Laman

Minggu, 31 Mei 2015

Kerawanan Pangan Dunia tahun 2015 (The State of Food Insecurity 2015)

Saat ini kita mengalami kemajuan dalam menangani kelaparan, meskipun demikian masih banyak penduduk yang mengalami kekurangan pangan untuk hidup aktif dan sehat (atau disebut juga kelaparan).  Saat ini diduga masih ada sekitar 795 juta penduduk duania mengalami kelaparan (undernourished) .  Penduduk yang mengalami kelaparan ini sudah jauh menurun dari 18.6 persen tar 1 milyar penduduk) pada tahun 1990-an menjadi 10.9 persen (795 juta) pada saat ini.  Hal ini tentu saja menggambarkan penduduk yang mengalami kelaparan jauh lebih sedikit atau menurun sekitar 216 juta atau penurunan sekitar 21.4 persen.
Penduduk yang mengalami kelaparan ini pada umumnya (sekitar 780 juta jiwa) tinggal di negara-negara berkembang, terutama di Asia dan Afrika.  Penurunan kelaparan di dunia ini banyak disumbang oleh kemajuan-kemajuan di China dan India.  Pertumbuhan ekonomi merupakan faktor utama keberhasilan dalam menurunkan angka kelaparan.  Bagi negara berkembang secara keseluruhan, dua indikator MDG, yaitu prevalensi undernourishment dan proporsi underweight anak balita, sudah mengalami penurunan.  Pada beberapa daerah, seperti Afrika Barat, Asia Tenggara, dan Amerika Selatan, proporsi kelaparan (undernourishment) menurun lebih cepat dibandingkan penurunan proporsi underweight anak balita.  Hal ini menunjukkan bahwa perlu upaya lebih baik  untuk memperbaiki mutu diet, kondisi hygiene dan akses terhadap air bersih, terutama bagi penduduk miskin.

Tentu saja harus lebih banyak lagi upaya yang harus dilakukan agar masalah kelaparan dapat diatasi dengan tuntas.
Yang tertarik membaca bukunya bisa di download disini 
http://www.fao.org/3/a4ef2d16-70a7-460a-a9ac-2a65a533269a/i4646e.pdf



Kamis, 09 April 2015

Healthy Eating for People with Type 2 Diabetes

Akhir-akhir ini masyarakat sangat familiar dengan istilah diabetes mellitus, bukan hanya karena sering dibahas di media massa melainkan juga karena kasusnya sering dijumpai di lingkungan sekitar.
Diabetes melitus adalah suatu penyakit dimana kadar gula darah (glukosa) cukup tinggi (diatas normal) karena tubuh tidak dapat melepaskan atau menggunakan insulin dengan cukup.
Ada 2 tipe diabetes melitus yaitu diabetes tipe I dan diabetes tipe II.  Diabetes tipe I sering disebut insulin dependent diabetes mellitus atau diabetes yang bergantung pada insulin..  Diabetes tipe I ini berhubungan dengan ketidakmampuan pankreas untuk menghasilkan insulin.  Diabetes tipe I juga disebut diabetes juvenile yaitu diabetes yang umumnya didapat sejak masa kanak-kanak.  Diabetes tipe II sering juga disebut non-insulin dependent diabetes mellitus atau diabetes mellitus tanpa bergantung insulin. Diabetes tipe II yaitu diabetes yang didapat setelah dewasa.
Penyakit diabetes mellitus tipe II merupakan penyakit kencing manis yang sering diderita.  Sekitar 90% dari penyakit diabetes adalah penyakit diabetes tipe II.
Beberapa faktor penyebab diabetes adalah keturunan, pola makan dan gaya hidup tidak sehat, kadar kolesterol darah yang tinggi, dan obesitas.
Gejala diabetes antara lain: sering merasa haus yang berlebihan (polidipsi), sering kencing (poliuri) terutama malam hari, sering merasa lapar (poliphagi), berat badan yang turun dengan cepat, keluhan lemah, kesemutan pada tangan dan kaki, gatal-gatal, penglihatan menjadi kabur, impotensi, luka sulit sembuh, keputihan, penyakit kulit akibat jamur di bawah lipatan kulit, dan pada ibu-ibu sering melahirkan bayi besar dengan berat badan >4 kg.
Hasil Riset Kesehatan Dasar 2013 yang dilakukan oleh Keenterian Kesehatan menunjukkan proporsi penduduk ≥15 tahun dengan diabetes mellitus (DM) adalah 6,9 persen.
Kunci utama mengatasi penyakit diabetes adalah menjaga pola makan dan gaya hidup yang sehat.
Bagaimana cara menjaga pola makan dan gaya hidup yang sehat dapat ditemukan pada buku ini yang dapat di unduh secara gratis pada link berikut :





Kamis, 26 Maret 2015

Hasil Studi Diet Total Indonesia 2014

Sebulan yang lalu Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah merelease laporan hasil Studi Diet Total - Survei Konsumsi Makanan Individu Indonesia 2014.


Berikut ini adalah  ringkasan hasil Studi Diet Total yang saya kutip dari laporan tersebut.  

Hasil analisis SKMI 2014 menunjukkan tingkat konsumsi bahan makanan menurut jenis dan kelompok makanan, berpengaruh terhadap asupan zat gizi, tingkat kecukupan energi dan protein individu.
Hasilnya secara lengkap sebagai berikut:
1.      Pada makanan pokok, beras terbanyak dikonsumsi oleh sebagian besar penduduk Indonesia (97,7%) dengan konsumsi sebesar 201,3 gram per orang per hari diikuti terigu dan olahannya yang dikonsumsi oleh sekitar 30,2 persen penduduk dengan konsumsi sebesar 51,6 gram per orang per hari. Jenis umbi-umbian dan olahannya menempati urutan ketiga dengan konsumsi sebesar 27,1 gram per orang per hari dan dikonsumsi oleh sekitar 19,6 persen penduduk. Dari ketiga jenis makanan pokok tersebut, jenis umbi-umbian yang umumnya merupakan produksi lokal, justru jumlahnya paling sedikit dikonsumsi oleh penduduk.
2.      Konsumsi protein hewani penduduk Indonesia, terbanyak berasal dari kelompok ikan dan olahan, yaitu sebesar 78,4 gram per orang per hari. Disusul oleh kelompok daging dan olahan sebanyak 42,8 gram per orang per hari, dan tiga kelompok lain yang sedikit dikonsumsi secara berurutan adalah telur dan olahan sebesar 19,7 gram per orang per hari, susu dan olahan kurang dari 5 gram per orang per hari, dan kelompok jeroan sebesar 2,1 gram per orang perhari. Protein nabati lebih banyak dikonsumsi penduduk dibandingkan protein hewani, terlihat pada konsumsi kacang-kacangan dan olahan dan serealia dan olahan mencapai 56,7 gram dan 257,7 gram per orang per hari. Berdasarkan jumlah penduduk, yang dominan dikonsumsi adalah kacang kedele dan beras masing masing 47,4 persen dan 97,7 persen. Dengan demikian mayoritas sumber protein dalam makanan penduduk adalah protein nabati.
3.      Konsumsi kelompok sayur dan olahan serta buah-buahan dan olahan penduduk masih rendah yaitu 57,1 gram per orang per hari dan 33,5 gram per orang per hari. Dalam kelompok sayur, sayuran hijau dikonsumsi paling banyak (79,1%) dibandingkan sayur lainnya. Sebaliknya untuk kelompok buah-buahan dan olahan, buah pisang terbanyak dikonsumsi oleh penduduk (15,1%).  Konsumsi sayur dan olahan serta buah-buahan dan olahan yang belum memadai berpengaruh terhadap suplai vitamin dan mineral yang dibutuhkan oleh tubuh.
4.      Konsumsi kelompok minyak, lemak dan olahan sebesar 37,4 gram per orang per hari, terbanyak dikonsumsi dalam kelompok ini adalah minyak kelapa sawit dan minyak kelapa (19,7gram/orang/hari). Sebagian besar penduduk Indonesia (92,6%) mengonsumsi minyak kelapa sawit dan minyak kelapa, menyusul kelapa dan olahannya (29,4%) dan minyak lainnya (7,1%).
5.      Konsumsi kelompok gula dan konfeksionari penduduk Indonesia sebesar 15,7 gram per orang per hari, terbanyak dikonsumsi dalam kelompok ini adalah gula putih/gula pasir (13,6 gram/orang/hari). Gula pasir dikonsumsi oleh sebagian besar penduduk Indonesia (66,6%), diikuti oleh bahan makanan lain, permen dan coklat dengan kisaran antara 2,3 sampai 2,8 persen dan terendah sirup (1,2%).
6.      Konsumsi kelompok bumbu penduduk Indonesia sebesar 20,4 gram per orang per hari, terbanyak dikonsumsi pada kelompok ini adalah bumbu basah (14,3 gram/orang/hari), menyusul garam (3,5 gram/orang/hari) dan terkecil bahan tambahan kurang dari 1,0 gram/orang/hari. Hampir seluruh penduduk mengonsumsi garam (96,3%) diikuti dengan bumbu basah (84,1%), vetsin (50,3%) dan terendah bahan tambahan (1,3%).
7.      Konsumsi minuman serbuk penduduk Indonesia sebesar 8,7 gram per orang per hari. Teh instan/daun kering dikonsumsi terbanyak (31,2 %) diikuti kopi bubuk (25,1%) dan terendah minuman serbuk (5,9%), dengan konsumsi terbanyak adalah kopi bubuk (6,0 gram/orang/hari), menyusul teh instan daun kering (1,6 gram/orang/hari) dan terendah adalah minuman serbuk (1,2 gram/orang/hari). Minuman serbuk merupakan minuman terbanyak dikonsumsi oleh kelompok umur 0-59 bulan hingga kelompok umur 13-18 tahun.
8.      Konsumsi minuman cair penduduk Indonesia sebesar 25,0 ml per orang per hari. Berasal dari minuman kemasan (19,8 ml /orang/hari), minuman berkarbonasi (2,4 ml/orang/hari), minuman beralkohol (1 ml/orang/hari), serta lainnya (1,9 ml /orang/hari).  Minuman kemasan cairan dikonsumsi 8,7 persen penduduk, diikuti minuman lainnya (1,8%), minuman berkarbonasi (1,1%) dan terendah minuman beralkohol (0,2%).  Minuman kemasan cairan merupakan minuman terbanyak dikonsumsi pada semua kelompok umur termasuk kelompok balita.
9.      Total konsumsi cairan penduduk Indonesia 1.317 ml per orang per hari, berasal dari air minum 1.146 ml per orang per hari, air minum kemasan bermerek 146 ml per orang per hari, dan minuman cairan (25 ml/orang/hari). Konsumsi cairan kelompok umur 19-55 tahun (dewasa) hampir mencapai 1 ½ liter.
10.  Konsumsi kelompok makanan komposit, suplemen termasuk jamu amat kecil yaitu di bawah 1,0 gram per orang per hari, dan dikonsumsi kurang dari 1 persen penduduk

Asupan dan kecukupan gizi

1.      Lebih dari separuh balita (55,7%) mempunyai asupan energi yang kurang bila dibandingkan dengan Angka Kecukupan Energi (AKE) yang dianjurkan. Proporsinya dengan asupan energi sangat kurang ( < 70% AKE) sebesar 6,8 persen dan asupan energi kurang (70 - < 100 % AKE) sebanyak 48,9 persen. Sebaliknya ditemukan balita yang mengonsumsi energi lebih besar dari Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang dianjurkan ( >130% AKE) sebesar 17,1 persen.
2.      Secara nasional, penduduk dengan tingkat kecukupan energi sangat kurang (< 70% AKE) sebesar 45,7 persen, tingkat kecukupan energi kurang (70 - < 100% AKE) sebesar 33,9 persen, tingkat kecukupan energi sesuai AKG (100 - < 130% AKE) sebesar 14,5 persen, dan lebih dari AKG (> 130% AKE) sebesar 5,9 persen.
3.      Secara nasional tingkat kecukupan protein per orang per hari tertinggi terlihat pada kelompok umur 0-59 bulan (134,5% AKP), diikuti kelompok umur 5-12 tahun (115,9% AKP), kelompok umur 19-55 tahun (107,2% AKP), kelompok umur >55 tahun (93% AKP) dan terendah pada kelompok umur 13-18 tahun (89,5% AKP). Penduduk dengan tingkat kecukupan protein sangat kurang (< 80% AKP) sebesar 36,1 persen, tingkat kecukupan protein kurang (70 - < 100% AKP) sebesar 17,3 persen dan tingkat kecukupan protein normal (> 100% AKP) sebesar 46,5 persen.
4.      Rerata tingkat kecukupan energi dan protein pada kelompok umur remaja (13-18 tahun) sebesar 72,3 persen dan 82,5 persen, paling rendah dibandingkan dengan empat kelompok umur lainnya. Proporsi remaja dengan tingkat kecukupan energi sangat kurang (< 70% ) sebanyak 52,5 persen tertinggi dibandingkan dengan empat kelompok umur lainnya.
5.      Secara nasional, sebanyak 4,8 persen, 18,3 persen dan 26,5 persen penduduk mengonsumsi gula, natrium dan lemak melebihi pesan Permenkes Nomor 30 tahun 2013.
6.      Kecukupan energi dan protein pada ibu hamil perlu mendapat perhatian terutama di perdesaan. Ibu hamil dengan tingkat kecukupan energi sangat kurang (< 70% AKE)  di perdesaan (52,9%), sementara di perkotaan (51,5%). Hanya 14,0 persen ibu hamil dengan tingkat kecukupan energi lebih atau sama dengan 100 persen AKE baik di perkotaan maupun perdesaan. Ibu hamil dengan tingkat kecukupan protein sangat kurang (< 80 % AKP) di perdesaan (55,7%), sedangkan di perkotaan (49,6%).
7.      Kontribusi lemak terhadap total asupan energi sebesar 27,4 persen, sedikit di atas angka yang dianjurkan Pedoman Gizi Seimbang.


Lebih jelasnya laporan tersebut dapat diunduh pada link berikut :


Jumat, 06 Februari 2015

Improving diets and nutrition through Food-based Approaches

FAO dan CABI bekerjasama mempublikasi sebuah buku tentang improving diets and nutrition through Food-based Approaches. Buku ini mengadvokasi pendekatan berbasis pangan yang sensitif gizi untuk mengatasi masalah kelaparan dan malnutrisi. Bagi yang berminat dapat mengunduh disini http://www.fao.org/3/a-i3030e.pdf


Jumat, 21 November 2014

Global nutrition report - Laporan gizi global

Gizi baik kunci pembangunan berkelanjutan.  Tapi hampir semua negara anggota PBB menghadapi masalah gizi salah (malnutrition).  Semakin banyak negara yang menghadapi masalah gizi yang semakin kompleks, seperti stunting, anemia, overweight. Tidak hanya itu, banyak negara tidak mampu memenuhi target perbaikan gizi global, meskipun juga ada banyak negara yang berhasil memperbaiki target sesuai dengan the World Health Assembly.  Penyebab tidak langsung yang jadi pendorong  masalah gizi, seperti suplai pangan, sanitasi dan air bersih, pendidikan, serta perawatan kesehatan, semakin membaik keadaannya.  Cakupan intervensi yang spesifik gizi juga masih rendah.

Banyak pekerjaan yang harus dituntaskan oleh pemerintah untuk mengatasi masalah gizi, termasuk investasi untuk perbaikan gizi, serta kebijakan, hukum (perundang-undangan) dan kelembagaan yang perlu diperkuat.

Kalau ingin membaca buku laporan gizi global dapat di unduh disini :

http://www.ifpri.org/publication/global-nutrition-report-2014








Kamis, 13 November 2014

Flavanol biji cokelat (cocoa beans) memperbaiki memori akibat penuaan

Senyawa yang ditemukan dalam biji cokelat (cocoa beans), bukan chocolate, dapat mengembalikan kehilangan memori akibat penuaan pada manula sehat.  Demikian, hasil penelitian terbaru yang dipublikasi dalam jurnal Nature Neuroscience 26 Oktober 2014.  Penelitian ini merupakan penelitian pertama yang secara langsung membuktikan bahwa komponen khusus dari penurunan memori terkait usia dsebabkan oleh perubahan pada daerah khusus otak (dentate gyrus), dan hal ini dapat diperbaiki dengan perbaikan makanan.  Penelitian ini dilakukan oleh Adam M Brickman, dan kawan-kawan  dari Taub Institute for Research on Alzheimer's Disease and the Aging Brain, Columbia University, New York.


Daerah otak diberi warna kuning adalah hippocampus; dentate gyrus ditunjukkan oleh warna hijau dan entorhinal cortex warna ungu. Kerja sebelumnya,termasuk oleh laboratorium peneliti senior Scott A. Small, M.D., menunjukkan bahwa perubahan pada bagian tertentu hippocampus otak, yaitu dentate gyrus berhubungan dengan penurunan memori normal terkait usia pada manusia dan mamalia lain. Dentate gyrus  berbeda dengan entorhinal cortex, yaitu daerah hippocampal  yang dipengaruhi oleh penyakit Alzheimer's disease tahap awal.
Credit: Lab of Scott A. Small, M.D.

Penurunan memori ini merupakan hal yang normal dengan semakin bertambahnya usia.  Penurunan memori terjadi mulai usia dewasa awal (meskipun pada usia dewasa awal ini tidak berpengaruh nyata terhadap mutu hidup) sampai usia seseorang mencapai 50-an dan 60-an tahun.  Penelitian ini sendiri dilakukan pada kelompok usia 50-69 tahun.

Flavan-3-ol (kadang-kadang disebut sebagai flavanol) merupakan turunan flavan.  Flavan sendiri merupakan salah satu kelompok dari flavonoid.  Senyawa-senyawa flavan  ini termasuk catechin, epicatechin gallate, epiallocatechin gallate, proanthocyanidin, theaflavin, dan thearubigin.  Catechin banyak terdapat pada teh, kakao dan cokelat (yang dibuat dari biji cokelat).

Pada penelitian ini subjek (37 orang) yang merupakan sukarelawan sehat berusia 50-69 tahun diberi minuman yang mengandung flavanol dari biji cokelat dengan dua tingkat dosis, yaitu diet flavanol tinggi (900 mg flavanol per hari) atau diet flavanol rendah ( 10 mg flavanol per hari).  Pemberian minuman dilakukan selama tiga (3) bulan.

Setelah tiga bulan pemberian minuman kaya flavanol maka sangat nyata terjadi perbaikan memori.  Memori seseorang yang setara usia sekitar 60 tahun pada awal penelitian membaik menjadi memori seperti orang yang berusia 30-an atau 40-an tahun.  Sungguh terjadi perbaikan yang luar biasa.

Hasil penelitian ini tentu saja memberikan harapan untuk pebaikan memori kaum manula.  Penelitian ini juga perlu direplikasi lebih banyak lagi agar mendapatkan hasil yang lebih meyakinkan.

Sekali lagi minuman kaya flavanol yang diuji disini berasal dari biji cokelat (cocoa beans), yang biasanya kandungan flavanol ini terbuang ketika melakukan proses pembuatan makanan/cokelat.  Jadi bukan makan cokelat olahan (chocolate) ya.


Link jurnal : http://www.nature.com/neuro/journal/vaop/ncurrent/full/nn.3850.html#access

Rabu, 12 November 2014

Penemuan pertama ‘virological penicillin’- harapan melawan virus

Setelah sekitar satu abad penemuan penicillin oleh Alexander Fleming sebagai antibiotik dan bermanfaat menyelamatkan banyak nyawa, kini ilmuwan Tiongkok (Zhen Zhou et al. dari Jiangsu Engineering Research Center for MicroRNA Biology and Biotechnology, State Key Laboratory of Pharmaceutical Biotechnology, School of Life Sciences, Nanjing University) menemukan apa yang mereka sebut dengan ‘virological penicillin’ – MIR2911,  suatu molekul yang ditemukan secara alami pada herba Tiongkok yang disebut “honeysuckle” (Lonecera japonica), lihat http://www.fs.fed.us/database/feis/plants/vine/lonjap/all.html .  Senyawa ini memiliki aktivitas antivirus spektrum luas. Tanaman ini secara tradisional di Tiongkok digunakan untuk mengobati influenza.  Tanaman yang biasa dikonsumsi dalam bentuk teh dapat menekan replikasi virus influenza.

Sebagai produk alami kita berharap MIR2911, yang merupakan ‘virological penicillin’ dan terbukti mengikat beberapa jenis virus influenza dan menghambat virus H1N1, tidak hanya berperan melawan virus influenza, melainkan juga virus-virus lainnya yang pada saat ini belum terkendalikan.


Demikian hasil penelitian terbaru dipublikasi dalam jurnal Cell Research http://www.nature.com/cr/journal/vaop/ncurrent/full/cr2014130a.html


Senin, 03 November 2014

Apa bahaya minum susu?

Susu pada saat ini dianggap merupakan minuman yang menyehatkan, bahkan diklaim dapat memperbaiki kesehatan tulang.  Apakah minum susu tidak berbahaya?  Penelitian terbaru menunjukkan efek yang buruk dari kebiasaan minum susu terhadap kesehatan tulang dan bahkan kematian.

Penelitian kohort pada manusia menunjukan bahwa orang yang biasa minum susu 3 kali atau lebih dalam sehari ternyata kerapuhan tulang 50% lebih tinggi dan kematiannya duakali lipat lebih tinggi (baca http://www.bmj.com/content/349/bmj.g6015).  Pada penelitian subsampel ditemukan hubungan antara asupan susu dengan 8-iso-PGF2α pada urin (suatu biomarker stres oksidatif) dan interleukin-6 serum (biomarker utama inflamasi atau peradangan).

Penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian pada hewan yang menunjukkan asupan galaktosa (jenis gula yang terdapat dalam laktosa atau gula susu) menyebabkan kerusakan oksidatif dan mempercepat penuaan.  Kerusakan oksidatif menyebabkan berbagai gangguan kesehatan kronis, seperti kanker, hipertensi, penyakit jantung .  Karena itu asupan susu yang berkaitan dengan peningkatan 8-iso-PGF2α dan interleukin-6 jelas menyebabkan laju kematian akibat penyakit kanker dan kardiovaskular yang lebih tinggi.


Faktor lain yang berbahaya dalam susu adalah lemak jenuh pada susu.  Lemak susu ini diketahui dapat mengubah komposisi bakteri yang tidak berbahaya yang secara alami terdapat dalam usus.  Akibatnya terjadi ketidakseimbangan atau terjadinya pergeseran keseimbangan spesies, dan hal ini dapat memicu respon imun yang menyebabkan inflamasi  dan kerusakan jaringan (baca http://blogs.scientificamerican.com/observations/2012/06/13/saturated-fats-change-gut-bacteria-and-may-raise-risk-for-inflammatory-bowel-disease/  dan http://www.nature.com/nature/journal/v487/n7405/full/nature11225.html).  Lemak jenuh ini biasanya sangat sukar dicerna.  Untuk melarutkan lemak maka hati akan memproduksi suatu bentuk empedu yang kaya akan sulfur.  Peneliti menemukan apabila empedu tersebut sampai ke usus, maka mikroba yang disebut Bilophila wadsworthia -- nama yang berarti pencinta empedu—akan berkembang biak dan menyebabkan inflamasi dan kerusakan jaringan.  Pada orang sehat populasi bakteri ini sangat kecil di usus, hanya sekitar 0,01%.

Apakah Anda masih ingin minum susu?