat mengendalikan penelitian memiliki sejarah yang lebih luas daripada satu kasus saja.

Pelajaran bagi mahasiswa dan peneliti
        Bagi penelitian gizi dan kesehatan, pelajaran Havasupai sangat relevan. Bayangkan darah dikumpulkan untuk menilai anemia, kemudian akan digunakan untuk penelitian genetik yang berbeda. Sebelum melanjutkan, peneliti perlu memeriksa isi persetujuan, penjelasan yang telah diberikan kepada peserta, dan persyaratan penelaahan etik. Keberadaan sampel di lemari penyimpanan tidak dengan sendirinya memberikan kewenangan untuk menggunakannya bagi setiap pertanyaan penelitian.
Sebagai penerapan pelajaran kasus ini, beberapa pertanyaan berikut layak diajukan sejak perencanaan:
• Apakah peserta memahami tujuan penelitian dengan kata-katanya sendiri?
• Apakah penyimpanan dan kemungkinan penggunaan sampel pada masa depan sudah dijelaskan?
• Apakah batas penggunaan, pembagian kepada pihak lain, dan pilihan peserta telah dibicarakan?
• Apakah penelitian dapat menimbulkan dampak terhadap keluarga atau komunitas, selain terhadap individu?
• Apakah tersedia saluran untuk bertanya, menyampaikan keberatan, dan memperoleh informasi perkembangan penelitian?
        Mahasiswa atau peneliti muda yang menemukan ketidaksesuaian antara penggunaan sampel dan pemahaman peserta perlu memiliki ruang untuk menyampaikan pertanyaan. On Being a Scientist menganjurkan agar persoalan tersebut dibicarakan dengan peneliti senior, komite etik, atau pejabat integritas penelitian. Buku itu juga mengingatkan bahwa persetujuan komite etik telah ada dalam kasus Havasupai. Artinya, dokumen dan prosedur harus disertai penghormatan yang nyata dalam pelaksanaannya (National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine, 2026).
        Kasus Havasupai memperlihatkan betapa besar tanggung jawab yang menyertai penerimaan sampel dari manusia. Ketika seseorang memberikan darah untuk penelitian, ia juga mempercayakan harapan dan sebagian informasi tentang dirinya. Kepercayaan tersebut perlu dijaga sepanjang perjalanan penelitian, termasuk ketika muncul pertanyaan ilmiah baru yang tidak dibayangkan pada saat sampel pertama kali dikumpulkan.

Daftar Pustaka
Arizona Court of Appeals (2008) Havasupai Tribe v. Arizona Board of Regents, 220 Ariz. 214, 204 P.3d 1063. Putusan 28 November 2008. Tersedia pada: dokumen putusan pengadilan.
De Sutter, E., Geerts, D., Borry, P., Coteur, K., Bamps, D., Marynissen, H., Ampe, E., Geenens, E., Depré, M. and Huys, I. (2022) ‘Co-creation with research participants to inform the design of electronic informed consent’, Digital Health, 8, 20552076221109068. https://doi.org/10.1177/20552076221109068.
Garrison, N.A. (2013) ‘Genomic justice for Native Americans: Impact of the Havasupai case on genetic research’, Science, Technology, & Human Values, 38(2), pp. 201–223. https://doi.org/10.1177/0162243912470009.
Mello, M.M. and Wolf, L.E. (2010) ‘The Havasupai Indian Tribe case—Lessons for research involving stored biologic samples’, New England Journal of Medicine, 363, pp. 204–207. https://doi.org/10.1056/NEJMp1005203.
National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine (2026) ‘Earning and maintaining trust’, in On Being a Scientist: A Guide to the Responsible and Ethical Conduct of Research. 4th edn. Washington, DC: The National Academies Press. https://doi.org/10.17226/29488/3.1.0.
Navajo Nation Human Research Review Board (tanpa tahun) About NNHRRB. Tersedia pada: https://nnhrrb.navajo-nsn.gov/aboutNNHRRB.html (Diakses: 13 Oktober 2026).
Skinner, H.G., Calancie, L., Vu, M.B., Garcia, B., DeMarco, M., Patterson, C. and Ammerman, A. (2015) ‘Using community-based participatory research principles to develop more understandable recruitment and informed consent documents in genomic research’, PLOS ONE, 10(5), e0125466. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0125466.
Sterling, R.L. (2011) ‘Genetic research among the Havasupai: A cautionary tale’, Virtual Mentor, 13(2), pp. 113–117. https://doi.org/10.1001/virtualmentor.2011.13.2.hlaw1-1102.
World Medical Association (2024) WMA Declaration of Helsinki: Ethical Principles for Medical Research Involving Human Participants.









Tuesday, October 13, 2026

 Mengganti Jenis Garam Dapat Mengurangi Risiko Stroke Berulang

Hadi Riyadi

        Setelah mengalami stroke, seseorang dan keluarganya biasanya berusaha memperbaiki banyak kebiasaan, mulai dari minum obat secara teratur hingga memilih makanan sehari-hari. Salah satu perubahan yang tampak sederhana ternyata memiliki dasar ilmiah: mengganti garam biasa dengan garam yang sebagian natriumnya digantikan oleh kalium. Penelitian menunjukkan bahwa langkah ini dapat membantu mengurangi kejadian stroke berulang. Namun, jenis garam dan kondisi kesehatan penggunanya perlu diperhatikan.

Ilustrasi realistis penyintas stroke bersama keluarga saat berkonsultasi tentang garam rendah natrium yang mengandung kalium. Gambar dibuat dengan AI untuk keperluan edukasi.

        Bukti terbaru datang dari penelitian yang diterbitkan dalam JAMA Cardiology pada 2025. Peneliti menganalisis 15.249 orang dengan riwayat stroke dalam Salt Substitute and Stroke Study atau SSaSS, sebuah uji klinis yang dilakukan di 600 desa di Tiongkok. Analisis pada kelompok penyintas stroke ini telah direncanakan sebelumnya. Desa-desa dibagi secara acak untuk menggunakan garam biasa atau garam pengganti yang mengandung 75% natrium klorida dan 25% kalium klorida.

        Selama pengamatan sekitar lima tahun, penggunaan garam pengganti menurunkan laju kejadian stroke berulang secara relatif sebesar 14% dan kematian karena semua penyebab sebesar 12%. Secara absolut, perbedaannya setara dengan sekitar 5,5 kejadian stroke berulang lebih sedikit untuk setiap 1.000 orang yang diikuti selama satu tahun. Angka 14% bukan berarti risiko setiap orang turun sebesar 14 poin persentase, melainkan menunjukkan perbandingan laju kejadian antara kedua kelompok (Ding et al., 2025).

        Temuan tersebut memperluas hasil utama SSaSS yang diterbitkan dalam New England Journal of Medicine pada 2021. Penelitian induk itu melibatkan hampir 21.000 orang yang pernah mengalami stroke atau berusia lanjut dengan tekanan darah tinggi. Penggunaan garam pengganti menghasilkan lebih sedikit kejadian stroke, penyakit kardiovaskular utama, dan kematian. Dengan demikian, publikasi 2025 memberikan penjelasan lebih khusus mengenai manfaat pada orang yang sudah pernah terkena stroke, bukan penelitian baru yang sepenuhnya terpisah (Neal et al., 2021).

        Mengapa perubahan garam dapat berpengaruh? Salah satu penghubung utamanya adalah tekanan darah. Konsumsi natrium berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah, sedangkan tekanan darah tinggi merupakan faktor penting dalam terjadinya stroke. Natrium sendiri tetap dibutuhkan tubuh, tetapi jumlah yang berlebihan menjadi masalah. Mengurangi natrium dari makanan membantu mengurangi salah satu beban pada sistem pembuluh darah.

Garam pengganti mengubah dua hal sekaligus: mengurangi natrium dan menambah kalium. Kalium turut berperan dalam pengaturan tekanan darah. Karena keduanya berubah bersamaan, manfaatnya tidak tepat dikaitkan hanya dengan pengurangan natrium. Pedoman WHO tahun 2025 menjelaskan bahwa kandungan kalium ikut berkontribusi terhadap efek penurunan tekanan darah dari garam pengganti.

Masyarakat perlu mengenali produk yang dimaksud. Garam pengganti dalam penelitian merupakan campuran dengan komposisi mineral tertentu. Karena itu, memilih produk tidak cukup berdasarkan warna, asal, harga, atau tulisan “alami” pada kemasannya. Periksa kandungan natrium dan keberadaan kalium klorida pada label. Garam yang digunakan juga sebaiknya beryodium agar tetap mendukung pemenuhan kebutuhan yodium.

Meski natriumnya lebih rendah, jumlah pemakaiannya tetap harus dibatasi. WHO menganjurkan orang dewasa mengonsumsi kurang dari 2.000 mg natrium per hari, setara dengan kurang dari 5 gram garam biasa, bahkan menurut Institute of Medicine di Amerika ajurannya lebih rendah lagi, yaitu 1.500 mg natrium per hari. Jumlah tersebut mencakup seluruh makanan dan minuman, bukan hanya garam yang ditambahkan saat memasak. Kecap, saus, bumbu instan, makanan asin, dan produk olahan juga dapat menyumbang natrium. Mengganti garam di dapur akan memberi manfaat lebih besar bila disertai perhatian terhadap sumber-sumber tersebut.

Sebagai contoh penerapan sehari-hari, keluarga dapat mulai dengan membaca label bumbu yang paling sering digunakan. Bila suatu masakan sudah memakai kecap atau saus, tambahan garam perlu dipertimbangkan kembali. Aroma bawang, jahe, kunyit, serai, daun jeruk, dan rasa asam dari jeruk nipis dapat membantu membuat masakan tetap menarik ketika rasa asinnya dikurangi. Perubahan bertahap juga memberi kesempatan bagi keluarga untuk menyesuaikan selera.

Namun, garam berkalium tidak cocok digunakan bebas oleh semua orang. Pada orang dengan gangguan ginjal atau kondisi yang menghambat pembuangan kalium, kadarnya dapat meningkat dalam darah dan membahayakan kesehatan. Perhatian khusus juga diperlukan pada pengguna suplemen kalium dan obat yang menahan kalium, seperti kelompok diuretik hemat kalium. Penyintas stroke sebaiknya membicarakan penggantian garam dengan dokter atau dietisien, terutama bila memiliki penyakit ginjal atau menggunakan beberapa obat.

WHO memberikan rekomendasi bersyarat untuk penggantian garam biasa dengan garam rendah natrium yang mengandung kalium pada orang dewasa yang sesuai. Rekomendasi tersebut tidak mencakup anak-anak, ibu hamil, serta orang dengan gangguan pembuangan kalium. Karena masakan sering dimakan bersama, kondisi anggota keluarga lain juga perlu diperhatikan sebelum mengganti seluruh garam rumah tangga (WHO, 2025).

Penggantian garam merupakan bagian dari pencegahan stroke berulang yang lebih luas. Obat yang diresepkan tetap diperlukan sesuai penyebab stroke dan kondisi pasien. Pengendalian tekanan darah, berhenti merokok, pengaturan makanan, aktivitas fisik sesuai kemampuan, dan pemeriksaan berkala tetap penting. Pedoman pencegahan stroke menekankan bahwa penanganan perlu disesuaikan dengan penyebab serangan sebelumnya (American Heart Association 2021).

Bagi penyintas stroke yang sesuai secara medis, mengganti jenis garam dapat menjadi langkah praktis yang dimulai dari dapur keluarga. Manfaatnya dibangun melalui penggunaan yang tepat dan kebiasaan sehari-hari yang konsisten, bersama pengobatan serta pemantauan kesehatan.

Referensi

Ding, X., Zhang, X., Huang, L. et al. (2025) ‘Salt substitution and recurrent stroke and death: A randomized clinical trial’, JAMA Cardiology, 10(4), pp. 343–350. https://doi.org/10.1001/jamacardio.2024.5417.

Neal, B., Wu, Y., Feng, X. et al. (2021) ‘Effect of salt substitution on cardiovascular events and death’, New England Journal of Medicine, 385(12), pp. 1067–1077. https://doi.org/10.1056/NEJMoa2105675.

World Health Organization (2025) Use of lower-sodium salt substitutes: WHO guideline. Geneva: World Health Organization. https://www.who.int/publications/i/item/9789240105591.

World Health Organization (tanpa tahun) ‘Sodium reduction’. Tersedia pada: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/sodium-reduction (Diakses: 3 Oktober 2026).

American Heart Association (2021) ‘Risk of second stroke can be reduced with prevention efforts based on cause of first stroke’. Tersedia pada: American Heart Association.





Thursday, October 8, 2026

 Sayur dan Buah Membantu Melindungi Ginjal pada Pasien Hipertensi

Hadi Riyadi

        Ketika seseorang didiagnosis hipertensi, perhatian biasanya tertuju pada angka tekanan darah dan obat yang harus diminum. Padahal, isi piring juga layak mendapat perhatian. Sayur dan buah yang tersedia di pasar dan meja makan sehari-hari ternyata dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan ginjal. Penelitian menunjukkan bahwa menambah konsumsi keduanya dapat membantu memperlambat penurunan fungsi ginjal pada kelompok pasien hipertensi tertentu, apabila dilakukan bersama pengobatan dan pemantauan yang tepat.

Keterangan gambar: Ilustrasi edukasi pemilihan sayur dan buah dalam pengaturan makan pasien hipertensi. Gambar dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk keperluan ilustrasi; tokoh dan situasi yang ditampilkan bukan dokumentasi pasien sebenarnya.

        Hubungan tekanan darah dan ginjal berlangsung dua arah. Tekanan darah yang terus tinggi dapat merusak pembuluh darah kecil di ginjal sehingga kemampuan organ ini menyaring darah menurun. Sebaliknya, ginjal yang terganggu dapat kesulitan membuang kelebihan cairan, yang kemudian memperberat hipertensi. Karena itu, mengendalikan tekanan darah juga merupakan langkah untuk melindungi ginjal. Kerusakan awal sering tidak menimbulkan keluhan, sehingga pemeriksaan tetap diperlukan meskipun seseorang merasa sehat (NIDDK 2020).

        Bukti menarik datang dari penelitian Goraya dan rekan-rekan yang diterbitkan dalam The American Journal of Medicine pada 2024. Sebanyak 153 pasien hipertensi dengan kebocoran albumin yang tinggi dalam urine dibagi secara acak menjadi tiga kelompok. Mereka memperoleh tambahan sayur dan buah, tablet natrium bikarbonat, atau perawatan biasa. Semua kelompok tetap mendapatkan pengobatan untuk perlindungan ginjal dan jantung. Penelitian berlangsung selama lima tahun, sehingga dapat mengamati perubahan fungsi ginjal secara bertahap.

        Hasilnya, penurunan kemampuan penyaringan ginjal lebih lambat pada kelompok sayur dan buah dibandingkan kelompok perawatan biasa. Rata-rata penurunannya sekitar 1,08 dibandingkan 1,94 mL/menit/1,73 m² per tahun. Angka ini menggambarkan perubahan perkiraan kemampuan ginjal menyaring darah; penurunan yang lebih kecil berarti fungsi ginjal lebih terjaga. Kelompok natrium bikarbonat juga mengalami perlambatan penurunan fungsi ginjal. Temuan tersebut menunjukkan manfaat tambahan intervensi diet di atas pengobatan yang sudah diberikan (Goraya et al., 2024).

        Mengapa sayur dan buah dapat membantu? Salah satu penjelasannya adalah pengurangan beban asam dari makanan. Ketika tubuh mengolah zat gizi, sebagian proses menghasilkan asam yang perlu ditangani, antara lain oleh ginjal. Banyak sayur dan buah menyediakan senyawa yang setelah diolah tubuh membantu menetralkan beban tersebut. Istilah “beban asam” di sini tidak sama dengan rasa masam di lidah, dan tidak berarti seseorang perlu mengubah darah menjadi lebih basa dengan produk tertentu.

        Laporan lanjutan dalam Kidney International Reports tahun 2025 memberikan penjelasan tambahan. Pada peserta dari uji yang sama, penambahan sayur dan buah untuk menurunkan beban asam makanan berkaitan dengan berkurangnya penumpukan asam serta membaiknya sejumlah penanda cedera ginjal. Peserta memiliki hipertensi, tidak menderita diabetes, dan kemampuan penyaringan ginjal yang masih normal, tetapi sudah mengalami kebocoran albumin. Dengan demikian, fungsi penyaringan yang tampak normal belum tentu berarti ginjal sepenuhnya sehat. Laporan ini memperdalam temuan sebelumnya, bukan penelitian terpisah yang menambah jumlah peserta (Goraya et al., 2025).

Manfaat sayur dan buah juga perlu dipandang sebagai bagian dari keseluruhan pola makan. Pola DASH, singkatan dari Dietary Approaches to Stop Hypertension, menekankan sayuran, buah, biji-bijian utuh, serta pilihan sumber protein yang sesuai, sambil membatasi natrium. Penelitian DASH menunjukkan bahwa pola makan tersebut membantu menurunkan tekanan darah. Sayur dan buah menyediakan serat, kalium, dan magnesium, tetapi keberhasilannya tetap dipengaruhi makanan lain yang dikonsumsi. Menambah sayur sambil terus mengonsumsi makanan sangat asin belum merupakan perubahan yang menyeluruh (NHLBI tanpa tahun).

        Penerapannya tidak harus menggunakan bahan mahal. Bagi pasien yang tidak memerlukan pembatasan kalium, langkah awal dapat berupa menyediakan sayur pada makan siang dan malam serta memilih buah utuh sebagai bagian dari selingan. Pilihan dapat disesuaikan dengan musim, anggaran, dan selera keluarga. Cara memasak juga perlu diperhatikan: sayur yang diberi banyak garam, kecap, atau bumbu instan dapat membawa natrium dalam jumlah besar. Bawang, serai, kunyit, dan rempah lain dapat membantu memberikan rasa ketika penggunaan garam dikurangi.

        Namun, anjuran menambah sayur dan buah perlu disesuaikan pada pasien yang fungsi ginjalnya sudah menurun. Sebagian pasien mengalami kesulitan membuang kalium sehingga kadarnya dalam darah meningkat. Dalam keadaan ini, jenis makanan, porsi, cara pengolahan, dan obat yang digunakan perlu ditinjau bersama tenaga kesehatan. Pedoman KDIGO 2024 menganjurkan pengaturan kalium secara individual, terutama pada pasien dengan kadar kalium tinggi atau berisiko mengalaminya. Pedoman tersebut juga menyoroti kalium yang mudah diserap dari pangan olahan; pembatasan tidak seharusnya dilakukan dengan melarang seluruh sayur dan buah tanpa penilaian (KDIGO CKD Work Group, 2024).

        Hasil penelitian ini juga tidak dapat langsung diterapkan pada semua kondisi penyakit ginjal, terutama pasien stadium lanjut atau yang menjalani dialisis. Penelitian utamanya melibatkan kelompok pasien yang dipilih dengan kriteria tertentu. Perlambatan penurunan fungsi ginjal tidak sama dengan penyembuhan, dan belum berarti setiap pasien akan terhindar dari gagal ginjal. Tablet natrium bikarbonat yang digunakan dalam penelitian pun merupakan intervensi medis, bukan anjuran untuk mengonsumsi soda kue sendiri.

        Bagi pasien hipertensi, kebiasaan makan sayur dan buah dapat ditempatkan bersama kepatuhan minum obat, pembatasan garam, aktivitas fisik, serta pemeriksaan berkala. Pemeriksaan kreatinin darah untuk memperkirakan fungsi penyaringan dan albumin urine membantu tenaga kesehatan menilai keadaan ginjal. Pilihan makanan kemudian dapat disesuaikan dengan hasil pemeriksaan tersebut. Perlindungan ginjal dimulai dari kebiasaan sehari-hari, dengan pola makan yang lebih baik dan pengobatan yang berjalan beriringan (KDIGO CKD Work Group, 2024).

Referensi

Goraya, N., Madias, N.E., Simoni, J., Kahlon, M., Aksan, N. and Wesson, D.E. (2024) ‘Kidney and cardiovascular protection using dietary acid reduction in primary hypertension: A five-year, interventional, randomized, control trial’, The American Journal of Medicine, 137(11), pp. 1114–1127.e8. https://doi.org/10.1016/j.amjmed.2024.06.006.

Goraya, N., Madias, N.E., Simoni, J., Kahlon, M., Aksan, N. and Wesson, D.E. (2025) ‘Randomized trial of dietary acid reduction and acid-base status of patients with CKD and normal estimated GFR’, Kidney International Reports, 10(2), pp. 355–374. https://doi.org/10.1016/j.ekir.2024.10.032.

Kidney Disease: Improving Global Outcomes (KDIGO) CKD Work Group (2024) ‘KDIGO 2024 clinical practice guideline for the evaluation and management of chronic kidney disease’, Kidney International, 105(4S), pp. S117–S314. https://doi.org/10.1016/j.kint.2023.10.018. 

National Heart, Lung, and Blood Institute (tanpa tahun) ‘DASH: Health benefits’. Tersedia pada: https://www.nhlbi.nih.gov/health/dash/health-benefits (Diakses: 6 Oktober 2026).

National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK) (2020) ‘High blood pressure & kidney disease’. Ditinjau terakhir Maret 2020. Tersedia pada: https://www.niddk.nih.gov/health-information/kidney-disease/high-blood-pressure (Diakses: 6 Oktober 2026).






Tuesday, October 6, 2026

 Diet Mediterania dan Aktivitas Fisik Membantu Mencegah Diabetes

Hadi Riyadi

        Mencegah diabetes dapat dimulai dari keputusan sederhana: apa yang kita letakkan di piring dan seberapa sering kita bergerak. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa pola makan Mediterania yang disertai pengaturan energi, aktivitas fisik, dan pendampingan perubahan kebiasaan dapat membantu mengurangi kejadian diabetes tipe 2. Temuan ini memberi harapan, terutama bagi orang dengan berat badan berlebih dan gangguan metabolisme.

                                    Gambar dibuat dengan AI untuk keperluan edukasi.

        Diabetes tipe 2 berkembang ketika tubuh tidak lagi menggunakan insulin secara efektif dan kemampuan pankreas menghasilkan insulin tidak mampu memenuhi kebutuhan. Insulin adalah hormon yang membantu mengatur gula darah. Ketika kerjanya terganggu, gula lebih mudah menumpuk dalam darah. Karena proses ini dapat berlangsung perlahan, upaya pencegahan perlu dimulai sebelum seseorang merasakan keluhan.

Bukti dari penelitian terbaru

        Dalam penelitian PREDIMED-Plus yang diterbitkan di Annals of Internal Medicine pada 2025, sebanyak 4.746 orang berusia 55–75 tahun di Spanyol diteliti. Mereka memiliki berat badan berlebih atau obesitas dan sindrom metabolik, tetapi belum mengalami diabetes. Peserta dibagi secara acak menjadi dua kelompok. Kelompok pertama mengikuti diet Mediterania dengan pengurangan energi, peningkatan aktivitas fisik, dan dukungan perubahan perilaku. Kelompok pembanding mendapat anjuran diet Mediterania tanpa pembatasan energi khusus.

        Menurut laporan yang telah dikoreksi, risiko mengalami diabetes selama enam tahun mencapai 10,3% pada kelompok intervensi dan 12,8% pada kelompok pembanding. Selisih sekitar 2,5 poin persentase itu setara dengan sekitar 25 kejadian diabetes lebih sedikit per 1.000 orang selama periode tersebut. Manfaat ini berasal dari keseluruhan program; penelitian tidak dapat memisahkan besarnya pengaruh diet, aktivitas fisik, dan pendampingan (Ruiz-Canela et al., 2025). 

Mengenal pola makan Mediterania

        Pola makan Mediterania mengutamakan sayuran, buah, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, ikan, serta sumber lemak tidak jenuh seperti minyak zaitun. Daging merah, daging olahan, dan makanan manis dikonsumsi lebih terbatas. Pola ini memberi tempat besar bagi pangan nabati yang beragam, dengan perhatian pada kualitas makanan secara keseluruhan.

        Prinsip tersebut sejalan dengan pedoman American Diabetes Association (ADA) tahun 2026. Pedoman ini memasukkan pola makan Mediterania sebagai salah satu pilihan berbasis bukti untuk membantu mencegah diabetes tipe 2 pada orang dengan pradiabetes. Pradiabetes berarti kadar gula darah sudah meningkat, tetapi belum mencapai kriteria diabetes. Pilihan makanan tetap perlu disesuaikan dengan kebiasaan, kebutuhan, dan kondisi masing-masing orang.

        Dalam kehidupan masyarakat Indonesia, prinsipnya dapat diterjemahkan menjadi menu yang akrab dan terjangkau. Contohnya, nasi dengan porsi sesuai kebutuhan, ikan, tempe atau tahu, serta sayuran yang beragam. Buah utuh dapat menjadi pilihan selingan, sedangkan air putih menjadi minuman utama. Nasi merah atau sumber biji-bijian utuh dapat digunakan sesuai selera dan ketersediaan. Ini merupakan contoh adaptasi prinsip makan sehat, bukan menu yang diuji secara persis dalam penelitian Spanyol.

        Cara memasak juga dapat disesuaikan. Ikan pepes, sayur bening, dan tahu kukus, misalnya, memberi pilihan untuk mengurangi kebiasaan menggoreng. Mengganti minuman manis dengan air putih dan mengurangi camilan tinggi energi merupakan langkah lain yang mudah dikenali. WHO menekankan bahwa pola makan sehat dapat disusun berdasarkan pangan lokal dan budaya makan setempat, dengan menjaga keragaman, keseimbangan, serta pembatasan gula bebas, garam, dan lemak yang kurang sehat.

Mengapa aktif bergerak ikut menentukan?

        Aktivitas fisik membantu tubuh menggunakan energi dan mendukung pengaturan gula darah. Karena itu, memperbaiki makanan perlu disertai kebiasaan bergerak. Jalan kaki, bersepeda, berenang, atau kegiatan lain yang disukai dapat menjadi bagian dari rutinitas. WHO menegaskan bahwa aktivitas fisik teratur membantu mencegah diabetes tipe 2 dan berbagai penyakit tidak menular lainnya.

        Pedoman ADA tahun 2026 menganjurkan sedikitnya 150 menit aktivitas fisik intensitas sedang per minggu bagi orang dengan berat badan berlebih yang berisiko tinggi mengalami diabetes. Jumlah tersebut dapat dibagi menjadi sekitar 30 menit pada lima hari dalam seminggu. Bagi orang yang belum terbiasa, durasi dapat ditambah secara bertahap. Memulai dengan kegiatan yang sesuai kemampuan lebih realistis daripada langsung memasang target yang sulit dipertahankan.

        Kebiasaan duduk juga perlu diperhatikan. Seseorang dapat berolahraga pada pagi hari, tetapi kemudian duduk berjam-jam sepanjang hari. Menyelingi pekerjaan dengan berdiri dan berjalan singkat merupakan langkah praktis. Pedoman ADA menyarankan agar duduk berkepanjangan diselingi aktivitas setidaknya setiap 30 menit untuk membantu pengaturan gula darah dan memperoleh manfaat kesehatan lainnya.

Perubahan kecil yang dipertahankan

        Penurunan berat badan tidak harus sangat besar untuk menjadi sasaran awal yang bermakna. ADA menganjurkan penurunan sedikitnya 5–7% dari berat badan awal pada orang dengan berat badan berlebih atau obesitas yang berisiko tinggi mengalami diabetes. Sebagai gambaran, pada berat badan 80 kg, jumlah tersebut sekitar 4–5,6 kg. Sasaran perlu dicapai secara bertahap dan dipertahankan melalui pola makan serta aktivitas yang sesuai.

        Dukungan keluarga dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana: menyediakan buah, menyiapkan sayur, mengurangi pembelian minuman manis, atau menjadwalkan jalan kaki bersama. Menentukan satu atau dua kebiasaan untuk diperbaiki terlebih dahulu juga membuat perubahan terasa lebih terjangkau. Bila seseorang mengalami kesulitan, pendampingan tenaga kesehatan dapat membantu menyusun tujuan yang sesuai kondisi dan rutinitasnya.

        Diet Mediterania dan aktivitas fisik memberi arah yang jelas bagi pencegahan diabetes tipe 2. Pelaksanaannya dapat dimulai dari makanan sehari-hari dan gerakan yang sederhana. Mengisi piring dengan lebih banyak pangan nabati, mengatur porsi, memilih air putih, dan berjalan secara teratur merupakan langkah yang dapat dibangun menjadi kebiasaan jangka panjang.

Referensi

American Diabetes Association Professional Practice Committee for Diabetes (2026) ‘3. Prevention or delay of diabetes and associated comorbidities: Standards of Care in Diabetes—2026’, Diabetes Care, 49(Suppl. 1), pp. S50–S60. https://doi.org/10.2337/dc26-S003.

American Diabetes Association Professional Practice Committee for Diabetes (2026) ‘5. Facilitating positive health behaviors and well-being to improve health outcomes: Standards of Care in Diabetes—2026’, Diabetes Care, 49(Suppl. 1). https://doi.org/10.2337/dc26-S005.

Ruiz-Canela, M., Corella, D., Martínez-González, M.Á., Babio, N., Martínez, J.A., Forga, L. et al. (2025) ‘Comparison of an energy-reduced Mediterranean diet and physical activity versus an ad libitum Mediterranean diet in the prevention of type 2 diabetes: A secondary analysis of a randomized controlled trial’, Annals of Internal Medicine, 178(10), pp. 1378–1389. https://doi.org/10.7326/ANNALS-25-00388. Angka hasil mengacu pada versi yang telah dikoreksi; koreksi resmi.

World Health Organization (2024) ‘Physical activity’, 26 June. Tersedia pada: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/physical-activity.

World Health Organization (tanpa tahun) ‘Healthy diet’. Tersedia pada: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/healthy-diet (Diakses: 3 Oktober 2026).