Kasus Havasupai: Pentingnya Persetujuan dalam Penelitian
Hadi Riyadi
Temukan rahasia gizi disini....
Kasus Havasupai: Pentingnya Persetujuan dalam Penelitian
Hadi Riyadi
Mengganti Jenis Garam Dapat Mengurangi Risiko Stroke Berulang
Hadi Riyadi
Setelah mengalami stroke, seseorang dan keluarganya biasanya berusaha memperbaiki banyak kebiasaan, mulai dari minum obat secara teratur hingga memilih makanan sehari-hari. Salah satu perubahan yang tampak sederhana ternyata memiliki dasar ilmiah: mengganti garam biasa dengan garam yang sebagian natriumnya digantikan oleh kalium. Penelitian menunjukkan bahwa langkah ini dapat membantu mengurangi kejadian stroke berulang. Namun, jenis garam dan kondisi kesehatan penggunanya perlu diperhatikan.
Ilustrasi realistis penyintas stroke bersama keluarga saat berkonsultasi tentang garam rendah natrium yang mengandung kalium. Gambar dibuat dengan AI untuk keperluan edukasi.Bukti terbaru datang dari penelitian yang diterbitkan dalam JAMA Cardiology pada 2025. Peneliti menganalisis 15.249 orang dengan riwayat stroke dalam Salt Substitute and Stroke Study atau SSaSS, sebuah uji klinis yang dilakukan di 600 desa di Tiongkok. Analisis pada kelompok penyintas stroke ini telah direncanakan sebelumnya. Desa-desa dibagi secara acak untuk menggunakan garam biasa atau garam pengganti yang mengandung 75% natrium klorida dan 25% kalium klorida.
Selama pengamatan sekitar lima tahun, penggunaan garam pengganti menurunkan laju kejadian stroke berulang secara relatif sebesar 14% dan kematian karena semua penyebab sebesar 12%. Secara absolut, perbedaannya setara dengan sekitar 5,5 kejadian stroke berulang lebih sedikit untuk setiap 1.000 orang yang diikuti selama satu tahun. Angka 14% bukan berarti risiko setiap orang turun sebesar 14 poin persentase, melainkan menunjukkan perbandingan laju kejadian antara kedua kelompok (Ding et al., 2025).
Temuan tersebut memperluas hasil utama SSaSS yang diterbitkan dalam New England Journal of Medicine pada 2021. Penelitian induk itu melibatkan hampir 21.000 orang yang pernah mengalami stroke atau berusia lanjut dengan tekanan darah tinggi. Penggunaan garam pengganti menghasilkan lebih sedikit kejadian stroke, penyakit kardiovaskular utama, dan kematian. Dengan demikian, publikasi 2025 memberikan penjelasan lebih khusus mengenai manfaat pada orang yang sudah pernah terkena stroke, bukan penelitian baru yang sepenuhnya terpisah (Neal et al., 2021).
Mengapa perubahan garam dapat berpengaruh? Salah satu penghubung utamanya adalah tekanan darah. Konsumsi natrium berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah, sedangkan tekanan darah tinggi merupakan faktor penting dalam terjadinya stroke. Natrium sendiri tetap dibutuhkan tubuh, tetapi jumlah yang berlebihan menjadi masalah. Mengurangi natrium dari makanan membantu mengurangi salah satu beban pada sistem pembuluh darah.
Garam pengganti mengubah dua hal sekaligus: mengurangi natrium dan menambah kalium. Kalium turut berperan dalam pengaturan tekanan darah. Karena keduanya berubah bersamaan, manfaatnya tidak tepat dikaitkan hanya dengan pengurangan natrium. Pedoman WHO tahun 2025 menjelaskan bahwa kandungan kalium ikut berkontribusi terhadap efek penurunan tekanan darah dari garam pengganti.
Masyarakat perlu mengenali produk yang dimaksud. Garam pengganti dalam penelitian merupakan campuran dengan komposisi mineral tertentu. Karena itu, memilih produk tidak cukup berdasarkan warna, asal, harga, atau tulisan “alami” pada kemasannya. Periksa kandungan natrium dan keberadaan kalium klorida pada label. Garam yang digunakan juga sebaiknya beryodium agar tetap mendukung pemenuhan kebutuhan yodium.
Meski natriumnya lebih rendah, jumlah pemakaiannya tetap harus dibatasi. WHO menganjurkan orang dewasa mengonsumsi kurang dari 2.000 mg natrium per hari, setara dengan kurang dari 5 gram garam biasa, bahkan menurut Institute of Medicine di Amerika ajurannya lebih rendah lagi, yaitu 1.500 mg natrium per hari. Jumlah tersebut mencakup seluruh makanan dan minuman, bukan hanya garam yang ditambahkan saat memasak. Kecap, saus, bumbu instan, makanan asin, dan produk olahan juga dapat menyumbang natrium. Mengganti garam di dapur akan memberi manfaat lebih besar bila disertai perhatian terhadap sumber-sumber tersebut.
Sebagai contoh penerapan sehari-hari, keluarga dapat mulai dengan membaca label bumbu yang paling sering digunakan. Bila suatu masakan sudah memakai kecap atau saus, tambahan garam perlu dipertimbangkan kembali. Aroma bawang, jahe, kunyit, serai, daun jeruk, dan rasa asam dari jeruk nipis dapat membantu membuat masakan tetap menarik ketika rasa asinnya dikurangi. Perubahan bertahap juga memberi kesempatan bagi keluarga untuk menyesuaikan selera.
Namun, garam berkalium tidak cocok digunakan bebas oleh semua orang. Pada orang dengan gangguan ginjal atau kondisi yang menghambat pembuangan kalium, kadarnya dapat meningkat dalam darah dan membahayakan kesehatan. Perhatian khusus juga diperlukan pada pengguna suplemen kalium dan obat yang menahan kalium, seperti kelompok diuretik hemat kalium. Penyintas stroke sebaiknya membicarakan penggantian garam dengan dokter atau dietisien, terutama bila memiliki penyakit ginjal atau menggunakan beberapa obat.
WHO memberikan rekomendasi bersyarat untuk penggantian garam biasa dengan garam rendah natrium yang mengandung kalium pada orang dewasa yang sesuai. Rekomendasi tersebut tidak mencakup anak-anak, ibu hamil, serta orang dengan gangguan pembuangan kalium. Karena masakan sering dimakan bersama, kondisi anggota keluarga lain juga perlu diperhatikan sebelum mengganti seluruh garam rumah tangga (WHO, 2025).
Penggantian garam merupakan bagian dari pencegahan stroke berulang yang lebih luas. Obat yang diresepkan tetap diperlukan sesuai penyebab stroke dan kondisi pasien. Pengendalian tekanan darah, berhenti merokok, pengaturan makanan, aktivitas fisik sesuai kemampuan, dan pemeriksaan berkala tetap penting. Pedoman pencegahan stroke menekankan bahwa penanganan perlu disesuaikan dengan penyebab serangan sebelumnya (American Heart Association 2021).
Bagi penyintas stroke yang sesuai secara medis, mengganti jenis garam dapat menjadi langkah praktis yang dimulai dari dapur keluarga. Manfaatnya dibangun melalui penggunaan yang tepat dan kebiasaan sehari-hari yang konsisten, bersama pengobatan serta pemantauan kesehatan.
Referensi
Ding, X., Zhang, X., Huang, L. et al. (2025) ‘Salt substitution and recurrent stroke and death: A randomized clinical trial’, JAMA Cardiology, 10(4), pp. 343–350. https://doi.org/10.1001/jamacardio.2024.5417.
Neal, B., Wu, Y., Feng, X. et al. (2021) ‘Effect of salt substitution on cardiovascular events and death’, New England Journal of Medicine, 385(12), pp. 1067–1077. https://doi.org/10.1056/NEJMoa2105675.
World Health Organization (2025) Use of lower-sodium salt substitutes: WHO guideline. Geneva: World Health Organization. https://www.who.int/publications/i/item/9789240105591.
World Health Organization (tanpa tahun) ‘Sodium reduction’. Tersedia pada: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/sodium-reduction (Diakses: 3 Oktober 2026).
American Heart Association (2021) ‘Risk of second stroke can be reduced with prevention efforts based on cause of first stroke’. Tersedia pada: American Heart Association.
Sayur dan Buah Membantu Melindungi Ginjal pada Pasien Hipertensi
Hadi Riyadi
Ketika seseorang didiagnosis hipertensi, perhatian biasanya tertuju pada angka tekanan darah dan obat yang harus diminum. Padahal, isi piring juga layak mendapat perhatian. Sayur dan buah yang tersedia di pasar dan meja makan sehari-hari ternyata dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan ginjal. Penelitian menunjukkan bahwa menambah konsumsi keduanya dapat membantu memperlambat penurunan fungsi ginjal pada kelompok pasien hipertensi tertentu, apabila dilakukan bersama pengobatan dan pemantauan yang tepat.
Keterangan gambar: Ilustrasi edukasi pemilihan sayur dan buah dalam pengaturan makan pasien hipertensi. Gambar dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk keperluan ilustrasi; tokoh dan situasi yang ditampilkan bukan dokumentasi pasien sebenarnya.Hubungan tekanan darah dan ginjal berlangsung dua arah. Tekanan darah yang terus tinggi dapat merusak pembuluh darah kecil di ginjal sehingga kemampuan organ ini menyaring darah menurun. Sebaliknya, ginjal yang terganggu dapat kesulitan membuang kelebihan cairan, yang kemudian memperberat hipertensi. Karena itu, mengendalikan tekanan darah juga merupakan langkah untuk melindungi ginjal. Kerusakan awal sering tidak menimbulkan keluhan, sehingga pemeriksaan tetap diperlukan meskipun seseorang merasa sehat (NIDDK 2020).
Bukti menarik datang dari penelitian Goraya dan rekan-rekan yang diterbitkan dalam The American Journal of Medicine pada 2024. Sebanyak 153 pasien hipertensi dengan kebocoran albumin yang tinggi dalam urine dibagi secara acak menjadi tiga kelompok. Mereka memperoleh tambahan sayur dan buah, tablet natrium bikarbonat, atau perawatan biasa. Semua kelompok tetap mendapatkan pengobatan untuk perlindungan ginjal dan jantung. Penelitian berlangsung selama lima tahun, sehingga dapat mengamati perubahan fungsi ginjal secara bertahap.
Hasilnya, penurunan kemampuan penyaringan ginjal lebih lambat pada kelompok sayur dan buah dibandingkan kelompok perawatan biasa. Rata-rata penurunannya sekitar 1,08 dibandingkan 1,94 mL/menit/1,73 m² per tahun. Angka ini menggambarkan perubahan perkiraan kemampuan ginjal menyaring darah; penurunan yang lebih kecil berarti fungsi ginjal lebih terjaga. Kelompok natrium bikarbonat juga mengalami perlambatan penurunan fungsi ginjal. Temuan tersebut menunjukkan manfaat tambahan intervensi diet di atas pengobatan yang sudah diberikan (Goraya et al., 2024).
Mengapa sayur dan buah dapat membantu? Salah satu penjelasannya adalah pengurangan beban asam dari makanan. Ketika tubuh mengolah zat gizi, sebagian proses menghasilkan asam yang perlu ditangani, antara lain oleh ginjal. Banyak sayur dan buah menyediakan senyawa yang setelah diolah tubuh membantu menetralkan beban tersebut. Istilah “beban asam” di sini tidak sama dengan rasa masam di lidah, dan tidak berarti seseorang perlu mengubah darah menjadi lebih basa dengan produk tertentu.
Laporan lanjutan dalam Kidney International Reports tahun 2025 memberikan penjelasan tambahan. Pada peserta dari uji yang sama, penambahan sayur dan buah untuk menurunkan beban asam makanan berkaitan dengan berkurangnya penumpukan asam serta membaiknya sejumlah penanda cedera ginjal. Peserta memiliki hipertensi, tidak menderita diabetes, dan kemampuan penyaringan ginjal yang masih normal, tetapi sudah mengalami kebocoran albumin. Dengan demikian, fungsi penyaringan yang tampak normal belum tentu berarti ginjal sepenuhnya sehat. Laporan ini memperdalam temuan sebelumnya, bukan penelitian terpisah yang menambah jumlah peserta (Goraya et al., 2025).
Manfaat sayur dan buah juga perlu dipandang sebagai bagian dari keseluruhan pola makan. Pola DASH, singkatan dari Dietary Approaches to Stop Hypertension, menekankan sayuran, buah, biji-bijian utuh, serta pilihan sumber protein yang sesuai, sambil membatasi natrium. Penelitian DASH menunjukkan bahwa pola makan tersebut membantu menurunkan tekanan darah. Sayur dan buah menyediakan serat, kalium, dan magnesium, tetapi keberhasilannya tetap dipengaruhi makanan lain yang dikonsumsi. Menambah sayur sambil terus mengonsumsi makanan sangat asin belum merupakan perubahan yang menyeluruh (NHLBI tanpa tahun).
Penerapannya tidak harus menggunakan bahan mahal. Bagi pasien yang tidak memerlukan pembatasan kalium, langkah awal dapat berupa menyediakan sayur pada makan siang dan malam serta memilih buah utuh sebagai bagian dari selingan. Pilihan dapat disesuaikan dengan musim, anggaran, dan selera keluarga. Cara memasak juga perlu diperhatikan: sayur yang diberi banyak garam, kecap, atau bumbu instan dapat membawa natrium dalam jumlah besar. Bawang, serai, kunyit, dan rempah lain dapat membantu memberikan rasa ketika penggunaan garam dikurangi.
Namun, anjuran menambah sayur dan buah perlu disesuaikan pada pasien yang fungsi ginjalnya sudah menurun. Sebagian pasien mengalami kesulitan membuang kalium sehingga kadarnya dalam darah meningkat. Dalam keadaan ini, jenis makanan, porsi, cara pengolahan, dan obat yang digunakan perlu ditinjau bersama tenaga kesehatan. Pedoman KDIGO 2024 menganjurkan pengaturan kalium secara individual, terutama pada pasien dengan kadar kalium tinggi atau berisiko mengalaminya. Pedoman tersebut juga menyoroti kalium yang mudah diserap dari pangan olahan; pembatasan tidak seharusnya dilakukan dengan melarang seluruh sayur dan buah tanpa penilaian (KDIGO CKD Work Group, 2024).
Hasil penelitian ini juga tidak dapat langsung diterapkan pada semua kondisi penyakit ginjal, terutama pasien stadium lanjut atau yang menjalani dialisis. Penelitian utamanya melibatkan kelompok pasien yang dipilih dengan kriteria tertentu. Perlambatan penurunan fungsi ginjal tidak sama dengan penyembuhan, dan belum berarti setiap pasien akan terhindar dari gagal ginjal. Tablet natrium bikarbonat yang digunakan dalam penelitian pun merupakan intervensi medis, bukan anjuran untuk mengonsumsi soda kue sendiri.
Bagi pasien hipertensi, kebiasaan makan sayur dan buah dapat ditempatkan bersama kepatuhan minum obat, pembatasan garam, aktivitas fisik, serta pemeriksaan berkala. Pemeriksaan kreatinin darah untuk memperkirakan fungsi penyaringan dan albumin urine membantu tenaga kesehatan menilai keadaan ginjal. Pilihan makanan kemudian dapat disesuaikan dengan hasil pemeriksaan tersebut. Perlindungan ginjal dimulai dari kebiasaan sehari-hari, dengan pola makan yang lebih baik dan pengobatan yang berjalan beriringan (KDIGO CKD Work Group, 2024).
Referensi
Goraya, N., Madias, N.E., Simoni, J., Kahlon, M., Aksan, N. and Wesson, D.E. (2024) ‘Kidney and cardiovascular protection using dietary acid reduction in primary hypertension: A five-year, interventional, randomized, control trial’, The American Journal of Medicine, 137(11), pp. 1114–1127.e8. https://doi.org/10.1016/j.amjmed.2024.06.006.
Goraya, N., Madias, N.E., Simoni, J., Kahlon, M., Aksan, N. and Wesson, D.E. (2025) ‘Randomized trial of dietary acid reduction and acid-base status of patients with CKD and normal estimated GFR’, Kidney International Reports, 10(2), pp. 355–374. https://doi.org/10.1016/j.ekir.2024.10.032.
Kidney Disease: Improving Global Outcomes (KDIGO) CKD Work Group (2024) ‘KDIGO 2024 clinical practice guideline for the evaluation and management of chronic kidney disease’, Kidney International, 105(4S), pp. S117–S314. https://doi.org/10.1016/j.kint.2023.10.018.
National Heart, Lung, and Blood Institute (tanpa tahun) ‘DASH: Health benefits’. Tersedia pada: https://www.nhlbi.nih.gov/health/dash/health-benefits (Diakses: 6 Oktober 2026).
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK) (2020) ‘High blood pressure & kidney disease’. Ditinjau terakhir Maret 2020. Tersedia pada: https://www.niddk.nih.gov/health-information/kidney-disease/high-blood-pressure (Diakses: 6 Oktober 2026).
Diet Mediterania dan Aktivitas Fisik Membantu Mencegah Diabetes
Hadi Riyadi
Mencegah diabetes dapat dimulai dari keputusan sederhana: apa yang kita letakkan di piring dan seberapa sering kita bergerak. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa pola makan Mediterania yang disertai pengaturan energi, aktivitas fisik, dan pendampingan perubahan kebiasaan dapat membantu mengurangi kejadian diabetes tipe 2. Temuan ini memberi harapan, terutama bagi orang dengan berat badan berlebih dan gangguan metabolisme.
Gambar dibuat dengan AI untuk keperluan edukasi.Diabetes tipe 2 berkembang ketika tubuh tidak lagi menggunakan insulin secara efektif dan kemampuan pankreas menghasilkan insulin tidak mampu memenuhi kebutuhan. Insulin adalah hormon yang membantu mengatur gula darah. Ketika kerjanya terganggu, gula lebih mudah menumpuk dalam darah. Karena proses ini dapat berlangsung perlahan, upaya pencegahan perlu dimulai sebelum seseorang merasakan keluhan.
Bukti dari penelitian terbaru
Dalam penelitian PREDIMED-Plus yang diterbitkan di Annals of Internal Medicine pada 2025, sebanyak 4.746 orang berusia 55–75 tahun di Spanyol diteliti. Mereka memiliki berat badan berlebih atau obesitas dan sindrom metabolik, tetapi belum mengalami diabetes. Peserta dibagi secara acak menjadi dua kelompok. Kelompok pertama mengikuti diet Mediterania dengan pengurangan energi, peningkatan aktivitas fisik, dan dukungan perubahan perilaku. Kelompok pembanding mendapat anjuran diet Mediterania tanpa pembatasan energi khusus.
Menurut laporan yang telah dikoreksi, risiko mengalami diabetes selama enam tahun mencapai 10,3% pada kelompok intervensi dan 12,8% pada kelompok pembanding. Selisih sekitar 2,5 poin persentase itu setara dengan sekitar 25 kejadian diabetes lebih sedikit per 1.000 orang selama periode tersebut. Manfaat ini berasal dari keseluruhan program; penelitian tidak dapat memisahkan besarnya pengaruh diet, aktivitas fisik, dan pendampingan (Ruiz-Canela et al., 2025).
Mengenal pola makan Mediterania
Pola makan Mediterania mengutamakan sayuran, buah, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, ikan, serta sumber lemak tidak jenuh seperti minyak zaitun. Daging merah, daging olahan, dan makanan manis dikonsumsi lebih terbatas. Pola ini memberi tempat besar bagi pangan nabati yang beragam, dengan perhatian pada kualitas makanan secara keseluruhan.
Prinsip tersebut sejalan dengan pedoman American Diabetes Association (ADA) tahun 2026. Pedoman ini memasukkan pola makan Mediterania sebagai salah satu pilihan berbasis bukti untuk membantu mencegah diabetes tipe 2 pada orang dengan pradiabetes. Pradiabetes berarti kadar gula darah sudah meningkat, tetapi belum mencapai kriteria diabetes. Pilihan makanan tetap perlu disesuaikan dengan kebiasaan, kebutuhan, dan kondisi masing-masing orang.
Dalam kehidupan masyarakat Indonesia, prinsipnya dapat diterjemahkan menjadi menu yang akrab dan terjangkau. Contohnya, nasi dengan porsi sesuai kebutuhan, ikan, tempe atau tahu, serta sayuran yang beragam. Buah utuh dapat menjadi pilihan selingan, sedangkan air putih menjadi minuman utama. Nasi merah atau sumber biji-bijian utuh dapat digunakan sesuai selera dan ketersediaan. Ini merupakan contoh adaptasi prinsip makan sehat, bukan menu yang diuji secara persis dalam penelitian Spanyol.
Cara memasak juga dapat disesuaikan. Ikan pepes, sayur bening, dan tahu kukus, misalnya, memberi pilihan untuk mengurangi kebiasaan menggoreng. Mengganti minuman manis dengan air putih dan mengurangi camilan tinggi energi merupakan langkah lain yang mudah dikenali. WHO menekankan bahwa pola makan sehat dapat disusun berdasarkan pangan lokal dan budaya makan setempat, dengan menjaga keragaman, keseimbangan, serta pembatasan gula bebas, garam, dan lemak yang kurang sehat.
Mengapa aktif bergerak ikut menentukan?
Aktivitas fisik membantu tubuh menggunakan energi dan mendukung pengaturan gula darah. Karena itu, memperbaiki makanan perlu disertai kebiasaan bergerak. Jalan kaki, bersepeda, berenang, atau kegiatan lain yang disukai dapat menjadi bagian dari rutinitas. WHO menegaskan bahwa aktivitas fisik teratur membantu mencegah diabetes tipe 2 dan berbagai penyakit tidak menular lainnya.
Pedoman ADA tahun 2026 menganjurkan sedikitnya 150 menit aktivitas fisik intensitas sedang per minggu bagi orang dengan berat badan berlebih yang berisiko tinggi mengalami diabetes. Jumlah tersebut dapat dibagi menjadi sekitar 30 menit pada lima hari dalam seminggu. Bagi orang yang belum terbiasa, durasi dapat ditambah secara bertahap. Memulai dengan kegiatan yang sesuai kemampuan lebih realistis daripada langsung memasang target yang sulit dipertahankan.
Kebiasaan duduk juga perlu diperhatikan. Seseorang dapat berolahraga pada pagi hari, tetapi kemudian duduk berjam-jam sepanjang hari. Menyelingi pekerjaan dengan berdiri dan berjalan singkat merupakan langkah praktis. Pedoman ADA menyarankan agar duduk berkepanjangan diselingi aktivitas setidaknya setiap 30 menit untuk membantu pengaturan gula darah dan memperoleh manfaat kesehatan lainnya.
Perubahan kecil yang dipertahankan
Penurunan berat badan tidak harus sangat besar untuk menjadi sasaran awal yang bermakna. ADA menganjurkan penurunan sedikitnya 5–7% dari berat badan awal pada orang dengan berat badan berlebih atau obesitas yang berisiko tinggi mengalami diabetes. Sebagai gambaran, pada berat badan 80 kg, jumlah tersebut sekitar 4–5,6 kg. Sasaran perlu dicapai secara bertahap dan dipertahankan melalui pola makan serta aktivitas yang sesuai.
Dukungan keluarga dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana: menyediakan buah, menyiapkan sayur, mengurangi pembelian minuman manis, atau menjadwalkan jalan kaki bersama. Menentukan satu atau dua kebiasaan untuk diperbaiki terlebih dahulu juga membuat perubahan terasa lebih terjangkau. Bila seseorang mengalami kesulitan, pendampingan tenaga kesehatan dapat membantu menyusun tujuan yang sesuai kondisi dan rutinitasnya.
Diet Mediterania dan aktivitas fisik memberi arah yang jelas bagi pencegahan diabetes tipe 2. Pelaksanaannya dapat dimulai dari makanan sehari-hari dan gerakan yang sederhana. Mengisi piring dengan lebih banyak pangan nabati, mengatur porsi, memilih air putih, dan berjalan secara teratur merupakan langkah yang dapat dibangun menjadi kebiasaan jangka panjang.
Referensi
American Diabetes Association Professional Practice Committee for Diabetes (2026) ‘3. Prevention or delay of diabetes and associated comorbidities: Standards of Care in Diabetes—2026’, Diabetes Care, 49(Suppl. 1), pp. S50–S60. https://doi.org/10.2337/dc26-S003.
American Diabetes Association Professional Practice Committee for Diabetes (2026) ‘5. Facilitating positive health behaviors and well-being to improve health outcomes: Standards of Care in Diabetes—2026’, Diabetes Care, 49(Suppl. 1). https://doi.org/10.2337/dc26-S005.
Ruiz-Canela, M., Corella, D., Martínez-González, M.Á., Babio, N., Martínez, J.A., Forga, L. et al. (2025) ‘Comparison of an energy-reduced Mediterranean diet and physical activity versus an ad libitum Mediterranean diet in the prevention of type 2 diabetes: A secondary analysis of a randomized controlled trial’, Annals of Internal Medicine, 178(10), pp. 1378–1389. https://doi.org/10.7326/ANNALS-25-00388. Angka hasil mengacu pada versi yang telah dikoreksi; koreksi resmi.
World Health Organization (2024) ‘Physical activity’, 26 June. Tersedia pada: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/physical-activity.
World Health Organization (tanpa tahun) ‘Healthy diet’. Tersedia pada: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/healthy-diet (Diakses: 3 Oktober 2026).
Diet ketogenik memperbaiki kesehatan hati
Hadi Riyadi
Makan lebih banyak lemak untuk mengurangi lemak di hati terdengar bertentangan dengan akal sehat. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa diet ketogenik, yaitu pola makan yang sangat membatasi karbohidrat dan menggunakan lemak sebagai sumber energi utama, dapat membantu mengurangi penumpukan lemak di hati. Temuan ini memberi harapan bagi orang dengan obesitas dan gangguan metabolisme. Meski demikian, memperbaiki beberapa ukuran kesehatan hati belum berarti menyembuhkan seluruh penyakit hati.
Ilustrasi realistis pasien perlemakan hati yang berkonsultasi dengan dokter. Gambar dibuat dengan AI untuk keperluan edukasi.
Hati merupakan pusat pengolahan zat gizi. Organ ini membantu mengatur gula darah, mengolah lemak, dan menyimpan energi. Ketika lemak yang masuk atau terbentuk di hati melebihi jumlah yang digunakan dan dikeluarkan, lemak dapat menumpuk. Jika penumpukan tersebut disertai gangguan metabolisme, seperti obesitas atau gula darah tinggi, kondisi ini dikenal sebagai metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease atau MASLD. Dalam bahasa sederhana, MASLD adalah penyakit perlemakan hati yang berkaitan dengan gangguan metabolisme. Pada sebagian orang, penyakit ini dapat berkembang menjadi peradangan dan jaringan parut di hati.
Kabar terbaru tentang manfaat diet ketogenik dibahas dalam penelitian Petersen et al. (2026) yang berjudul “Effect of Diet Macronutrient Content on the Cardiometabolic Response to Weight Loss: A Randomized Clinical Trial”. Artikel tersebut tersebut mengulas penelitian yang membandingkan tiga pola makan pada orang dengan obesitas, pradiabetes, dan perlemakan hati. Pradiabetes berarti kadar gula darah sudah lebih tinggi daripada normal, tetapi belum memenuhi kriteria diabetes. Penelitian ini menarik karena penurunan berat badan dibuat hampir sama pada ketiga kelompok, sehingga peneliti dapat menilai apakah komposisi makanan memberikan manfaat tambahan.
Penelitian yang diterbitkan dalam Cell Metabolism itu melibatkan 55 peserta yang dibagi secara acak ke dalam kelompok diet ketogenik, diet Mediterania, atau diet sangat rendah lemak yang mengutamakan pangan nabati. Sebanyak 42 peserta menyelesaikan penelitian. Seluruh makanan disediakan oleh tim peneliti, dan peserta mendapat pendampingan dietisien setiap minggu. Setelah sekitar lima bulan, ketiga kelompok kehilangan kurang lebih 10% berat badan. Hasilnya, lemak hati berkurang sekitar 67% pada kelompok ketogenik, dibandingkan sekitar 45% pada masing-masing kelompok lainnya. Respons hati terhadap insulin juga membaik lebih besar pada kelompok ketogenik (Petersen et al., 2026).
Angka 67% tersebut merupakan penurunan relatif kandungan lemak hati dibandingkan keadaan awal. Angka itu tidak berarti bahwa 67% peserta telah sembuh, ataupun seluruh kerusakan hati sudah pulih. Namun, penurunan yang lebih besar pada tingkat kehilangan berat badan yang hampir sama menunjukkan bahwa susunan makanan dapat memengaruhi hasil kesehatan, selain jumlah berat badan yang turun.
Bagaimana hal ini dapat terjadi? Hati tidak hanya menerima lemak dari makanan dan jaringan tubuh, tetapi juga dapat membuat lemak baru dari bahan yang berasal dari karbohidrat. Pembatasan karbohidrat dapat mengurangi dorongan pembentukan lemak tersebut. Pada saat yang sama, tubuh meningkatkan penggunaan lemak sebagai bahan bakar dan hati menghasilkan keton, yaitu senyawa yang dapat digunakan sebagai sumber energi. Penelitian kecil sebelumnya juga menunjukkan bahwa diet ketogenik dapat mengurangi lemak hati dan mengubah cara hati mengolah energi (Luukkonen et al., 2020).
Diet ketogenik dalam penelitian terbaru sangat ketat: hanya sekitar 4% energi berasal dari karbohidrat, sedangkan 73% dari lemak dan 23% dari protein. Karena itu, mengurangi sedikit porsi nasi belum tentu membuat pola makan seseorang menjadi ketogenik. Dalam kehidupan sehari-hari, pembatasan sebesar ini menuntut perubahan besar pada konsumsi nasi, mi, roti, makanan manis, dan sejumlah pangan lain. Kondisi tersebut membantu menjelaskan mengapa diet ini sering sulit dipertahankan.
Hal lain yang perlu diperhatikan ialah bahwa semua kelompok dalam penelitian mengalami perbaikan. Diet Mediterania dan diet rendah lemak berbasis pangan nabati juga menurunkan berat badan dan mengurangi lemak hati secara bermakna. Dengan demikian, seseorang tetap dapat memperoleh manfaat tanpa harus mengikuti diet ketogenik. Pilihan pola makan perlu mempertimbangkan kondisi kesehatan, kebiasaan makan, kemampuan menyediakan makanan, dan kesanggupan menjalaninya dalam waktu lama.
Pedoman bersama organisasi ilmiah hati, diabetes, dan obesitas Eropa menempatkan penurunan berat badan yang bertahan sebagai bagian penting penanganan MASLD. Pada orang dengan berat badan berlebih, penurunan sedikitnya 5% ditargetkan untuk mengurangi lemak hati, 7–10% untuk memperbaiki peradangan, dan sedikitnya 10% untuk membantu memperbaiki jaringan parut. Angka tersebut merupakan sasaran berdasarkan bukti penelitian, bukan jaminan bahwa setiap orang akan memperoleh hasil yang sama (EASL, EASD and EASO, 2024).
Kualitas makanan tetap perlu dijaga. Label “keto” tidak otomatis menunjukkan bahwa suatu makanan sehat. Pola makan tinggi lemak dapat disusun dari bahan segar, tetapi juga dapat didominasi produk olahan. Mengurangi karbohidrat sebaiknya tetap disertai perhatian terhadap kecukupan zat gizi dan pilihan sumber lemak. Pedoman MASLD menganjurkan perbaikan kualitas makanan, pembatasan pangan ultra-proses yang kaya gula dan lemak jenuh, serta penghindaran minuman berpemanis. Aktivitas fisik juga dianjurkan untuk membantu mengurangi lemak hati.
Temuan terbaru ini belum cukup untuk menyatakan bahwa diet ketogenik merupakan pilihan terbaik bagi semua penderita perlemakan hati. Jumlah peserta relatif kecil, pengamatan hanya berlangsung beberapa bulan, dan makanan disediakan dalam kondisi yang sangat terkontrol. Penelitian tersebut juga belum membuktikan bahwa diet ketogenik memperbaiki jaringan parut hati atau mencegah sirosis dalam jangka panjang. Hasil pada orang dengan obesitas dan pradiabetes tidak dapat langsung diterapkan pada seluruh kelompok pasien.
Bagi orang yang ingin mencoba diet ketogenik karena memiliki perlemakan hati, pendampingan dokter dan dietisien membantu memastikan bahwa pilihan makanan dan pemantauan sesuai dengan kondisi kesehatannya. Keberhasilan perlu dinilai melalui perubahan kesehatan, bukan hanya angka timbangan atau keberadaan keton.
Diet ketogenik membuka peluang untuk memperbaiki kesehatan hati, terutama melalui pengurangan lemak hati pada orang dengan obesitas dan gangguan metabolisme. Bukti terbaru menjanjikan, tetapi manfaat jangka panjang masih perlu dipastikan. Pesan praktisnya tetap jelas: kurangi kelebihan energi, perbaiki kualitas makanan, aktif bergerak, dan pilih pola makan yang dapat dijalankan secara konsisten.
Referensi
Abbasi, J. (2026) ‘The ketogenic diet improved liver health in trial, but what does that mean in the real world?’, JAMA. Dipublikasikan daring 2 Oktober. Tersedia pada: https://doi.org/10.1001/jama.2026.18718.
European Association for the Study of the Liver (EASL), European Association for the Study of Diabetes (EASD) and European Association for the Study of Obesity (EASO) (2024) ‘EASL–EASD–EASO clinical practice guidelines on the management of metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease (MASLD)’, Obesity Facts, 17(4), pp. 374–444. Tersedia pada: https://doi.org/10.1159/000539371.
Luukkonen, P.K., Dufour, S., Lyu, K., Zhang, X.-M., Hakkarainen, A., Lehtimäki, T.E., Cline, G.W., Petersen, K.F., Shulman, G.I. and Yki-Järvinen, H. (2020) ‘Effect of a ketogenic diet on hepatic steatosis and hepatic mitochondrial metabolism in nonalcoholic fatty liver disease’, Proceedings of the National Academy of Sciences, 117(13), pp. 7347–7354. Tersedia pada: https://doi.org/10.1073/pnas.1922344117.
Petersen, M.C., Smith, G.I., Farabi, S.S., Palacios, H.H., Shankaran, M., Hellerstein, M.K., Patterson, B.W. and Klein, S. (2026) ‘Effect of diet macronutrient content on the cardiometabolic response to weight loss: A randomized clinical trial’, Cell Metabolism. Dipublikasikan daring 27 Agustus. Tersedia pada: https://doi.org/10.1016/j.cmet.2026.07.020.
Saat ini prevalensi
penyakit kronis seperti diabetes, penyakit jantung koroner dan stroke semakin
meningkat dan menjadi masalah hampir diseluruh dunia. Berkembangnya penyakit kronis ini sangat erat
katannya dengan dengan diet dan pola makan seseorang. Diet yang berkualitas diharapkan
akan memperbaiki atau mengurangi risiko gangguan penyakit kronis. Oleh karena itu dibuat pedoman gizi agar
setiap orang dapat mengonsumsi diet yang sesuai dengan rekomendasi. Diet seseorang apakah sudah berkualitas atau
belum, diantaranya dapat dinilai dengan Healthy Eating Index (HEI). Semakin baik nilai HEI berarti semakin
mendekati rekomendasi pedoman gizi dan semakin baik pula kualitas diet-nya. Di
Amerika kualitas diet penduduk dievaluasi setiap tahun. Dengan demikian diketahui perkembangan
kualitas diet penduduk. Banyak
penelitian menunjukkan perbaikan kualitas diet akan mengurangi risiko penyakit
kronis, tetapi tidak banyak diketahui dalam skala populasi berapa lama waktu
yang dibutuhkan dan besaran pengaruhnya terhadap penurunan penyakit kronis dan peningkatan
manfaat ekonomi bagi penduduk.
Salah satu penelitian yang dilakukan oleh Patricia M
Herman, yang dipublikasi pada jurnal Public Health Nutrition bulan Maret 2021,
memberikan contoh yang baik tentang hubungan antara kualitas diet dan
pengaruhnya terhadap waktu dan besaran penurunan penyakit kronis dan manfaat
outcome ekonomi. Penelitian ini menunjukkan bahwa perbaikan kualitas diet
menyebabkan perubahan yang sangat kecil pada prevalensi penyakit kronis
tetapi berakumulasi sepanjang waktu. Jika diet diperbaiki pada saat ini (menjadi
kualitas diet yang sama dengan top 20% atau kuintil kesatu/teratas) pada kasus di
Amerika Serikat, maka setelah 30 tahun kemudian prevalensi diabetes akan
menurun 11,5% (5,9 juta kasus), prevalensi penyakit jantung menurun 7,2% (4
juta kasus), dan prevalensi stroke menurun 10,3% (1,9 juta kasus). Penurunan penyakit ini diikuti dengan
penurunan kematian sebanyak 88000 orang dan penurunan biaya perawatan 1,7% atau
sebesar 144 juta dollar (sekitar 2 trilyun rupiah).
Penelitian ini
menunjukkan bahwa upaya untuk menurunkan prevalensi penyakit kronis melalui
perbaikan kualitas diet memerlukan waktu yang panjang dan terus menerus selama
puluhan tahun. Penelitian ini juga
memberikan isyarat betapa pentingnya mengevaluasi kualitas diet menurut
rekomendasi pedoman gizi setiap tahun dan mengukur prevalensi penyakit degeneratif
juga setiap tahun.