Laman

Saturday, October 3, 2026

Diet ketogenik memperbaiki kesehatan hati

Hadi Riyadi

Makan lebih banyak lemak untuk mengurangi lemak di hati terdengar bertentangan dengan akal sehat. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa diet ketogenik, yaitu pola makan yang sangat membatasi karbohidrat dan menggunakan lemak sebagai sumber energi utama, dapat membantu mengurangi penumpukan lemak di hati. Temuan ini memberi harapan bagi orang dengan obesitas dan gangguan metabolisme. Meski demikian, memperbaiki beberapa ukuran kesehatan hati belum berarti menyembuhkan seluruh penyakit hati.


Ilustrasi realistis pasien perlemakan hati yang berkonsultasi dengan dokter. Gambar dibuat dengan AI untuk keperluan edukasi.

Hati merupakan pusat pengolahan zat gizi. Organ ini membantu mengatur gula darah, mengolah lemak, dan menyimpan energi. Ketika lemak yang masuk atau terbentuk di hati melebihi jumlah yang digunakan dan dikeluarkan, lemak dapat menumpuk. Jika penumpukan tersebut disertai gangguan metabolisme, seperti obesitas atau gula darah tinggi, kondisi ini dikenal sebagai metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease atau MASLD. Dalam bahasa sederhana, MASLD adalah penyakit perlemakan hati yang berkaitan dengan gangguan metabolisme. Pada sebagian orang, penyakit ini dapat berkembang menjadi peradangan dan jaringan parut di hati.

Kabar terbaru tentang manfaat diet ketogenik dibahas dalam penelitian Petersen et al. (2026) yang berjudul “Effect of Diet Macronutrient Content on the Cardiometabolic Response to Weight Loss: A Randomized Clinical Trial”. Artikel tersebut tersebut mengulas penelitian yang membandingkan tiga pola makan pada orang dengan obesitas, pradiabetes, dan perlemakan hati. Pradiabetes berarti kadar gula darah sudah lebih tinggi daripada normal, tetapi belum memenuhi kriteria diabetes. Penelitian ini menarik karena penurunan berat badan dibuat hampir sama pada ketiga kelompok, sehingga peneliti dapat menilai apakah komposisi makanan memberikan manfaat tambahan.

Penelitian yang diterbitkan dalam Cell Metabolism itu melibatkan 55 peserta yang dibagi secara acak ke dalam kelompok diet ketogenik, diet Mediterania, atau diet sangat rendah lemak yang mengutamakan pangan nabati. Sebanyak 42 peserta menyelesaikan penelitian. Seluruh makanan disediakan oleh tim peneliti, dan peserta mendapat pendampingan dietisien setiap minggu. Setelah sekitar lima bulan, ketiga kelompok kehilangan kurang lebih 10% berat badan. Hasilnya, lemak hati berkurang sekitar 67% pada kelompok ketogenik, dibandingkan sekitar 45% pada masing-masing kelompok lainnya. Respons hati terhadap insulin juga membaik lebih besar pada kelompok ketogenik (Petersen et al., 2026).

Angka 67% tersebut merupakan penurunan relatif kandungan lemak hati dibandingkan keadaan awal. Angka itu tidak berarti bahwa 67% peserta telah sembuh, ataupun seluruh kerusakan hati sudah pulih. Namun, penurunan yang lebih besar pada tingkat kehilangan berat badan yang hampir sama menunjukkan bahwa susunan makanan dapat memengaruhi hasil kesehatan, selain jumlah berat badan yang turun.

Bagaimana hal ini dapat terjadi? Hati tidak hanya menerima lemak dari makanan dan jaringan tubuh, tetapi juga dapat membuat lemak baru dari bahan yang berasal dari karbohidrat. Pembatasan karbohidrat dapat mengurangi dorongan pembentukan lemak tersebut. Pada saat yang sama, tubuh meningkatkan penggunaan lemak sebagai bahan bakar dan hati menghasilkan keton, yaitu senyawa yang dapat digunakan sebagai sumber energi. Penelitian kecil sebelumnya juga menunjukkan bahwa diet ketogenik dapat mengurangi lemak hati dan mengubah cara hati mengolah energi (Luukkonen et al., 2020).

Diet ketogenik dalam penelitian terbaru sangat ketat: hanya sekitar 4% energi berasal dari karbohidrat, sedangkan 73% dari lemak dan 23% dari protein. Karena itu, mengurangi sedikit porsi nasi belum tentu membuat pola makan seseorang menjadi ketogenik. Dalam kehidupan sehari-hari, pembatasan sebesar ini menuntut perubahan besar pada konsumsi nasi, mi, roti, makanan manis, dan sejumlah pangan lain. Kondisi tersebut membantu menjelaskan mengapa diet ini sering sulit dipertahankan.

Hal lain yang perlu diperhatikan ialah bahwa semua kelompok dalam penelitian mengalami perbaikan. Diet Mediterania dan diet rendah lemak berbasis pangan nabati juga menurunkan berat badan dan mengurangi lemak hati secara bermakna. Dengan demikian, seseorang tetap dapat memperoleh manfaat tanpa harus mengikuti diet ketogenik. Pilihan pola makan perlu mempertimbangkan kondisi kesehatan, kebiasaan makan, kemampuan menyediakan makanan, dan kesanggupan menjalaninya dalam waktu lama.

Pedoman bersama organisasi ilmiah hati, diabetes, dan obesitas Eropa menempatkan penurunan berat badan yang bertahan sebagai bagian penting penanganan MASLD. Pada orang dengan berat badan berlebih, penurunan sedikitnya 5% ditargetkan untuk mengurangi lemak hati, 7–10% untuk memperbaiki peradangan, dan sedikitnya 10% untuk membantu memperbaiki jaringan parut. Angka tersebut merupakan sasaran berdasarkan bukti penelitian, bukan jaminan bahwa setiap orang akan memperoleh hasil yang sama (EASL, EASD and EASO, 2024).

Kualitas makanan tetap perlu dijaga. Label “keto” tidak otomatis menunjukkan bahwa suatu makanan sehat. Pola makan tinggi lemak dapat disusun dari bahan segar, tetapi juga dapat didominasi produk olahan. Mengurangi karbohidrat sebaiknya tetap disertai perhatian terhadap kecukupan zat gizi dan pilihan sumber lemak. Pedoman MASLD menganjurkan perbaikan kualitas makanan, pembatasan pangan ultra-proses yang kaya gula dan lemak jenuh, serta penghindaran minuman berpemanis. Aktivitas fisik juga dianjurkan untuk membantu mengurangi lemak hati.

Temuan terbaru ini belum cukup untuk menyatakan bahwa diet ketogenik merupakan pilihan terbaik bagi semua penderita perlemakan hati. Jumlah peserta relatif kecil, pengamatan hanya berlangsung beberapa bulan, dan makanan disediakan dalam kondisi yang sangat terkontrol. Penelitian tersebut juga belum membuktikan bahwa diet ketogenik memperbaiki jaringan parut hati atau mencegah sirosis dalam jangka panjang. Hasil pada orang dengan obesitas dan pradiabetes tidak dapat langsung diterapkan pada seluruh kelompok pasien.

Bagi orang yang ingin mencoba diet ketogenik karena memiliki perlemakan hati, pendampingan dokter dan dietisien membantu memastikan bahwa pilihan makanan dan pemantauan sesuai dengan kondisi kesehatannya. Keberhasilan perlu dinilai melalui perubahan kesehatan, bukan hanya angka timbangan atau keberadaan keton.

Diet ketogenik membuka peluang untuk memperbaiki kesehatan hati, terutama melalui pengurangan lemak hati pada orang dengan obesitas dan gangguan metabolisme. Bukti terbaru menjanjikan, tetapi manfaat jangka panjang masih perlu dipastikan. Pesan praktisnya tetap jelas: kurangi kelebihan energi, perbaiki kualitas makanan, aktif bergerak, dan pilih pola makan yang dapat dijalankan secara konsisten.

Referensi

Abbasi, J. (2026) ‘The ketogenic diet improved liver health in trial, but what does that mean in the real world?’, JAMA. Dipublikasikan daring 2 Oktober. Tersedia pada: https://doi.org/10.1001/jama.2026.18718.

European Association for the Study of the Liver (EASL), European Association for the Study of Diabetes (EASD) and European Association for the Study of Obesity (EASO) (2024) ‘EASL–EASD–EASO clinical practice guidelines on the management of metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease (MASLD)’, Obesity Facts, 17(4), pp. 374–444. Tersedia pada: https://doi.org/10.1159/000539371.

Luukkonen, P.K., Dufour, S., Lyu, K., Zhang, X.-M., Hakkarainen, A., Lehtimäki, T.E., Cline, G.W., Petersen, K.F., Shulman, G.I. and Yki-Järvinen, H. (2020) ‘Effect of a ketogenic diet on hepatic steatosis and hepatic mitochondrial metabolism in nonalcoholic fatty liver disease’, Proceedings of the National Academy of Sciences, 117(13), pp. 7347–7354. Tersedia pada: https://doi.org/10.1073/pnas.1922344117.

Petersen, M.C., Smith, G.I., Farabi, S.S., Palacios, H.H., Shankaran, M., Hellerstein, M.K., Patterson, B.W. and Klein, S. (2026) ‘Effect of diet macronutrient content on the cardiometabolic response to weight loss: A randomized clinical trial’, Cell Metabolism. Dipublikasikan daring 27 Agustus. Tersedia pada: https://doi.org/10.1016/j.cmet.2026.07.020.


No comments: