MEMAHAMI STUDI KASUS
Hadi Riyadi
Program Profesi Nutrisionis, Fakultas Kedokteran dan Gizi, IPB University
Studi kasus sering digunakan pada tugas akhir mahasiswa Program Studi Dietisien/Nutrisionis. Untuk mencegah kesalahpahaman maknanya dan cara melaksanakan tugas akhir tersebut, maka perlu dipahami “Apa yang dimaksud dengan studi kasus?”, “ Apakah studi kasus bukan merupakan penelitian?”. Agar lebih jelas maka penting untuk membedakan secara tegas antara studi kasus sebagai metode penelitian (case study research), laporan kasus klinis (case report), dan kasus klinis sebagai tugas akhir pendidikan profesi (professional clinical case project). Ketiganya sama-sama menggunakan istilah “kasus”, tetapi mempunyai tujuan, pendekatan metodologis, proses analisis, dan luaran yang berbeda.Kesalahan dalam membedakan ketiganya dapat menyebabkan tugas akhir mahasiswa profesi yang sebenarnya bertujuan menunjukkan kompetensi pelayanan diperlakukan seolah-olah harus memenuhi seluruh karakteristik penelitian studi kasus, atau sebaliknya, penelitian studi kasus hanya diperlakukan sebagai laporan mengenai seorang pasien. Oleh karena itu, sebelum menentukan desain tugas akhir, perlu terlebih dahulu ditetapkan apakah kasus digunakan sebagai unit penelitian untuk memahami suatu fenomena, sebagai kasus klinis yang dilaporkan karena memiliki nilai pembelajaran tertentu, atau sebagai wahana untuk menunjukkan kompetensi profesional mahasiswa.
Case study research merupakan pendekatan penelitian yang digunakan untuk memperoleh pemahaman mendalam mengenai suatu fenomena yang kompleks dalam konteks kehidupan nyata. Crowe dkk. (2011) menjelaskan bahwa pendekatan studi kasus sangat berguna ketika diperlukan pemahaman mendalam dan multidimensional terhadap suatu persoalan dalam konteks alamiahnya. “Kasus” dalam pengertian ini tidak harus berupa seorang pasien. Kasus dapat berupa individu, kelompok, keluarga, organisasi, pelayanan kesehatan, program, komunitas, kebijakan, atau suatu proses tertentu. Peneliti harus menetapkan dengan jelas apa yang menjadi kasus, batas kasus (case boundary), konteks, periode waktu, dan pertanyaan yang ingin dijawab. Data biasanya diperoleh dari lebih dari satu sumber, misalnya wawancara, observasi, dokumen, rekam medis, data kuantitatif, atau sumber lain yang relevan. Penggunaan berbagai sumber bukti tersebut memungkinkan triangulasi sehingga fenomena dapat dipahami secara lebih utuh (Crowe et al., 2011).
Dengan demikian, case study research tidak identik dengan penelitian terhadap “satu orang”. Jumlah subjek bukan karakteristik utama yang menentukan apakah suatu penelitian merupakan studi kasus. Penelitian terhadap satu pasien belum tentu merupakan case study research, sedangkan penelitian terhadap beberapa organisasi atau beberapa program dapat menggunakan desain multiple-case study. Hal yang lebih penting adalah bahwa terdapat suatu kasus yang didefinisikan dan dibatasi secara jelas, dipelajari secara mendalam dalam konteksnya, serta dianalisis secara sistematis untuk menjawab pertanyaan penelitian. Studi kasus terutama bermanfaat untuk menjawab pertanyaan “bagaimana” dan “mengapa”, khususnya ketika batas antara fenomena dan konteksnya tidak mudah dipisahkan. Karena itu, case study research dapat digunakan pada penelitian S1 maupun S2, meskipun kedalaman teori, kompleksitas pertanyaan, integrasi sumber data, dan tuntutan analisis pada jenjang S2 umumnya lebih tinggi.
Berbeda dengan case study research, case report atau laporan kasus klinis terutama bertujuan mendokumentasikan dan mengomunikasikan pengalaman klinis dari satu pasien atau beberapa pasien yang mempunyai karakteristik tertentu. Laporan kasus biasanya menampilkan informasi pasien yang relevan, keluhan atau masalah utama, temuan klinis, pemeriksaan diagnostik, intervensi yang diberikan, perkembangan kasus, follow-up, outcome, serta pelajaran yang dapat diperoleh dari kasus tersebut. Dalam literatur kesehatan, “CARE Guidelines” dikembangkan untuk meningkatkan kelengkapan, transparansi, dan kualitas pelaporan case report. Oleh karena itu, case report lebih tepat dipahami sebagai bentuk pelaporan pengalaman klinis daripada sebagai sinonim dari case study research (Gagnier et al., 2014; Riley et al., 2017).
Perbedaan tersebut menjadi sangat penting dalam pendidikan Profesi Dietisien/Nutrisionis. Seorang mahasiswa profesi dapat menggunakan seorang pasien atau klien sebagai professional clinical case project tanpa harus menjadikan pasien tersebut sebagai “subjek penelitian” dalam pengertian case study research. Tujuan utamanya adalah menunjukkan bahwa mahasiswa mampu memberikan asuhan gizi secara komprehensif, aman, sistematis, dan berbasis bukti. Kasus dipilih karena memiliki kompleksitas yang memungkinkan mahasiswa menunjukkan integrasi berbagai kompetensi, bukan semata-mata karena kasus tersebut menarik untuk diteliti. Dengan demikian, clinical case project merupakan instrumen untuk menunjukkan professional competence dan professional/clinical reasoning.
Pada clinical case project dietisien/nutrisionis, mahasiswa tidak cukup hanya mendeskripsikan apa yang terjadi pada pasien. Mahasiswa harus menunjukkan proses berpikir profesional di balik setiap keputusan. Misalnya, mengapa suatu masalah diprioritaskan, bagaimana diagnosis gizi ditetapkan, mengapa intervensi tertentu dipilih, evidence apa yang mendukung keputusan tersebut, bagaimana kebutuhan pasien diperhitungkan, bagaimana target intervensi ditetapkan, bagaimana respons pasien dimonitor, dan berdasarkan hasil monitoring tersebut apakah intervensi perlu dipertahankan, dimodifikasi, atau dihentikan. Dengan demikian, nilai utama clinical case project bukan terletak pada “keunikan pasien”, tetapi pada kemampuan mahasiswa mengintegrasikan evidence, data pasien, clinical reasoning, nilai dan preferensi pasien, serta konteks pelayanan menjadi keputusan profesional.
Proses Asuhan Gizi Terstandar (PAGT) atau Nutrition Care Process (NCP) menyediakan kerangka yang sangat relevan untuk tujuan tersebut. Academy of Nutrition and Dietetics menjelaskan PAGT atau NCP sebagai pendekatan sistematis dalam pemberian asuhan gizi yang mendukung critical thinking dan decision-making. Proses tersebut terdiri atas empat langkah yang saling berhubungan, yaitu asesmen/reasesmen gizi, diagnosis gizi, intervensi gizi, serta monitoring dan evaluasi gizi. Langkah-langkah ini dikenal sebagai ADIME. Karena keempat langkah tersebut bersifat siklik, hasil monitoring dan evaluasi dapat menghasilkan asesmen ulang dan modifikasi diagnosis maupun intervensi apabila kondisi pasien berubah. Dengan demikian, PAGT bukan sekadar format dokumentasi, tetapi merupakan kerangka pemecahan masalah profesional dalam praktik dietetik.
Clinical case project untuk pendidikan Profesi Dietisien/Nutrisionis dapat dikembangkan lebih jauh daripada laporan ADIME biasa. Setelah melakukan asesmen dan menetapkan diagnosis gizi, mahasiswa perlu mengidentifikasi pertanyaan profesional yang membutuhkan dukungan bukti ilmiah (evidence). Pertanyaan tersebut dapat dirumuskan menggunakan PICO apabila sesuai, kemudian mahasiswa melakukan pencarian literatur, telaah kritis, dan sintesis bukti ilmiah (evidence). Bukti ilmiah (evidence) tersebut selanjutnya dikombinasikan dengan kondisi klinis pasien, kebutuhan dan preferensi pasien, sumber daya, serta konteks pelayanan untuk menentukan intervensi. Intervensi kemudian diimplementasikan dan outcome dievaluasi. Pada tahap akhir mahasiswa melakukan refleksi profesional terhadap keputusan dan hasil yang diperoleh.
Alur clinical case project menggambarkan bahwa penanganan kasus dimulai dengan melakukan asesmen gizi secara komprehensif terhadap pasien atau klien untuk mengidentifikasi masalah gizi, menetapkan diagnosis gizi menentukan prioritas masalah, kemudian merumuskan pertanyaan profesional atau klinis yang relevan, mencari serta melakukan critical appraisal terhadap bukti ilmiah (evidence) terbaik, mengintegrasikan bukti ilmiah (evidence) tersebut dengan kondisi dan preferensi pasien melalui penalaran klinis/professional (professional/clinical reasoning) untuk menentukan intervensi gizi yang tepat, mengimplementasikan intervensi, melakukan monitoring dan evaluasi terhadap respons pasien dan outcome yang dicapai, dilanjutkan dengan reasesmen untuk menentukan kebutuhan modifikasi asuhan, dan diakhiri dengan refleksi profesi guna mengevaluasi kualitas keputusan, proses, hasil, keterbatasan, serta peluang perbaikan praktik profesional selanjutnya.
Sebagai contoh, mahasiswa Profesi Dietisien/Nutrisionis yang menangani atlet senam remaja dengan penurunan berat badan, pembatasan asupan karbohidrat, menstruasi tidak teratur, kelelahan, dan riwayat cedera tidak cukup hanya menuliskan data antropometri, riwayat makan, dan diagnosis gizi. Mahasiswa perlu menjelaskan kemungkinan low energy availability (LEA), menentukan prioritas masalah, mencari bukti ilmiah (evidence) terkait LEA dan Relative Energy Deficiency in Sport (RED-S), menetapkan strategi peningkatan ketersediaan energi dan kecukupan karbohidrat, mempertimbangkan kebutuhan rujukan atau kolaborasi multidisiplin, kemudian mengevaluasi respons atlet terhadap intervensi. Outcome dapat berupa perubahan asupan energi dan karbohidrat, berat badan, gejala, toleransi latihan, siklus menstruasi, kualitas pemulihan, dan indikator lain yang relevan. Kasus tersebut berfungsi untuk menunjukkan kemampuan mahasiswa melakukan asuhan gizi berbasis bukti (evidence-based nutrition care) dan penalaran klinis (clinical reasoning), bukan terutama untuk menemukan mekanisme biologis baru mengenai LEA.
Oleh karena itu, terdapat perbedaan mendasar dalam pertanyaan yang diajukan oleh ketiga pendekatan. Pada case study research, pertanyaan dapat berbentuk “Bagaimana dan mengapa fenomena ini terjadi dalam konteks tertentu?” Pada case report, pertanyaannya lebih dekat dengan “Apa yang terjadi pada pasien ini, bagaimana kasus ditangani, dan pelajaran klinis apa yang dapat diperoleh?” Sementara itu, pada professional clinical case project, pertanyaan utamanya adalah “Apa masalah gizi pasien atau klien, keputusan profesional apa yang harus diambil berdasarkan bukti ilmiah (evidence), bagaimana intervensi dilaksanakan, dan apakah tindakan tersebut menghasilkan outcome yang diharapkan?”
Dengan demikian, penggunaan istilah “studi kasus” dalam tugas akhir Profesi Dietisien/Nutrisionis perlu dilakukan secara hati-hati. Apabila mahasiswa benar-benar melakukan penelitian dengan kasus sebagai unit analisis, mempunyai pertanyaan penelitian, batasan kasus yang diteliti, metode pengumpulan data, triangulasi, dan analisis kasus secara sistematis, istilah case study research dapat digunakan. Apabila mahasiswa hanya melaporkan perjalanan klinis seorang pasien, istilah case report lebih tepat. Namun, apabila tujuan utamanya adalah menunjukkan integrasi kompetensi asuhan gizi, evidence-based practice, clinical reasoning, implementasi intervensi, evaluasi outcome, dan refleksi profesional, istilah professional clinical case project atau proyek kasus klinis profesional lebih tepat digunakan.
Pembedaan tersebut mempunyai implikasi penting terhadap sistem tugas akhir pendidikan Profesi Dietisien/Nutrisionis. Mahasiswa tidak seharusnya diwajibkan “mengubah” setiap kasus pelayanan menjadi penelitian. Sebaliknya, kasus klinis dapat menjadi tugas akhir profesi yang memiliki rigor akademik tinggi apabila mahasiswa mampu menunjukkan proses pengambilan keputusan yang transparan, menggunakan bukti ilmiah (evidence) terbaik, menerapkan PAGT secara benar, mengukur outcome, dan mempertanggungjawabkan keputusan profesionalnya. Dengan pendekatan tersebut, kualitas akademik tetap dipertahankan, tetapi tujuan pendidikan menjadi lebih sesuai dengan karakter pendidikan profesi, yaitu menghasilkan Dietisien/Nutrisionis yang mampu berfungsi sebagai praktisi berbasis bukti (evidence-based practitioner).
Jadi, perbedaannya dapat dirumuskan sebagai berikut: case study research berorientasi pada pemahaman mendalam terhadap suatu fenomena dalam konteks nyata; case report berorientasi pada dokumentasi dan pembelajaran dari perjalanan klinis suatu kasus; sedangkan professional clinical case project berorientasi pada pembuktian kemampuan mahasiswa mengintegrasikan kompetensi, bukti ilmiah (evidence), penalaran klinis/profesi (professional/clinical reasoning), intervensi, dan evaluasi outcome. Ketiganya sama-sama dapat menggunakan “kasus”, tetapi kasus tersebut mempunyai fungsi epistemologis dan pendidikan yang berbeda. Pembedaan inilah yang penting dipertahankan dalam penyusunan pedoman tugas akhir Profesi Dietisien/Nutrisionis agar tujuan, metode, proses pembimbingan, dan sistem penilaiannya sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai.
Contoh ketiga kasus tersebut diberikan berikut ini:
1. Contoh Case Study Research
Misalnya terdapat atlet senam putri usia 16 tahun yang mengalami penurunan berat badan, membatasi karbohidrat, sering merasa lelah, menstruasi tidak teratur, dan mengalami cedera berulang. Kasus ini digunakan sebagai unit penelitian untuk memahami secara mendalam fenomena pembatasan makan dan risiko low energy availability (LEA).
Judul yang dapat digunakan: “Pembatasan Asupan Makanan dan Risiko Low Energy Availability pada Atlet Senam Remaja Putri: Suatu Case Study Research.”
Pertanyaan penelitiannya bukan terutama bagaimana memberikan terapi kepada atlet, tetapi:
“Bagaimana faktor individu, persepsi terhadap bentuk tubuh, pola latihan, pengaruh pelatih, keluarga, dan lingkungan olahraga berkontribusi terhadap pembatasan asupan energi pada atlet tersebut?”
Peneliti menetapkan atlet sebagai kasus yang dibatasi (bounded case), kemudian mengumpulkan berbagai sumber data, misalnya wawancara mendalam dengan atlet, orang tua dan pelatih; riwayat konsumsi; catatan latihan; pengukuran antropometri; riwayat menstruasi dan cedera; observasi lingkungan latihan; serta dokumen lain yang relevan. Data tersebut ditriangulasi dan dianalisis untuk memperoleh pemahaman mendalam mengenai bagaimana dan mengapa fenomena LEA berkembang dalam konteks kehidupan atlet tersebut.
Pada kasus ini alurnya adalah: Research problem → research question → case definition/boundary → multiple sources of evidence → data collection → triangulation → analysis → interpretation → conclusion.
Produk akhirnya adalah temuan penelitian mengenai fenomena yang dipelajari, bukan laporan asuhan gizi.
2. Contoh Case Report
Atlet yang sama dapat digunakan untuk membuat case report, tetapi tujuannya berbeda. Fokusnya adalah mendokumentasikan perjalanan klinis kasus dan pelajaran penting yang dapat diperoleh.
Judulnya, misalnya: “Low Energy Availability pada Atlet Senam Remaja Putri dengan Gangguan Menstruasi dan Cedera Berulang: Sebuah Laporan Kasus.”
Laporan dapat dimulai dengan deskripsi atlet: usia 16 tahun, berat badan turun dari 48 menjadi 44 kg selama beberapa bulan, membatasi nasi dan makanan berlemak, latihan enam hari per minggu, menstruasi menjadi tidak teratur, mengeluh kelelahan, dan mengalami beberapa cedera.
Selanjutnya dijelaskan secara kronologis temuan klinis dan gizi, pemeriksaan yang dilakukan, diagnosis atau penilaian profesional, intervensi yang diberikan, perkembangan kondisi atlet, follow-up, serta outcome. Timeline menjadi penting karena pembaca perlu mengetahui apa yang terjadi terlebih dahulu, tindakan apa yang diberikan, dan bagaimana perkembangan pasien setelah tindakan tersebut.
Alurnya dapat digambarkan: Patient presentation → clinical/nutritional findings → assessment → diagnosis → intervention → follow-up → outcome → lessons learned.
Produk akhirnya adalah laporan perjalanan suatu kasus klinis yang mempunyai nilai pembelajaran, bukan penelitian mendalam terhadap faktor penyebab fenomena tersebut.
3. Contoh Professional Clinical Case Project Profesi Dietisien/Nutrisionis
Kasus atlet yang sama dapat digunakan sebagai tugas akhir Profesi Dietisien, tetapi orientasinya menjadi lebih kuat pada kompetensi profesional dan pengambilan keputusan berbasis bukti ilmiah (evidence).
Judul yang lebih tepat, misalnya: “Asuhan Gizi Terintegrasi Berbasis Bukti Ilmiah (Evidence) pada Atlet Senam Remaja Putri dengan Risiko Low Energy Availability: Professional Clinical Case Project.”
Mahasiswa melakukan asesmen gizi secara komprehensif, termasuk antropometri, riwayat perubahan berat badan, pola konsumsi, estimasi kebutuhan dan ketersediaan energi bila datanya memungkinkan, pola latihan, menstruasi, cedera, gejala gastrointestinal, penggunaan suplemen, pengetahuan gizi, serta faktor psikososial yang relevan. Berdasarkan asesmen tersebut mahasiswa mengidentifikasi masalah, menetapkan diagnosis gizi, dan menentukan prioritas masalah.
Mahasiswa kemudian harus menjawab pertanyaan profesional seperti:
“Intervensi gizi berbasis evidence apa yang paling tepat untuk meningkatkan ketersediaan energi dan memperbaiki kecukupan karbohidrat pada atlet senam remaja dengan risiko LEA tanpa mengganggu program latihan?”
Pertanyaan tersebut mengarahkan mahasiswa melakukan pencarian literatur dan telaah kritis (critical appraisal). Bukti ilmiah (evidence) yang diperoleh tidak sekadar dituliskan dalam tinjauan pustaka, tetapi digunakan dalam penalaran klinis/profesi (Professional/Clinical Reasoning). Mahasiswa harus menjelaskan mengapa intervensi tertentu dipilih, bagaimana intervensi disesuaikan dengan jadwal latihan dan preferensi atlet, bagaimana target ditentukan, kapan diperlukan kolaborasi dengan dokter, psikolog, fisioterapis, atau pelatih, serta bagaimana keberhasilan intervensi akan dievaluasi.
Setelah intervensi dilaksanakan, mahasiswa melakukan monitoring terhadap indikator yang relevan, misalnya kecukupan energi dan karbohidrat, berat badan, fatigue, toleransi latihan, pemulihan, gejala, menstruasi, cedera, dan indikator lain sesuai kewenangan serta ketersediaan data. Hasil monitoring kemudian digunakan untuk melakukan reassessment dan menentukan apakah intervensi perlu dipertahankan atau dimodifikasi.
Alurnya pada kasus ini menjadi: Kasus pasien/klien → Nutrition Assessment → identifikasi masalah → Nutrition Diagnosis → penetapan prioritas → pertanyaan profesional/klinis → pencarian dan critical appraisal evidence → Professional/Clinical Reasoning → Nutrition Intervention → implementasi → Monitoring and Evaluation → outcome → reassessment → Professional Reflection.
Produk akhirnya bukan sekadar laporan pasien, tetapi bukti bahwa mahasiswa mampu memberikan asuhan gizi berbasis evidence dan mempertanggungjawabkan keputusan profesionalnya.
Perbedaan ketiganya dalam satu kasus
Agar lebih mudah memahami, perbedaan ketiga kasus dapat dilihat pada tabel berikut.
Jadi, orang yang sama dapat menjadi “kasus” dalam ketiga pendekatan, tetapi fungsi kasusnya berbeda. Pada case study research, atlet menjadi unit penelitian untuk memahami fenomena; pada case report, atlet menjadi kasus klinis yang perjalanan dan pembelajarannya didokumentasikan; sedangkan pada professional clinical case project, atlet menjadi wahana untuk menunjukkan kompetensi Dietisien dalam assessment, diagnosis, evidence appraisal, clinical reasoning, intervention, monitoring-evaluation, dan refleksi profesional.
Contoh pada Gizi Klinis Rumah Sakit
Pada bagian berikut ini diberikan contoh kasus klinis pada rumah sakit.
1. Case Study Research
Contoh kasus dapat menggunakan pasien kanker kepala dan leher yang mengalami malnutrisi selama menjalani kemoradioterapi.
Contoh judul: “Faktor yang Memengaruhi Terjadinya Malnutrisi pada Pasien Kanker Kepala dan Leher selama Kemoradioterapi: Case Study Research di Rumah Sakit X.”
Fokus penelitian bukan terutama memberikan asuhan gizi kepada seorang pasien, melainkan memahami bagaimana dan mengapa malnutrisi berkembang selama proses perawatan. Peneliti dapat mengeksplorasi interaksi berbagai faktor, seperti penurunan nafsu makan, mukositis, disfagia, perubahan rasa, mual, nyeri, kondisi psikologis, dukungan keluarga, keterlambatan rujukan kepada Dietisien, pemberian oral nutrition supplement, dan sistem pelayanan rumah sakit.
Pertanyaan penelitian dapat dirumuskan sebagai: “Bagaimana interaksi faktor klinis, asupan makanan, dukungan keluarga, dan proses pelayanan gizi berkontribusi terhadap perkembangan malnutrisi pada pasien kanker kepala dan leher selama kemoradioterapi?”
Data dapat berasal dari wawancara pasien dan keluarga, wawancara Dietisien dan tenaga kesehatan, rekam medis, data antropometri, riwayat penurunan berat badan, data asupan, observasi pelayanan, dokumentasi PAGT, dan dokumen rumah sakit yang relevan.
Alurnya adalah : Research problem → research question → penentuan dan pembatasan kasus → multiple sources of evidence → pengumpulan data → triangulasi → analisis → interpretasi → kesimpulan.
Produk akhirnya adalah pemahaman ilmiah yang mendalam mengenai fenomena malnutrisi dalam konteks pelayanan rumah sakit, bukan laporan asuhan gizi pasien.
2. Case Report
Contoh berikutnya dapat berupa pasien dengan short bowel syndrome setelah reseksi usus ekstensif.
Contoh judul: “Penatalaksanaan Gizi pada Pasien Short Bowel Syndrome Pascareseksi Usus Ekstensif: Sebuah Laporan Kasus (Case Report).”
Misalnya pasien laki-laki usia 52 tahun menjalani reseksi usus akibat iskemia mesenterika, kemudian mengalami diare berat, penurunan berat badan, gangguan absorpsi, ketidakseimbangan cairan-elektrolit, dan kesulitan memenuhi kebutuhan melalui makanan oral.
Case report mendokumentasikan secara sistematis perjalanan pasien: kondisi awal, riwayat penyakit, temuan klinis, pemeriksaan laboratorium, status gizi, perkembangan gastrointestinal, terapi medis dan gizi, perubahan rute pemberian zat gizi, follow-up, dan outcome.
Alurnya adalah: Patient presentation → clinical findings → nutritional findings → diagnosis/assessment → treatment and nutrition management → follow-up → outcome → lessons learned.
Fokusnya adalah menjawab: “Apa yang terjadi pada pasien ini, bagaimana pasien ditangani, bagaimana perkembangannya, dan pelajaran klinis apa yang dapat diperoleh?”
Case report menjadi bernilai apabila kasus tersebut memberikan pembelajaran penting mengenai perjalanan penyakit, respons terhadap terapi, tantangan penatalaksanaan, atau keputusan klinis tertentu. Penyusunannya dapat mengikuti CARE Guidelines.
3. Professional Clinical Case Project: menunjukkan kompetensi Dietisien
Contoh ketiga sangat cocok sebagai tugas akhir Profesi Dietisien. Misalnya pasien penyakit ginjal kronik yang kompleks.
Contoh judul: “Asuhan Gizi Terintegrasi Berbasis Bukti Ilmiah (Evidence) pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik Stadium 5 dengan Hemodialisis, Diabetes Melitus, dan Protein-Energy Wasting: Professional Clinical Case Project.”
Misalnya pasien perempuan usia 58 tahun menjalani hemodialisis tiga kali seminggu, mempunyai diabetes melitus, mengalami penurunan berat badan 7% dalam tiga bulan, nafsu makan menurun, asupan energi-protein tidak adekuat, albumin rendah dalam konteks yang perlu diinterpretasikan bersama inflamasi dan kondisi klinis, serta mengalami kesulitan mengatur konsumsi protein, natrium, kalium, fosfor, dan cairan.
Mahasiswa Profesi Dietisien harus menunjukkan bahwa ia mampu melakukan asesmen gizi komprehensif; mengidentifikasi dan memprioritaskan masalah; menetapkan diagnosis gizi; menyusun pertanyaan klinis; mencari serta melakukan telaah kritis terhadap bukti ilmiah (critical appraisal of evidence) dan pedoman; menentukan intervensi berdasarkan penalaraan klinis; mengimplementasikan intervensi; serta mengevaluasi outcome.
Pertanyaan profesionalnya dapat berupa: “Bagaimana strategi intervensi gizi yang paling tepat untuk meningkatkan kecukupan energi dan protein pada pasien hemodialisis dengan risiko wasting akibat kekurangan energi-protein tanpa memperburuk pengendalian glukosa, elektrolit, fosfor, dan cairan?”
Di sinilah penalaran klinis menjadi sangat penting. Mahasiswa harus mempertimbangkan beberapa sasaran yang mungkin saling berkompetisi. Meningkatkan asupan protein, misalnya, tidak dapat dilakukan secara sembarangan tanpa mempertimbangkan kualitas sumber protein, fosfor, kalium, pola makan, pengendalian glukosa, kondisi dialisis, toleransi pasien, dan rekomendasi medis.
Alurnya adalah: Kasus pasien → Nutrition Assessment → identifikasi masalah → Nutrition Diagnosis → prioritas masalah → pertanyaan klinis → pencarian evidence → critical appraisal → Clinical Reasoning → Nutrition Intervention → implementasi → Monitoring and Evaluation → outcome → reassessment → professional reflection.
Outcome dapat meliputi kecukupan energi-protein, perubahan berat badan atau indikator status gizi yang sesuai, toleransi makan, parameter glikemik, kalium dan fosfor serum sesuai konteks klinis, penambahan berat badan interdialisis (interdialytic weight gain/IDWG), kemampuan pasien mengikuti rekomendasi, serta indikator lain yang relevan.
Produk akhirnya adalah Professional Clinical Case Project yang membuktikan kompetensi mahasiswa sebagai calon Dietisien/Nutrisionis, bukan sekadar laporan perjalanan pasien.
Perbandingan singkat ketiga contoh
Perbandingan singkat ketiga kasus diberikan pada Tabel berikut:
Hal yang paling penting adalah bahwa diagnosis penyakit yang kompleks tidak otomatis menjadikan suatu tugas sebagai studi kasus penelitian atau capstone profesi. Pembeda utamanya adalah pertanyaan dan tujuannya. Case study research menggunakan kasus untuk memahami fenomena; case report menggunakan kasus untuk mendokumentasikan perjalanan klinis dan mengambil pembelajaran; sedangkan Professional Clinical Case Project menggunakan kasus untuk membuktikan bahwa mahasiswa mampu melakukan asuhan gizi, menggunakan bukti ilmiah, melakukan penalaran klinis, mengambil keputusan, mengimplementasikan intervensi, dan mengevaluasi outcome secara profesional.
Untuk pedoman tugas akhir Profesi Dietisien/Nutrisionis, disarankan kasus yang dipilih untuk Professional Clinical Case Project harus memiliki tingkat kompleksitas minimum. Misalnya terdapat ≥2 masalah gizi yang saling berkaitan, komorbiditas, kebutuhan penentuan prioritas, keputusan intervensi yang membutuhkan penilaian bukti ilmiah (evidence appraisal), kebutuhan kolaborasi interprofesional, dan outcome yang dapat dimonitor. Dengan kriteria seperti ini, tugas akhir profesi akan berbeda secara jelas dari laporan ADIME rutin selama praktik klinik.
Daftar Pustaka
Academy of Nutrition and Dietetics (n.d.) Nutrition Care Process. Chicago, IL: Academy of Nutrition and Dietetics. Available at: Academy of Nutrition and Dietetics – Nutrition Care Process (Accessed: 1 October 2026).
Crowe, S., Cresswell, K., Robertson, A., Huby, G., Avery, A. and Sheikh, A. (2011) ‘The case study approach’, BMC Medical Research Methodology, 11, article 100. doi: 10.1186/1471-2288-11-100.
Gagnier, J.J., Kienle, G., Altman, D.G., Moher, D., Sox, H., Riley, D. and the CARE Group (2014) ‘The CARE guidelines: Consensus-based clinical case report guideline development’, Journal of Clinical Epidemiology, 67(1), pp. 46–51. doi: 10.1016/j.jclinepi.2013.08.003.
Riley, D.S., Barber, M.S., Kienle, G.S., Aronson, J.K., von Schoen-Angerer, T., Tugwell, P., Kiene, H., Helfand, M., Altman, D.G., Sox, H., Werthmann, P.G., Moher, D., Rison, R.A., Shamseer, L., Koch, C.A., Sun, G.H., Hanaway, P., Sudak, N.L., Kaszkin-Bettag, M., Carpenter, J.E. and Gagnier, J.J. (2017) ‘CARE guidelines for case reports: Explanation and elaboration document’, Journal of Clinical Epidemiology, 89, pp. 218–235. doi: 10.1016/j.jclinepi.2017.04.026.
Yin, R.K. (2018) Case Study Research and Applications: Design and Methods. 6th edn. Thousand Oaks, CA: SAGE Publications.
No comments:
Post a Comment