Anjuran Kolesterol Berubah: Apa Artinya bagi Kesehatan Kita?
Hadi Riyadi
Selama puluhan tahun, banyak orang memandang kuning telur dengan curiga. Ada yang membuangnya, membatasi makanan laut, atau memilih produk berlabel “tanpa kolesterol” dengan harapan dapat melindungi jantung. Kemudian muncul berita bahwa Amerika Serikat menghapus batas asupan kolesterol. Sebagian orang pun bertanya: apakah nasihat sebelumnya keliru? Apakah sekarang makanan tinggi kolesterol boleh dikonsumsi sesuka hati?
Jawabannya memerlukan sedikit penelusuran. Anjuran memang berubah, terutama mengenai penggunaan satu batas angka untuk seluruh masyarakat. Namun, perubahan tersebut tidak berarti kolesterol darah kehilangan kaitannya dengan penyakit. Ilmu gizi justru semakin membedakan kolesterol dalam makanan, kolesterol yang beredar dalam darah, dan pengaruh pola makan secara keseluruhan.
Dua pengertian kolesterol yang sering tercampur
Kolesterol merupakan bagian normal dari tubuh. Senyawa ini diperlukan untuk membentuk membran sel, hormon tertentu, dan asam empedu. Tubuh dapat membuat kolesterol sendiri sehingga keberadaannya tidak hanya bergantung pada makanan. Karena itu, jumlah kolesterol yang dimakan tidak diterjemahkan secara langsung dan seragam menjadi kadar kolesterol darah.
Kolesterol makanan terutama ditemukan dalam pangan hewani. Sementara itu, pemeriksaan darah mengukur kolesterol yang dibawa oleh berbagai partikel lipoprotein, termasuk LDL dan HDL. Respons kadar darah terhadap makanan dipengaruhi banyak hal, antara lain pengaturan metabolisme tubuh, faktor genetik, serta komposisi makanan lainnya. Meskipun demikian, penelitian intervensi menunjukkan bahwa tambahan kolesterol makanan dapat meningkatkan LDL pada tingkat kelompok; pengaruhnya tidak dapat dianggap selalu nol (Carson et al., 2020).
Pembedaan tersebut penting. Pernyataan bahwa “kolesterol makanan tidak lagi menjadi sasaran utama” tidak sama dengan pernyataan bahwa “LDL tinggi tidak berbahaya”. Keduanya membicarakan hal berbeda.
Dari batas 300 miligram menuju pendekatan pola makan
Dalam Dietary Guidelines for Americans atau DGA 2010, masyarakat dianjurkan membatasi kolesterol makanan hingga kurang dari 300 miligram sehari. Pendekatan ini memberikan angka yang mudah dijadikan acuan, meskipun dalam praktiknya masyarakat perlu mengetahui kandungan kolesterol berbagai makanan untuk menghitung asupan hariannya.
Perubahan penting terjadi pada DGA 2015–2020. Pedoman ini tidak lagi memasukkan batas 300 miligram sehari karena bukti dinilai belum memadai untuk menetapkan batas kuantitatif tersebut. Namun, dokumen akhirnya juga menjelaskan bahwa perubahan itu tidak berarti kolesterol makanan menjadi tidak penting atau boleh dikonsumsi tanpa pertimbangan. Menghapus angka batas bukanlah pembuktian bahwa semua tingkat asupan sama amannya (USDA dan HHS, 2015).
DGA 2020–2025 tetap tidak mencantumkan batas angka universal. Akan tetapi, pedoman tersebut menyebut anjuran agar konsumsi kolesterol makanan serendah mungkin tanpa mengorbankan kecukupan gizi. Frasa terakhir sangat penting: upaya mengurangi suatu komponen makanan tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan asupan zat gizi yang diperlukan (USDA dan HHS, 2020).
Dengan demikian, perubahan berlangsung bertahap. Penekanannya bergeser dari kepatuhan terhadap satu angka menuju pemilihan makanan dan pola konsumsi yang mendukung kesehatan.
Apa yang dikatakan pedoman terbaru?
DGA 2025–2030, yang diterbitkan pada Januari 2026, tidak mencantumkan batas khusus kolesterol makanan dalam dokumen utamanya. Pedoman ini mengarahkan perhatian pada kelompok makanan dan tetap menyebut bahwa secara umum lemak jenuh tidak seharusnya melebihi 10% energi harian. Kolesterol dan lemak jenuh merupakan komponen berbeda sehingga kedua anjuran tersebut tidak boleh dipertukarkan (HHS dan USDA, 2026).
Sementara itu, American Heart Association atau AHA menerbitkan pembaruan panduan pola makan pada Maret 2026. Organisasi ini menyatakan bahwa bagi kebanyakan orang, kolesterol makanan tidak lagi menjadi sasaran utama pengurangan risiko penyakit kardiovaskular. Perhatian lebih besar diberikan kepada kualitas pola makan, sumber protein, makanan kaya serat, serta penggantian sumber lemak jenuh dengan lemak tidak jenuh (Lichtenstein et al., 2026).
Pedoman pemerintah dan pernyataan AHA perlu dibedakan. DGA digunakan sebagai dasar kebijakan dan edukasi gizi masyarakat, sedangkan AHA memberikan panduan ilmiah dengan penekanan pada kesehatan kardiovaskular. Keduanya juga tidak menggantikan penilaian klinis individual.
Mengapa hasil penelitian tampak bertentangan?
Salah satu alasan perdebatan terus berlangsung adalah hasil penelitian yang tidak selalu sejalan. Penelitian tentang makanan sulit memisahkan satu komponen dari keseluruhan kebiasaan hidup. Orang yang sering makan telur, misalnya, mungkin memiliki pola makan, aktivitas, dan kebiasaan merokok yang berbeda dari orang yang jarang memakannya.
Analisis enam kohort Amerika Serikat yang diterbitkan dalam JAMA pada 2019 menemukan hubungan antara asupan kolesterol atau telur yang lebih tinggi dengan peningkatan kejadian kardiovaskular dan kematian. Namun, hasil beberapa analisis berubah setelah penyesuaian terhadap makanan sumber kolesterol lainnya. Hal ini memperlihatkan sulitnya memisahkan pengaruh kolesterol dari makanan yang membawanya (Zhong et al., 2019).
Sebaliknya, penelitian tiga kohort besar Amerika Serikat beserta meta-analisis yang diterbitkan dalam BMJ pada 2020 tidak menemukan hubungan bermakna antara konsumsi telur dalam jumlah sedang—hingga sekitar satu telur sehari—dan risiko penyakit kardiovaskular secara keseluruhan. Peneliti juga menemukan variasi hasil menurut wilayah dan karakteristik populasi (Drouin-Chartier et al., 2020).
Kedua penelitian tersebut bersifat observasional. Artinya, peneliti mengamati kebiasaan makan dan kejadian penyakit, bukan mengacak peserta untuk mengikuti pola makan tertentu selama bertahun-tahun. Pengukuran makanan dapat tidak sempurna, kebiasaan dapat berubah, dan pengaruh faktor lain tidak selalu dapat dihilangkan seluruhnya.
Hasil yang berbeda sebaiknya mendorong pembacaan yang lebih teliti. Kesimpulan “telur pasti menyebabkan penyakit jantung” maupun “telur terbukti aman dalam jumlah berapa pun” sama-sama melampaui bukti tersebut.
LDL darah tetap menjadi perhatian utama
Di tengah perubahan anjuran makanan, pengendalian lipoprotein yang menyebabkan aterosklerosis tetap penting. Aterosklerosis adalah pembentukan plak pada dinding arteri yang dapat mendasari penyakit jantung koroner dan sebagian stroke.
Pedoman penanganan dislipidemia Amerika Serikat tahun 2026 justru menekankan pentingnya menangani gangguan lipid lebih awal untuk mengurangi paparan sepanjang hidup terhadap lipoprotein aterogenik. Pedoman ini menggunakan LDL-kolesterol dan non-HDL-kolesterol sebagai sasaran terapi sesuai tingkat risiko. Pemeriksaan apolipoprotein B atau lipoprotein(a) juga dapat membantu pada keadaan tertentu (American Heart Association, 2026).
Maknanya, seseorang tidak seharusnya menghentikan obat penurun kolesterol hanya karena mendengar batas kolesterol makanan telah dihapus. Perubahan anjuran makan tidak membatalkan alasan pemberian terapi berdasarkan risiko penyakit dan hasil pemeriksaan.
Mengapa jenis lemak mendapat perhatian besar?
Makanan tidak hanya membawa kolesterol. Di dalamnya terdapat kombinasi lemak, protein, serat, natrium, serta berbagai komponen lain. Karena itu, dua makanan dengan kandungan kolesterol serupa belum tentu mempunyai pengaruh kesehatan yang sama.
AHA menekankan penggantian sumber lemak jenuh dengan lemak tidak jenuh dalam pola makan yang kaya sayur, buah, biji-bijian utuh, dan sumber protein sehat. Kata “penggantian” penting karena manfaat perubahan pola makan juga bergantung pada makanan yang digunakan sebagai pengganti. Mengurangi satu makanan tanpa memperhatikan penggantinya belum tentu memperbaiki mutu diet (Lichtenstein et al., 2026).
Dalam konteks Indonesia, pertanyaannya dapat diperluas: bagaimana lauk dimasak, seberapa sering makanan berlemak dikonsumsi, apakah tersedia sayur dan buah, dan apakah sumber protein bervariasi? Penilaian seperti ini lebih informatif daripada menilai seluruh menu hanya berdasarkan keberadaan satu kuning telur.
Label “tanpa kolesterol” pun tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa suatu produk baik bagi jantung. Produk tetap perlu dinilai berdasarkan keseluruhan komposisi dan posisinya dalam pola makan.
Apakah semua orang dapat mengikuti anjuran yang sama?
Anjuran untuk masyarakat umum tidak selalu mencukupi bagi orang yang sudah mengalami gangguan lipid. Pada Januari 2026, National Lipid Association menegaskan bahwa intervensi gizi untuk pasien dislipidemia harus disesuaikan dengan kebutuhan dan keadaan masing-masing.
Untuk LDL tinggi, organisasi tersebut menekankan penggantian makanan kaya lemak jenuh dengan sumber lemak tidak jenuh serta peningkatan makanan yang mengandung serat larut kental, seperti oat, jelai, dan sejumlah buah serta sayuran. Untuk trigliserida tinggi, perhatian juga diberikan pada gula tambahan, alkohol, dan penyesuaian asupan lemak menurut penyebab serta tingkat keparahannya (National Lipid Association, 2026).
Ini menjelaskan mengapa dua orang dapat menerima nasihat yang berbeda. Seseorang dengan LDL sangat tinggi, riwayat penyakit kardiovaskular, atau gangguan kolesterol yang diturunkan memerlukan pendekatan berbeda dari orang sehat dengan profil lipid yang baik. Penilaian juga mempertimbangkan diabetes, penyakit ginjal, tekanan darah, dan faktor risiko lainnya.
Membaca perubahan pedoman dengan lebih tenang
Perubahan anjuran gizi mudah dikemas menjadi berita yang berlebihan: dahulu dilarang, sekarang dibebaskan. Padahal, yang sering berubah adalah tingkat kepastian bukti, prioritas intervensi, dan cara menyampaikan rekomendasi kepada masyarakat.
Pelajaran dari kolesterol adalah pentingnya membedakan tiga pertanyaan: apakah kolesterol makanan memengaruhi lipid darah, apakah suatu makanan berkaitan dengan kejadian penyakit, dan apakah satu batas angka layak diterapkan kepada semua orang. Jawaban atas ketiganya tidak harus sama.
Bagi masyarakat, langkah yang masuk akal adalah memperhatikan pola makan secara keseluruhan, mengetahui profil lipid dan risiko kesehatannya, serta menyesuaikan kebiasaan makan berdasarkan kebutuhan. Telur atau makanan lain tidak perlu dijadikan satu-satunya pusat perhatian, tetapi juga tidak perlu dianggap bebas dari pertimbangan porsi dan frekuensi.
Anjuran kolesterol telah berkembang menuju penilaian yang lebih menyeluruh. Tujuannya tetap sama: membantu orang memilih makanan yang mencukupi kebutuhan gizi sekaligus menurunkan risiko penyakit. Angka batas dapat berubah, tetapi kebutuhan untuk membaca bukti secara cermat dan merawat kesehatan pembuluh darah tetap bertahan.
Daftar pustaka
American Heart Association (2026) Top things to know: 2026 guideline on the management of dyslipidemia. Tersedia pada: Professional Heart Daily.
Carson, J.A.S., Lichtenstein, A.H., Anderson, C.A.M., Appel, L.J., Kris-Etherton, P.M., Meyer, K.A., Petersen, K., Polonsky, T. and Van Horn, L. (2020) ‘Dietary cholesterol and cardiovascular risk: a science advisory from the American Heart Association’, Circulation, 141(3), pp. e39–e53. https://doi.org/10.1161/CIR.0000000000000743.
Drouin-Chartier, J.-P., Chen, S., Li, Y., Schwab, A.L., Stampfer, M.J., Sacks, F.M., Rosner, B., Willett, W.C., Hu, F.B. and Bhupathiraju, S.N. (2020) ‘Egg consumption and risk of cardiovascular disease: three large prospective US cohort studies, systematic review, and updated meta-analysis’, BMJ, 368, m513. https://doi.org/10.1136/bmj.m513.
Lichtenstein, A.H., Khera, A., Anderson, C.A.M., Appel, L.J., DeSilva, D.M., Gardner, C., Hu, F.B., Jones, D.W. and Petersen, K.S. (2026) ‘2026 dietary guidance to improve cardiovascular health: a scientific statement from the American Heart Association’, Circulation. https://doi.org/10.1161/CIR.0000000000001435.
National Lipid Association (2026) Dietary patterns & nutrition interventions for individuals with dyslipidemia. 16 January.
U.S. Department of Agriculture and U.S. Department of Health and Human Services (2015) Dietary Guidelines for Americans, 2015–2020. 8th edn.
U.S. Department of Agriculture and U.S. Department of Health and Human Services (2020) Dietary Guidelines for Americans, 2020–2025. 9th edn.
U.S. Department of Health and Human Services and U.S. Department of Agriculture (2026) Dietary Guidelines for Americans, 2025–2030. 10th edn.
Zhong, V.W., Van Horn, L., Cornelis, M.C. et al. (2019) ‘Associations of dietary cholesterol or egg consumption with incident cardiovascular disease and mortality’, JAMA, 321(11), pp. 1081–1095. https://doi.org/10.1001/jama.2019.1572.







