Laman

Wednesday, October 14, 2026

Kasus Havasupai: Pentingnya Persetujuan dalam Penelitian

Hadi Riyadi

Keterangan gambar: Ilustrasi simbolis kasus Havasupai yang menekankan pentingnya persetujuan, penghormatan terhadap masyarakat adat, dan kepercayaan dalam penelitian. Dibuat menggunakan AI; bukan foto tokoh atau dokumentasi peristiwa sebenarnya.

        Bayangkan seseorang bersedia memberikan darahnya karena ingin membantu peneliti memahami penyakit yang banyak menyerang keluarganya. Bertahun-tahun kemudian, ia mengetahui bahwa darah tersebut juga digunakan untuk meneliti penyakit jiwa dan asal-usul leluhurnya, tanpa penjelasan yang ia pahami sebelumnya. Ia mungkin merasa kecewa, marah, dan kehilangan kepercayaan. Persoalannya bukan hanya untuk apa darah itu digunakan, tetapi juga siapa yang berhak menentukan penggunaannya.
        Situasi itulah yang menjadi inti kasus Havasupai, sebuah komunitas masyarakat adat Amerika Serikat yang tinggal di kawasan Grand Canyon, Arizona. Kisah ini dibahas dalam buku On Being a Scientist: A Guide to the Responsible and Ethical Conduct of Research, edisi keempat, sebagai pelajaran tentang hubungan antara penelitian, persetujuan, dan kepercayaan masyarakat (National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine, 2026). Kasus tersebut memperlihatkan bahwa kecakapan ilmiah harus berjalan bersama tanggung jawab terhadap orang-orang yang memungkinkan penelitian berlangsung.

Harapan untuk memahami diabetes
        Kisah ini bermula pada 1989, ketika anggota masyarakat Havasupai meminta bantuan peneliti Arizona State University (ASU) untuk memahami tingginya kejadian diabetes di komunitas mereka. Hubungan dengan universitas sebenarnya telah terbangun cukup lama melalui kegiatan seorang antropolog, John Martin. Hubungan tersebut menjadi dasar kepercayaan ketika penelitian mengenai kemungkinan faktor genetik diabetes mulai direncanakan.
        Pengambilan darah dilakukan pada awal 1990-an. Bagi masyarakat yang berpartisipasi, memberikan sampel merupakan bagian dari usaha mencari jawaban atas masalah kesehatan yang mereka hadapi. Mereka berharap penelitian dapat menghasilkan pengetahuan yang berguna bagi keluarga dan komunitasnya.
        Namun, sampel tersebut kemudian digunakan pula dalam penelitian mengenai skizofrenia, hubungan kekerabatan biologis atau inbreeding, serta migrasi manusia. Pada 2003, Carletta Tilousi, seorang anggota Havasupai, menghadiri ujian disertasi dan mempertanyakan bagaimana persetujuan pemilik sampel diperoleh. Peristiwa ini menjadi titik penting terbukanya persoalan penggunaan darah di luar penelitian diabetes (Arizona Court of Appeals, 2008).

Mengapa tanda tangan tidak cukup?
        Pusat persoalannya adalah perbedaan antara apa yang tertulis dalam formulir dan apa yang dipahami oleh peserta. Formulir persetujuan menggunakan ungkapan luas tentang penelitian penyebab gangguan perilaku atau medis. Peneliti memandang rumusan tersebut mencakup beragam penelitian, sedangkan anggota masyarakat memahami bahwa darah mereka diberikan untuk penelitian diabetes (Sterling, 2011).
        Perbedaan ini menunjukkan arti penting informed consent, atau persetujuan setelah penjelasan. Persetujuan merupakan proses komunikasi agar seseorang memahami kegiatan yang akan dilakukan, kemungkinan risiko dan manfaatnya, serta pilihan yang tersedia. Tanda tangan merupakan dokumentasi dari proses tersebut; keberadaannya tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa pemahaman telah tercapai.
        Dalam kasus Havasupai, pertanyaan etik yang mendasar ialah apakah peserta benar-benar mengetahui dan menyetujui penggunaan darahnya untuk tujuan lain. Jika penjelasan yang mereka terima berpusat pada diabetes, kalimat yang sangat luas dalam formulir tidak otomatis menyelesaikan kesenjangan pemahaman tersebut (Sterling, 2011). 

Darah memiliki makna yang melampaui laboratorium
        Di laboratorium, darah dapat dipandang sebagai bahan biologis yang mengandung informasi genetik. Bagi pemberinya, darah juga dapat memiliki makna pribadi, keluarga, budaya, dan spiritual. Perbedaan cara memandang ini perlu dipahami sebelum penelitian dimulai.
Menurut uraian dalam buku On Being a Scientist, penelitian migrasi yang menggunakan sampel Havasupai menghasilkan penjelasan tentang asal-usul leluhur dari Asia. Penjelasan tersebut bertentangan dengan keyakinan Havasupai bahwa masyarakat mereka berasal dari Grand Canyon. Penelitian mengenai skizofrenia dan inbreeding juga menyentuh persoalan sensitif yang dapat memengaruhi bagaimana komunitas dipandang oleh orang lain (National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine, 2026).
        Menghormati budaya tidak berarti peneliti harus menyesuaikan hasil ilmiah dengan suatu kepercayaan. Tanggung jawabnya adalah menjelaskan tujuan penelitian secara jujur, menghormati keputusan masyarakat mengenai partisipasi, dan mempertimbangkan dampak sosial dari penelitian tersebut. Kebebasan mengembangkan pengetahuan tidak menghapus kewajiban untuk memperoleh akses terhadap sampel secara etis.
        Kasus ini juga membantu kita memahami bahwa risiko penelitian dapat melampaui rasa sakit akibat pengambilan darah. Rasa dikhianati, kekhawatiran terhadap stigma, dan terganggunya hubungan dengan lembaga penelitian merupakan dampak yang perlu diperhitungkan.

Penyelesaian sengketa dan batas maknanya
        Pada April 2010, sengketa diselesaikan melalui kesepakatan yang mencakup pembayaran sebesar US$700.000 kepada 41 anggota Havasupai. Kesepakatan juga mencakup pengembalian sampel darah serta bantuan pendidikan dan dukungan untuk memperoleh pendanaan bagi fasilitas kesehatan. Pengembalian sampel memiliki arti penting karena berkaitan dengan penghormatan terhadap kehendak para pemberinya (Mello dan Wolf, 2010; Sterling, 2011).
        Ada satu rincian yang perlu diperjelas ketika menceritakan hasil kasus ini. Pernyataan bahwa perkara tersebut tidak menghasilkan preseden hukum perlu dibatasi pada pokok sengketa mengenai penggunaan sampel dan persetujuan. Pengadilan banding Arizona sudah mengeluarkan putusan pada 2008 mengenai persoalan prosedural gugatan. Akan tetapi, penyelesaian melalui kesepakatan pada 2010 membuat pokok sengketanya tidak berakhir dengan putusan akhir pengadilan yang menentukan batas persetujuan untuk penggunaan sekunder sampel (Arizona Court of Appeals, 2008; Garrison, 2013).

Kepercayaan yang rusak memengaruhi penelitian berikutnya
        Kesepakatan dapat mengakhiri sengketa, tetapi membangun kembali kepercayaan membutuhkan waktu lebih panjang. Pengalaman satu komunitas dapat memengaruhi cara komunitas lain menilai tawaran penelitian. Kekhawatiran yang muncul cukup masuk akal: apakah peneliti akan menggunakan sampel sesuai penjelasan awal, dan apakah masyarakat akan tetap memiliki suara setelah sampel dibawa ke laboratorium?
        Penelitian Garrison (2013), melalui wawancara dengan peneliti genetika dan ketua komite etik, menemukan bahwa tanggapan terhadap kasus Havasupai tidak seragam. Sebagian responden tidak melihat pengaruh langsung terhadap pekerjaannya. Pada sebagian lainnya, tanggapan yang muncul berupa keinginan memperoleh persetujuan yang lebih luas atau menghindari penelitian dengan masyarakat adat. Temuan ini menunjukkan bahwa perhatian terhadap sengketa belum tentu menghasilkan hubungan penelitian yang lebih baik.
Menghindari masyarakat yang dianggap “sulit” juga dapat menimbulkan persoalan keadilan. Komunitas yang sudah kurang terwakili dalam penelitian berisiko semakin jauh dari kesempatan memperoleh manfaatnya. Karena itu, perbaikan perlu diarahkan pada cara membangun kemitraan dan berbagi kewenangan, bukan sekadar melindungi institusi dari gugatan (Garrison, 2013).

Melibatkan masyarakat sejak merancang penelitian
        Salah satu langkah yang dapat dilakukan ialah melibatkan calon peserta dan perwakilan masyarakat dalam penyusunan penjelasan penelitian. Mereka dapat membantu menunjukkan istilah yang membingungkan, kekhawatiran yang belum dibahas, dan penggunaan sampel yang dianggap sensitif.
        Skinner et al. (2015) menggunakan prinsip penelitian partisipatif berbasis masyarakat untuk mengembangkan materi perekrutan dan persetujuan dalam penelitian genomik. Pendekatan tersebut menempatkan pandangan masyarakat sebagai masukan bagi penyusunan dokumen yang lebih mudah dipahami. Dengan demikian, peneliti tidak hanya menilai kejelasan formulir dari sudut pandangnya sendiri.
        Pendekatan serupa dikembangkan oleh De Sutter et al. (2022) dalam perancangan persetujuan elektronik. Pelibatan peserta membantu mengidentifikasi kebutuhan informasi dan bentuk komunikasi berkelanjutan dengan tim penelitian. Pelajarannya adalah bahwa mengganti kertas dengan layar belum cukup. Teknologi perlu mendukung pemahaman dan komunikasi, bukan hanya mempermudah pengumpulan tanda tangan. Kedua penelitian ini memberikan contoh pendekatan perbaikan; keduanya bukan penelitian yang secara langsung menguji pemulihan kepercayaan masyarakat Havasupai.
        Pada tahun 2024 di dalam Deklarasi Helsinki 2024 memperkuat kedudukan peserta sebagai pihak yang memiliki suara dalam penelitian, termasuk sejak tahap perencanaan.  Oleh karena itu Deklarasi Helsinki 2024 telah mengganti istilah human subjects menjadi human participants, yang dapat diterjemahkan sebagai “partisipan penelitian” atau “peserta penelitian”. Peneliti harus memfasilitasi calon partisipan, partisipan terdaftar, dan komunitas mereka untuk membagikan prioritas serta nilai-nilai mereka; berpartisipasi dalam perancangan penelitian, implementasi, dan kegiatan Relevan lainnya; serta terlibat dalam memahami dan menyebarluaskan hasil penelitian.

Kewenangan masyarakat juga perlu dihormati
        Dalam konteks masyarakat adat Amerika Serikat, hubungan penelitian melibatkan pula kewenangan pemerintahan suku. Karena itu, persetujuan individu dan kewenangan komunitas perlu diperhatikan sesuai konteksnya. Izin dari pemimpin komunitas tidak seharusnya menghapus kebebasan individu untuk menolak, sementara persetujuan individu tidak membuat kepentingan dan kewenangan komunitas menjadi tidak relevan.  Contohnya adalah Navajo Nation Human Research Review Board, yang menjalankan kewenangan untuk mengatur dan mengawasi penelitian di wilayah Navajo. Namun, kronologinya perlu dijelaskan dengan tepat: badan ini dibentuk pada Maret 1996, sehingga tidak tepat menyebut pembentukannya sebagai akibat langsung dari terungkapnya kasus Havasupai pada 2003 atau penyelesaian sengketanya pada 2010. Keberadaannya menunjukkan bahwa upaya masyarakat adat mengendalikan penelitian memiliki sejarah yang lebih luas daripada satu kasus saja.

Pelajaran bagi mahasiswa dan peneliti
        Bagi penelitian gizi dan kesehatan, pelajaran Havasupai sangat relevan. Bayangkan darah dikumpulkan untuk menilai anemia, kemudian akan digunakan untuk penelitian genetik yang berbeda. Sebelum melanjutkan, peneliti perlu memeriksa isi persetujuan, penjelasan yang telah diberikan kepada peserta, dan persyaratan penelaahan etik. Keberadaan sampel di lemari penyimpanan tidak dengan sendirinya memberikan kewenangan untuk menggunakannya bagi setiap pertanyaan penelitian.
Sebagai penerapan pelajaran kasus ini, beberapa pertanyaan berikut layak diajukan sejak perencanaan:
• Apakah peserta memahami tujuan penelitian dengan kata-katanya sendiri?
• Apakah penyimpanan dan kemungkinan penggunaan sampel pada masa depan sudah dijelaskan?
• Apakah batas penggunaan, pembagian kepada pihak lain, dan pilihan peserta telah dibicarakan?
• Apakah penelitian dapat menimbulkan dampak terhadap keluarga atau komunitas, selain terhadap individu?
• Apakah tersedia saluran untuk bertanya, menyampaikan keberatan, dan memperoleh informasi perkembangan penelitian?
        Mahasiswa atau peneliti muda yang menemukan ketidaksesuaian antara penggunaan sampel dan pemahaman peserta perlu memiliki ruang untuk menyampaikan pertanyaan. On Being a Scientist menganjurkan agar persoalan tersebut dibicarakan dengan peneliti senior, komite etik, atau pejabat integritas penelitian. Buku itu juga mengingatkan bahwa persetujuan komite etik telah ada dalam kasus Havasupai. Artinya, dokumen dan prosedur harus disertai penghormatan yang nyata dalam pelaksanaannya (National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine, 2026).
        Kasus Havasupai memperlihatkan betapa besar tanggung jawab yang menyertai penerimaan sampel dari manusia. Ketika seseorang memberikan darah untuk penelitian, ia juga mempercayakan harapan dan sebagian informasi tentang dirinya. Kepercayaan tersebut perlu dijaga sepanjang perjalanan penelitian, termasuk ketika muncul pertanyaan ilmiah baru yang tidak dibayangkan pada saat sampel pertama kali dikumpulkan.

Daftar Pustaka
Arizona Court of Appeals (2008) Havasupai Tribe v. Arizona Board of Regents, 220 Ariz. 214, 204 P.3d 1063. Putusan 28 November 2008. Tersedia pada: dokumen putusan pengadilan.
De Sutter, E., Geerts, D., Borry, P., Coteur, K., Bamps, D., Marynissen, H., Ampe, E., Geenens, E., Depré, M. and Huys, I. (2022) ‘Co-creation with research participants to inform the design of electronic informed consent’, Digital Health, 8, 20552076221109068. https://doi.org/10.1177/20552076221109068.
Garrison, N.A. (2013) ‘Genomic justice for Native Americans: Impact of the Havasupai case on genetic research’, Science, Technology, & Human Values, 38(2), pp. 201–223. https://doi.org/10.1177/0162243912470009.
Mello, M.M. and Wolf, L.E. (2010) ‘The Havasupai Indian Tribe case—Lessons for research involving stored biologic samples’, New England Journal of Medicine, 363, pp. 204–207. https://doi.org/10.1056/NEJMp1005203.
National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine (2026) ‘Earning and maintaining trust’, in On Being a Scientist: A Guide to the Responsible and Ethical Conduct of Research. 4th edn. Washington, DC: The National Academies Press. https://doi.org/10.17226/29488/3.1.0.
Navajo Nation Human Research Review Board (tanpa tahun) About NNHRRB. Tersedia pada: https://nnhrrb.navajo-nsn.gov/aboutNNHRRB.html (Diakses: 13 Oktober 2026).
Skinner, H.G., Calancie, L., Vu, M.B., Garcia, B., DeMarco, M., Patterson, C. and Ammerman, A. (2015) ‘Using community-based participatory research principles to develop more understandable recruitment and informed consent documents in genomic research’, PLOS ONE, 10(5), e0125466. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0125466.
Sterling, R.L. (2011) ‘Genetic research among the Havasupai: A cautionary tale’, Virtual Mentor, 13(2), pp. 113–117. https://doi.org/10.1001/virtualmentor.2011.13.2.hlaw1-1102.
World Medical Association (2024) WMA Declaration of Helsinki: Ethical Principles for Medical Research Involving Human Participants.









No comments: