Toussaint dan Pasteur: Siapa yang Berhak Disebut Penemu Vaksin Antraks?
Hadi Riyadi
Pada 2 Juni 1881, para pengunjung berkumpul di sebuah peternakan di Pouilly-le-Fort, dekat Melun, Prancis. Mereka datang untuk melihat hasil percobaan yang dapat mengubah cara manusia menghadapi penyakit ternak. Beberapa minggu sebelumnya, sebagian hewan telah divaksin. Kemudian, hewan yang divaksin dan kelompok pembanding sama-sama diberi bahan penyebab antraks yang ganas.
Menurut laporan percobaan, hewan yang menerima vaksin tampak sehat, sedangkan domba dan kambing yang tidak divaksin telah mati atau sedang menghadapi kematian. Bagi orang-orang yang menyaksikannya, perbedaan itu merupakan bukti yang kuat: vaksinasi dapat melindungi hewan dari penyakit mematikan (Pasteur, Chamberland and Roux, 1881/2002).
Keberhasilan tersebut melekat pada nama Louis Pasteur. Namun, setahun sebelum demonstrasi itu, seorang dokter hewan bernama Henry Toussaint telah melaporkan percobaan perlindungan terhadap antraks.
Dari sinilah pertanyaan muncul: siapa yang sebenarnya berhak disebut penemu vaksin antraks? Orang yang lebih dahulu menunjukkan kemungkinan perlindungan, orang yang menyempurnakan pembuatannya, atau orang yang berhasil meyakinkan dunia?
Toussaint datang lebih dahulu
Jean-Joseph-Henri Toussaint adalah dokter hewan dan peneliti Prancis yang bekerja di Toulouse. Pada 1880, ia melaporkan bahwa perlakuan tertentu terhadap bahan yang mengandung penyebab antraks dapat digunakan untuk memberikan perlindungan kepada hewan.
Ia mencoba pemanasan dan pendekatan menggunakan antiseptik. Metodenya masih berkembang, dan hasilnya belum selalu konsisten. Meskipun demikian, pekerjaannya menunjukkan bahwa bahan penyebab penyakit dapat diolah menjadi sarana pencegahan.
Dalam telaah sejarahnya, Cavaillon dan Legout (2022) mencatat bahwa pada percobaan Toussaint di Alfort pada Agustus 1880, 22 dari 26 domba bertahan terhadap uji tantang antraks. Angka tersebut memperlihatkan adanya hasil perlindungan yang nyata, sekaligus keterbatasan yang masih perlu diperbaiki.
Toussaint layak ditempatkan sebagai perintis penting. Pekerjaannya sudah ada sebelum demonstrasi Pasteur yang kemudian begitu terkenal.
Namun sayang, kisah Toussaint menjadi semakin menyedihkan ketika kesehatannya mulai memburuk pada awal 1880-an. Ia mengalami penyakit yang secara bertahap menurunkan kemampuan intelektual dan membatasi kelanjutan pekerjaannya, sebelum meninggal pada 1890 dalam usia 43 tahun (Chevallier-Jussiau, 2010). Namun, tidak cukup bukti untuk menyatakan bahwa penyakit tersebut disebabkan oleh persaingannya dengan Pasteur. Kisah ini perlu diceritakan dengan membedakan catatan kesehatan, persoalan pengakuan ilmiah, dan dugaan mengenai hubungan keduanya.
Sebuah keberhasilan yang tidak dikerjakan sendirian
Pasteur membawa kemampuan eksperimen, jaringan ilmiah, dan pengaruh publik yang besar. Namun, vaksin antraks yang dikaitkan dengan namanya juga merupakan hasil kerja laboratorium bersama Charles Chamberland dan Émile Roux.
Laporan asli demonstrasi Pouilly-le-Fort bahkan menyebut kolaborasi mereka. Percobaan dimulai pada Mei 1881, dengan dua tahap vaksinasi sebelum pemberian bahan antraks ganas pada 31 Mei.
Hasilnya mengesankan, tetapi laporan tersebut tidak sepenuhnya tanpa catatan. Seekor domba betina yang divaksin mati pada hari berikutnya setelah pengamatan publik. Menurut laporan pemeriksaan saat itu, kematian dikaitkan dengan janin yang telah mati di dalam kandungannya (Pasteur, Chamberland and Roux, 1881/2002).
Detail seperti ini penting. Sejarah yang baik mempertahankan catatan yang kurang nyaman, sekalipun cerita utamanya adalah keberhasilan.
Metode yang tersimpan dalam catatan laboratorium
Kontroversi muncul ketika sejarawan membandingkan penjelasan yang disampaikan kepada publik dengan catatan pekerjaan di laboratorium.
Pasteur mengembangkan gagasan bahwa keganasan mikroorganisme dapat dilemahkan melalui kondisi pemeliharaan tertentu, termasuk pengaruh udara atau oksigen. Namun, vaksin yang digunakan dalam demonstrasi terkenal itu disiapkan dengan perlakuan kalium dikromat, suatu bahan kimia yang diteliti oleh timnya.
Antonio Cadeddu (1987), melalui kajian terhadap manuskrip laboratorium Pasteur, menyoroti penggunaan bahan kimia tersebut dan ketidakterbukaan penjelasannya. Menurut analisisnya, penggunaan dikromat tidak diungkapkan selama bertahun-tahun, sementara pelemahan melalui oksigen tetap mendapat penekanan dalam penjelasan publik.
Persoalannya menjadi lebih luas daripada keberhasilan vaksin. Apabila percobaan berhasil dengan prosedur tertentu, seberapa lengkap prosedur itu harus dijelaskan? Dapatkah keberhasilan dianggap sebagai pembuktian suatu teori apabila cara yang digunakan berbeda dari yang dipahami pembaca?
Dalam penelitian, hasil dan penjelasan mengenai bagaimana hasil diperoleh merupakan dua tanggung jawab yang tidak dapat dipisahkan.
Apakah Pasteur mengambil penemuan Toussaint?
Pertanyaan ini perlu dijawab dengan hati-hati. Pendekatan Toussaint dan metode yang digunakan tim Pasteur memiliki hubungan dalam penggunaan perlakuan kimia. Namun, bahan, prosedur, dan pengembangannya tidak identik. Karena itu, menyatakan bahwa Pasteur sekadar mengambil vaksin jadi milik Toussaint akan menyederhanakan sejarah secara berlebihan.
Gerald L. Geison, melalui The Private Science of Louis Pasteur (1995), mengangkat persoalan perbedaan antara catatan laboratorium dan citra penelitian yang disampaikan kepada publik. Karyanya memicu perdebatan tentang keterbukaan dan pengakuan kontribusi.
Max Perutz menolak sejumlah kesimpulan Geison. Ia menekankan perbedaan antara preparat Toussaint dan preparat laboratorium Pasteur, serta menilai bahwa tuduhan penyesatan dan pengambilan kredit tidak dibenarkan oleh penafsirannya atas bukti tersebut (Perutz, 1995).
Geison kemudian mempertahankan kritiknya. Dalam tanggapannya, ia menegaskan bahwa keberhasilan praktis tidak menyelesaikan pertanyaan mengenai ketepatan laporan ilmiah. Perdebatan mereka juga mencakup cara memahami pengaruh antiseptik dan konteks pemikiran Pasteur saat itu (Geison and Perutz, 1996).
Jadi, terdapat bukti historis yang kuat mengenai penggunaan dikromat dan masalah keterbukaan metode. Namun, penilaian tentang seberapa jauh hal tersebut merupakan penyesatan atau pengambilan kredit tetap perlu disajikan sebagai penafsiran yang diperdebatkan.
Penemuan mempunyai beberapa tahap
Kisah ini memperlihatkan kelemahan kebiasaan memberikan satu nama untuk suatu penemuan yang berkembang melalui banyak tahap. Ada orang yang pertama kali menunjukkan bahwa sebuah pendekatan mungkin berhasil. Ada yang membuat hasilnya lebih konsisten. Ada yang mengembangkan proses produksi, menguji penerapan, dan membangun kepercayaan masyarakat.
Untuk vaksin antraks, pengakuan yang lebih adil dapat dirumuskan sebagai berikut: Toussaint merupakan perintis penting yang menunjukkan perlindungan melalui percobaan vaksinasi pada 1880; Pasteur bersama Chamberland dan Roux memberikan kontribusi besar dalam pengembangan berikutnya, demonstrasi publik pada 1881, serta penerapannya.
Rumusan tersebut merupakan sintesis atas kontribusi yang berbeda. Mengakui Toussaint tidak menghapus keberhasilan tim Pasteur. Sebaliknya, mengakui keberhasilan Pasteur tidak membuat pekerjaan Toussaint menjadi tidak berarti.
Ketika pengetahuan juga menjadi kekuasaan
Vaksin yang berhasil membuka pertanyaan lain: siapa yang menguasai cara pembuatannya?
Kajian Maurice Cassier (2005) menunjukkan bahwa meskipun tidak dipatenkan, vaksin antraks tetap berkembang dalam sistem penguasaan teknis dan komersial. Pengetahuan produksi, pengendalian mutu, kontrak, dan pengaturan distribusi membantu mempertahankan kendali laboratorium Pasteur.
Pasteur juga menolak sejumlah permintaan pemindahan pengetahuan produksi dengan alasan menjaga mutu vaksin (Cassier, 2005).
Pengendalian mutu tentu memiliki alasan yang sah. Namun, episode ini membuka pertanyaan etik yang masih relevan: bagaimana menjaga mutu sambil memungkinkan peneliti lain memeriksa, mengulang, dan mengembangkan temuan?
Keterbukaan tidak selalu berarti seluruh proses dapat langsung disalin tanpa keahlian. Namun, keterbatasan tersebut perlu dijelaskan secara jujur, terutama ketika sebuah keberhasilan digunakan untuk mendukung klaim ilmiah yang luas.
Pelajaran bagi peneliti masa kini
Kisah Toussaint dan Pasteur terasa dekat dengan dunia penelitian sekarang. Persaingan untuk menerbitkan lebih dahulu, memperoleh pendanaan, dan dikenal sebagai penemu tetap hadir, meskipun bentuknya berbeda.
Pelajaran pertama adalah menyatakan kebaruan secara tepat. Kalimat “kami yang pertama menemukan” perlu didukung penelusuran literatur yang sungguh-sungguh. Terkadang kontribusi penelitian lebih tepat disebut sebagai penyempurnaan metode, pembuktian pada populasi berbeda, atau penerapan baru.
Pelajaran kedua adalah melaporkan prosedur yang benar-benar dilakukan. Jika metode berubah, perubahan itu harus dicatat. Hasil yang menarik tidak membenarkan penyajian seolah-olah seluruh pekerjaan mengikuti rencana awal.
Pelajaran ketiga adalah membagi pengakuan berdasarkan kontribusi. Mahasiswa, teknisi, peneliti muda, dan rekan kerja dapat memiliki peran penting yang tidak terlihat ketika seluruh cerita dipusatkan pada pemimpin laboratorium.
Pelajaran keempat adalah menjaga dokumentasi. Catatan laboratorium, data asli, tanggal perubahan prosedur, dan komunikasi penelitian memungkinkan pihak lain menelusuri bagaimana suatu kesimpulan terbentuk.
Prinsip-prinsip tersebut merupakan pembelajaran untuk praktik sekarang, bukan anggapan bahwa seluruh aturan penelitian modern sudah berlaku dalam bentuk yang sama pada abad ke-19.
Siapa yang berhak disebut penemu?
Jawabannya bergantung pada kontribusi yang sedang dibicarakan. Jika yang ditanyakan adalah siapa yang lebih dahulu menunjukkan perlindungan melalui percobaan vaksin antraks sebelum demonstrasi 1881, Toussaint tidak boleh diabaikan. Jika yang dibicarakan adalah pengembangan, pembuktian publik yang berpengaruh, dan perluasan penerapan, Pasteur dan timnya memiliki tempat penting.
Sejarah menjadi lebih akurat ketika kita menjelaskan kontribusi tersebut daripada memaksakan satu pemenang. Di Pouilly-le-Fort, masyarakat menyaksikan kemampuan vaksin melindungi hewan. Lebih dari satu abad kemudian, catatan laboratorium mengajak kita melihat hal lain: cara ilmu pengetahuan dikerjakan dan cara keberhasilannya diceritakan tidak selalu sama.
Tugas peneliti adalah memperkecil jarak di antara keduanya. Sebuah penemuan patut dirayakan dengan hasil yang dapat dipercaya, metode yang terbuka untuk diperiksa, dan pengakuan yang adil bagi orang-orang yang memungkinkan penemuan itu terjadi.
Daftar pustaka
Cadeddu, A. (1987) ‘Pasteur et la vaccination contre le charbon: une analyse historique et critique’, History and Philosophy of the Life Sciences, 9(2), pp. 255–276.
Cassier, M. (2005) ‘Appropriation and commercialization of the Pasteur anthrax vaccine’, Studies in History and Philosophy of Biological and Biomedical Sciences, 36(4), pp. 722–742. https://doi.org/10.1016/j.shpsc.2005.09.004.
Cavaillon, J.-M. and Legout, S. (2022) ‘Louis Pasteur: Between myth and reality’, Biomolecules, 12(4), article 596. https://doi.org/10.3390/biom12040596.
Chevallier-Jussiau, N. (2010) ‘Henry Toussaint et Louis Pasteur. Une rivalité pour un vaccin’, Histoire des sciences médicales, 44(1), pp. 55–64. Tersedia pada: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/20527335/.
Geison, G.L. (1995) The Private Science of Louis Pasteur. Princeton, NJ: Princeton University Press. ISBN 978-0-691-03442-3.
Geison, G.L. and Perutz, M.F. (1996) ‘Pasteur and the culture wars: An exchange’, The New York Review of Books, 4 April.
Pasteur, L., Chamberland, C. and Roux, E. (1881/2002) ‘Summary report of the experiments conducted at Pouilly-le-Fort, near Melun, on the anthrax vaccination, 1881’, The Yale Journal of Biology and Medicine, 75(1), pp. 59–62. Terjemahan bahasa Inggris yang diterbitkan kembali pada 2002 dari laporan tahun 1881.
Perutz, M.F. (1995) ‘The pioneer defended’, The New York Review of Books, 21 December.

No comments:
Post a Comment