Laman

Thursday, October 22, 2026

 Kopi, Teh, dan Daya Ingat: Benarkah Membantu Melindungi Otak?

Hadi Riyadi

Keterangan gambar: Ilustrasi menikmati kopi dan teh sambil membaca dan berbincang, sebagai pengantar pembahasan hubungan konsumsi minuman tersebut dengan daya ingat dan kesehatan otak. Gambar dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI); tokoh dan suasana bersifat ilustratif, bukan dokumentasi individu atau peserta penelitian sebenarnya.

Secangkir kopi pada pagi hari atau teh hangat pada sore hari merupakan bagian dari keseharian banyak orang. Minuman ini menemani percakapan, pekerjaan, dan waktu beristirahat. Ketika muncul berita bahwa kopi dan teh berkaitan dengan risiko demensia yang lebih rendah, pertanyaan pun timbul: apakah kebiasaan sederhana ini benar-benar dapat membantu menjaga daya ingat?
Jawabannya menarik, tetapi belum sesederhana “minum kopi agar tidak pikun”. Penelitian terbaru memberikan petunjuk tentang kemungkinan manfaatnya, sekaligus mengingatkan bahwa menjaga kesehatan otak tidak dapat diserahkan kepada satu jenis minuman.

Penelitian besar membawa kabar yang menjanjikan

Studi Zhang dan rekan-rekan yang diterbitkan dalam JAMA pada Februari 2026 mengikuti 131.821 peserta dari dua kelompok tenaga kesehatan di Amerika Serikat, dengan masa pengamatan hingga 43 tahun. Selama pengamatan, tercatat 11.033 kasus demensia. Konsumsi kopi berkafein yang lebih tinggi berkaitan dengan risiko demensia sekitar 18% lebih rendah secara relatif dibandingkan konsumsi terendah. Ini bukan berarti risiko setiap orang turun sebesar 18 poin persentase.

Hubungan yang paling menguntungkan terlihat pada sekitar dua sampai tiga cangkir kopi berkafein atau satu sampai dua cangkir teh sehari. Perbedaan kemampuan berpikir dan mengingat juga ditemukan, tetapi besarnya relatif kecil. Kopi tanpa kafein tidak menunjukkan hubungan serupa secara jelas. Temuan ini merupakan hubungan statistik, bukan bukti bahwa kopi atau teh secara langsung mencegah demensia (Zhang et al., 2026).

Mengapa hasil penelitian belum seragam?

Pada bulan yang sama, Mazzoleni dan rekan-rekan menerbitkan meta-analisis, yaitu penelitian yang menggabungkan hasil sejumlah studi. Kajian ini mencakup sepuluh penelitian dengan lebih dari 450.000 peserta. Hasilnya menunjukkan hubungan konsumsi teh dengan risiko demensia yang lebih rendah. Namun, manfaat kopi dalam jumlah sedang belum tampak meyakinkan, sedangkan konsumsi tinggi menunjukkan kemungkinan peningkatan risiko.

Kajian tersebut menelusuri penelitian hingga Desember 2025, sehingga belum mencakup studi JAMA yang terbit pada Februari 2026. Artinya, keduanya tidak menilai kumpulan bukti yang persis sama. Perbedaan populasi, ukuran cangkir, kebiasaan konsumsi, serta cara menentukan demensia juga perlu diperhatikan ketika membandingkan hasil. Temuan mengenai konsumsi tinggi pun belum membuktikan bahwa kopi menyebabkan demensia (Mazzoleni et al., 2026).

Perbedaan hasil seperti ini merupakan bagian wajar dari perkembangan ilmu. Satu penelitian dapat memperkuat dugaan, sedangkan penelitian lain memperlihatkan batas-batasnya. Karena itu, judul berita yang menyebut kopi sebagai “pencegah pikun” melangkah lebih jauh daripada kesimpulan yang dapat ditarik dari bukti tersebut.

Merasa lebih segar berbeda dengan perlindungan jangka panjang

Kafein dapat membantu meningkatkan kewaspadaan dengan menghambat kerja adenosin, zat yang berperan dalam munculnya rasa kantuk. Inilah salah satu alasan seseorang merasa lebih siap bekerja setelah minum kopi. Namun, merasa lebih waspada selama beberapa jam berbeda dari terhindar dari penurunan daya ingat selama bertahun-tahun.

Perbedaan ini penting karena efek yang segera terasa sering dianggap sebagai tanda perlindungan jangka panjang. Padahal, penelitian tentang kewaspadaan, hasil tes daya ingat, dan kejadian demensia menjawab pertanyaan yang berbeda. Seseorang dapat merasa lebih segar tanpa berarti proses penyakit di otaknya berubah.

Ada pula sisi yang perlu diperhatikan: kafein dapat mengganggu tidur. Dalam uji acak silang pada 23 laki-laki, Gardiner dan rekan-rekan menemukan bahwa dosis 400 mg dapat mengganggu tidur meskipun dikonsumsi hingga 12 jam sebelumnya. Peserta tidak selalu menyadari perubahan kualitas tidurnya. Karena penelitian ini kecil dan hanya melibatkan laki-laki, hasilnya tidak dapat diterapkan secara seragam kepada semua orang (Gardiner et al., 2025).

Bagaimana menikmati kopi dan teh secara bijak?

Temuan tentang demensia belum menjadi alasan bagi orang yang tidak biasa minum kopi untuk mulai mengonsumsinya. Bagi penikmat kopi atau teh, yang lebih masuk akal adalah memperhatikan jumlah, waktu minum, dan respons tubuh. Tidak perlu menambah konsumsi hanya karena berharap memperoleh perlindungan otak yang lebih besar.

Kandungan kafein tidak sama pada setiap cangkir. Jenis produk, ukuran sajian, dan cara penyeduhan dapat membuat perbedaannya cukup besar. Karena itu, menghitung jumlah cangkir saja belum tentu menggambarkan banyaknya kafein yang masuk.

Kafein berlebihan dapat menimbulkan sulit tidur, rasa gelisah, atau jantung berdebar. Kepekaan tiap orang berbeda, termasuk karena kondisi kesehatan dan penggunaan obat. Orang yang sedang hamil, menyusui, atau memiliki kondisi tertentu perlu membicarakan pembatasan kafein dengan tenaga kesehatan. Respons tubuh sendiri tetap perlu diperhatikan meskipun orang lain merasa nyaman dengan jumlah yang sama. medlineplus.gov

Perlindungan otak memerlukan kebiasaan yang lebih luas

Laporan Komisi Lancet tahun 2024 menempatkan pencegahan demensia dalam pendekatan sepanjang kehidupan. Faktor yang dapat diperbaiki mencakup kurangnya aktivitas fisik, merokok, tekanan darah tinggi, diabetes, kolesterol LDL tinggi, serta keterasingan sosial. Gangguan pendengaran dan penglihatan yang tidak ditangani juga mendapat perhatian (Livingston et al., 2024).

Pesannya dekat dengan kehidupan sehari-hari: tetap bergerak, menjaga hubungan sosial, dan mengelola kondisi kesehatan merupakan bagian penting dari upaya merawat otak. Kebiasaan minum kopi atau teh dapat ditempatkan dalam pola hidup tersebut, sesuai kesukaan dan toleransi masing-masing.

Secangkir kopi atau teh boleh menjadi teman membaca, berbincang, dan menikmati hari. Penelitian terbaru memberi alasan untuk terus mengkaji manfaatnya, tetapi belum memberikan jaminan pencegahan demensia. Harapan yang paling masuk akal adalah menikmati minuman ini secara wajar sambil tetap merawat kesehatan tubuh secara menyeluruh.

Daftar pustaka

Gardiner, C.L., Weakley, J., Burke, L.M. et al. (2025) ‘Dose and timing effects of caffeine on subsequent sleep: a randomized clinical crossover trial’, Sleep, 48(4), zsae230. https://doi.org/10.1093/sleep/zsae230.

Livingston, G., Huntley, J., Liu, K.Y. et al. (2024) ‘Dementia prevention, intervention, and care: 2024 report of the Lancet standing Commission’, The Lancet, 404(10452), pp. 572–628. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(24)01296-0.

Mazzoleni, E., Malavolti, M., Rossetti, A., Mazzoli, R., Vinceti, M. and Filippini, T. (2026) ‘Coffee and tea consumption and risk of dementia: a dose-response meta-analysis of cohort and cohort-nested case-control studies’, Journal of Epidemiology and Population Health, 74(1), 203168. https://doi.org/10.1016/j.jeph.2026.203168.

National Library of Medicine (n.d.) ‘Caffeine’, MedlinePlus. Tersedia pada: https://medlineplus.gov/caffeine.html (Diakses: 17 Oktober 2026).

Zhang, Y., Liu, Y., Li, Y. et al. (2026) ‘Coffee and tea intake, dementia risk, and cognitive function’, JAMA, 335(11), pp. 961–974. https://doi.org/10.1001/jama.2025.27259.

No comments: