Mengganti Jenis Garam Dapat Mengurangi Risiko Stroke Berulang
Hadi Riyadi
Setelah mengalami stroke, seseorang dan keluarganya biasanya berusaha memperbaiki banyak kebiasaan, mulai dari minum obat secara teratur hingga memilih makanan sehari-hari. Salah satu perubahan yang tampak sederhana ternyata memiliki dasar ilmiah: mengganti garam biasa dengan garam yang sebagian natriumnya digantikan oleh kalium. Penelitian menunjukkan bahwa langkah ini dapat membantu mengurangi kejadian stroke berulang. Namun, jenis garam dan kondisi kesehatan penggunanya perlu diperhatikan.
Ilustrasi realistis penyintas stroke bersama keluarga saat berkonsultasi tentang garam rendah natrium yang mengandung kalium. Gambar dibuat dengan AI untuk keperluan edukasi.Bukti terbaru datang dari penelitian yang diterbitkan dalam JAMA Cardiology pada 2025. Peneliti menganalisis 15.249 orang dengan riwayat stroke dalam Salt Substitute and Stroke Study atau SSaSS, sebuah uji klinis yang dilakukan di 600 desa di Tiongkok. Analisis pada kelompok penyintas stroke ini telah direncanakan sebelumnya. Desa-desa dibagi secara acak untuk menggunakan garam biasa atau garam pengganti yang mengandung 75% natrium klorida dan 25% kalium klorida.
Selama pengamatan sekitar lima tahun, penggunaan garam pengganti menurunkan laju kejadian stroke berulang secara relatif sebesar 14% dan kematian karena semua penyebab sebesar 12%. Secara absolut, perbedaannya setara dengan sekitar 5,5 kejadian stroke berulang lebih sedikit untuk setiap 1.000 orang yang diikuti selama satu tahun. Angka 14% bukan berarti risiko setiap orang turun sebesar 14 poin persentase, melainkan menunjukkan perbandingan laju kejadian antara kedua kelompok (Ding et al., 2025).
Temuan tersebut memperluas hasil utama SSaSS yang diterbitkan dalam New England Journal of Medicine pada 2021. Penelitian induk itu melibatkan hampir 21.000 orang yang pernah mengalami stroke atau berusia lanjut dengan tekanan darah tinggi. Penggunaan garam pengganti menghasilkan lebih sedikit kejadian stroke, penyakit kardiovaskular utama, dan kematian. Dengan demikian, publikasi 2025 memberikan penjelasan lebih khusus mengenai manfaat pada orang yang sudah pernah terkena stroke, bukan penelitian baru yang sepenuhnya terpisah (Neal et al., 2021).
Mengapa perubahan garam dapat berpengaruh? Salah satu penghubung utamanya adalah tekanan darah. Konsumsi natrium berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah, sedangkan tekanan darah tinggi merupakan faktor penting dalam terjadinya stroke. Natrium sendiri tetap dibutuhkan tubuh, tetapi jumlah yang berlebihan menjadi masalah. Mengurangi natrium dari makanan membantu mengurangi salah satu beban pada sistem pembuluh darah.
Garam pengganti mengubah dua hal sekaligus: mengurangi natrium dan menambah kalium. Kalium turut berperan dalam pengaturan tekanan darah. Karena keduanya berubah bersamaan, manfaatnya tidak tepat dikaitkan hanya dengan pengurangan natrium. Pedoman WHO tahun 2025 menjelaskan bahwa kandungan kalium ikut berkontribusi terhadap efek penurunan tekanan darah dari garam pengganti.
Masyarakat perlu mengenali produk yang dimaksud. Garam pengganti dalam penelitian merupakan campuran dengan komposisi mineral tertentu. Karena itu, memilih produk tidak cukup berdasarkan warna, asal, harga, atau tulisan “alami” pada kemasannya. Periksa kandungan natrium dan keberadaan kalium klorida pada label. Garam yang digunakan juga sebaiknya beryodium agar tetap mendukung pemenuhan kebutuhan yodium.
Meski natriumnya lebih rendah, jumlah pemakaiannya tetap harus dibatasi. WHO menganjurkan orang dewasa mengonsumsi kurang dari 2.000 mg natrium per hari, setara dengan kurang dari 5 gram garam biasa, bahkan menurut Institute of Medicine di Amerika ajurannya lebih rendah lagi, yaitu 1.500 mg natrium per hari. Jumlah tersebut mencakup seluruh makanan dan minuman, bukan hanya garam yang ditambahkan saat memasak. Kecap, saus, bumbu instan, makanan asin, dan produk olahan juga dapat menyumbang natrium. Mengganti garam di dapur akan memberi manfaat lebih besar bila disertai perhatian terhadap sumber-sumber tersebut.
Sebagai contoh penerapan sehari-hari, keluarga dapat mulai dengan membaca label bumbu yang paling sering digunakan. Bila suatu masakan sudah memakai kecap atau saus, tambahan garam perlu dipertimbangkan kembali. Aroma bawang, jahe, kunyit, serai, daun jeruk, dan rasa asam dari jeruk nipis dapat membantu membuat masakan tetap menarik ketika rasa asinnya dikurangi. Perubahan bertahap juga memberi kesempatan bagi keluarga untuk menyesuaikan selera.
Namun, garam berkalium tidak cocok digunakan bebas oleh semua orang. Pada orang dengan gangguan ginjal atau kondisi yang menghambat pembuangan kalium, kadarnya dapat meningkat dalam darah dan membahayakan kesehatan. Perhatian khusus juga diperlukan pada pengguna suplemen kalium dan obat yang menahan kalium, seperti kelompok diuretik hemat kalium. Penyintas stroke sebaiknya membicarakan penggantian garam dengan dokter atau dietisien, terutama bila memiliki penyakit ginjal atau menggunakan beberapa obat.
WHO memberikan rekomendasi bersyarat untuk penggantian garam biasa dengan garam rendah natrium yang mengandung kalium pada orang dewasa yang sesuai. Rekomendasi tersebut tidak mencakup anak-anak, ibu hamil, serta orang dengan gangguan pembuangan kalium. Karena masakan sering dimakan bersama, kondisi anggota keluarga lain juga perlu diperhatikan sebelum mengganti seluruh garam rumah tangga (WHO, 2025).
Penggantian garam merupakan bagian dari pencegahan stroke berulang yang lebih luas. Obat yang diresepkan tetap diperlukan sesuai penyebab stroke dan kondisi pasien. Pengendalian tekanan darah, berhenti merokok, pengaturan makanan, aktivitas fisik sesuai kemampuan, dan pemeriksaan berkala tetap penting. Pedoman pencegahan stroke menekankan bahwa penanganan perlu disesuaikan dengan penyebab serangan sebelumnya (American Heart Association 2021).
Bagi penyintas stroke yang sesuai secara medis, mengganti jenis garam dapat menjadi langkah praktis yang dimulai dari dapur keluarga. Manfaatnya dibangun melalui penggunaan yang tepat dan kebiasaan sehari-hari yang konsisten, bersama pengobatan serta pemantauan kesehatan.
Referensi
Ding, X., Zhang, X., Huang, L. et al. (2025) ‘Salt substitution and recurrent stroke and death: A randomized clinical trial’, JAMA Cardiology, 10(4), pp. 343–350. https://doi.org/10.1001/jamacardio.2024.5417.
Neal, B., Wu, Y., Feng, X. et al. (2021) ‘Effect of salt substitution on cardiovascular events and death’, New England Journal of Medicine, 385(12), pp. 1067–1077. https://doi.org/10.1056/NEJMoa2105675.
World Health Organization (2025) Use of lower-sodium salt substitutes: WHO guideline. Geneva: World Health Organization. https://www.who.int/publications/i/item/9789240105591.
World Health Organization (tanpa tahun) ‘Sodium reduction’. Tersedia pada: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/sodium-reduction (Diakses: 3 Oktober 2026).
American Heart Association (2021) ‘Risk of second stroke can be reduced with prevention efforts based on cause of first stroke’. Tersedia pada: American Heart Association.

No comments:
Post a Comment