Laman

Selasa, 21 Oktober 2014

Sepuluh konsep utama gizi untuk hidup sehat

      Konsep utama gizi untuk hidup sehat  ini sangat penting dalam memahami gizi dan peranan zat-zat gizi bagi kesehatan.  Konsep ini juga berguna dalam memahami dan memilih makanan yang harus dikonsumsi sehari-hari agar selalu sehat.
1.   Pada umumnya berbagai jenis pangan yang terdapat secara alami merupakan campuran zat-zat gizi.
Dalam pangan sangat jarang hanya mengandung satu jenis zat gizi.  Biasanya makanan mengandung berbagai jenis zat gizi, bahkan dalam makanan yang manis sekalipun kandungannya tidak hanya gula tetapi ada juga zat gizi lainnya.  Madu misalnya, tidak hanya mengandung gula melainkan juga mengandung misalnya mineral dan lainnya.  Nasi mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan air.
2.     Berimbang dan beragam membantu memastikan kecukupan gizi dari menu makanan.
Tidak ada pangan alami yang “sempurna” yang mengandung zat-zat gizi dalam jumlah yang dibutuhkan tubuh, kecuali Air Susu Ibu.  Karena itu untuk memastikan zat gizi yang cukup dari diet kita sehari-hari, maka pilih diet yang beragam yang mengandung pangan dari setiap kelompok pangan, sayur, buah, lauk-pauk, makanan pokok (nasi, roti, singkong, ubi jalar, dll), serta susu dan produk susu. Kemudian pilih beragam pangan dari setiap kelompok pangan.  Untuk membuat perencanaan menu yang lebih menarik, dan hidangan yang lebih menarik dan seru, maka cobalah pangan-pangan baru yang tidak familiar serta resep-resep baru sebagai menu sehari-hari.
3.    Tidak ada pangan yang baik (“good”) atau yang buruk (“bad”).
Semua pangan mengandung zat gizi sendiri-sendiri.  Jangan berpikir makanan tertentu ‘baik’ dan yang lain ‘buruk’ bagi tubuh Anda.  Yang perlu diperhatikan pilih pangan yang padat zat gizi (nutrient-dense food), dan kurangi pangan yang mengandung energi (kalori) tinggi (energy density-food) tetapi kosong zat gizi lainnya.  Fokus pada pangan yang padat zat gizi tentu saja akan memperbaiki mutu gizi diet.  Pangan yang buruk sebenarnya adalah pangan yang mengandung racun (termasuk pestisida, logam berat, bahan tambahan makanan yang berbahaya, dll).  Karena itu hindari pangan yang berbahaya tersebut.
4.     Nikmati makan semua makanan secukupnya saja.
Konsep makan secukupnya (moderation) artinya memperoleh zat-zat gizi yang cukup dari makanan , dengan prinsip menghindari jumlah yang berlebihan, dan menyeimbangkan asupan energi dengan pengeluaran energi, terutama melalui aktifitas fisik.  Hal yang bisa dilakukan adalah memilih pangan yang padat zat gizi dan mengurangi ukuran porsi atau takaran saji.
5.     Untuk setiap zat gizi, ada kisaran asupan yang aman.
Makan beragam makanan yang padat zat gizi akan menjamin jumlah zat gizi yang cukup dan aman.  Dosis fisiologi suatu zat gizi adalah jumlah yang berada dalam kisaran asupan yang aman dan membuat tubuh berfungsi secara optimal.  Mengonsumsi makanan kurang dari dosis fisiologi akan menyebabkan kekurangan gizi.  Mengonsumsi suplemen zat gizi secara berlebihan akan berdampak buruk terhadap fungsi-fungsi tubuh.  Karena itu upayanya kebutuhan gizi hanya dipenuhi dari makanan sehari-hari.
6.     Makanan merupakan sumber terbaik zat-zat gizi dan fitokimia.
Cara paling alami dan ekonomis memperoleh zat gizi dan fitokimia yang bermanfaat adalah dengan cara memilih makanan (diet) yang beragam dan didasarkan pada pangan utuh (whole food) dan pangan yang diproses (diolah) secara minimal.  Penting sekali untuk memahami bahwa suplemen gizi tidak mengandung segala hal yang dibutuhkan tubuh agar berfungsi optimal.  Karena itu pastikan zat gizi yang dibutuhkan tubuh didapatkan dari makanan utuh yang dikonsumsi sehari-hari.
7.     Tidak ada pendekatan “one size fits all” untuk perencanaan diet yang cukup gizinya.
Setiap orang memiliki kebutuhan gizi sendiri-sendiri.  Kebutuhan gizi anak-anak berbeda dengan orangtua, begitu pula kebutuhan gizi laki-laki berbeda dengan perempuan. Selera setiap orang juga tidak sama. Karena itu perencanaan menu harus dibuat khusus untuk setiap individu.
8.     Pangan dan zat gizi yang terkandung didalamnya tidak mengobati segala-galanya.
Meskipun penyakit defisiensi gizi, seperti skurvi, dapat diobati dengan memberi makanan yang mengandung vitamin C, tetapi tidak semua penyakit dapat diobatii dengan makanan.  Makanan hanyalah salah satu aspek yang penting untuk kesehatan.  Akhir-akhir ini berkembang pangan fungsional (atau nutrasetikal), beberapa penelitian menunjukkan dampak yang bermanfaat bagi penyakit tertentu.
9.     Gizi salah (malnutrition) termasuk kekurangan gizi dan kelebihan gizi.
Gizi salah (malnutrition) merupakan keadaan kesehatan seseorang yang diakibatkan oleh karena tubuh tidak mendapatkan asupan zat gizi secara tepat.  Setiap orang harus mengonsumsi makanan dan minuman dalam jumlah cukup.  Apabila makanan dan minman yang dikonsumsi terlalu sedikit akan muncul penyaki defisiensi gizi, sebaliknya apabila dikonsumsi berlebihan akan muncul kelebihan gizi, seperti obesitas.
10.  Gizi merupakan ilmu yang dinamik.
Ilmuwan gizi selalu melakukan penelitian kaitan antara diet dengan kesehatan.  Karena itu pedoman gizi seimbang dan praktek bisa akan selalu direvisi disesuaikan dengan perkembangan ilmu gizi yang bersifat dinamis.
Sumber Bacaan :

 Wendy S.  2011.  Nutrition for healthy living.  Second Edition.  New Yok : McGraw-Hill.

Jumat, 17 Oktober 2014

FUNGSI MAKANAN

           Makanan didefinisikan sebagai segala sesuatu (bahan) yang dapat dimakan yang dapat berbentuk padat, cair atau semicair yang apabila ditelan, dicerna dan berasimilasi dalam tubuh akan memberikan manfaat bagi tubuh.  Makanan memiliki fungsi dalam kehidupan sehari-hari.  Tiga fungsi  makanan yang utama adalah :
1.      Fungsi fisiologi
2.      Fungsi sosial
3.      Fungsi psikologi

1.      Fungsi fisiologi
·         Memberikan energi
·         Membangun sel-sel dan jaringan baru
·         Memperbaiki jaringan tubuh
·         Mengatur proses-proses dalam tubuh
·         Melindungi tubuh melawan penyakit
2.      Fungsi sosial makanan
Ø  Fungsi gastronomi
            Manusia makan karena untuk  memenuhi kesenangannya.  Ciri  organoleptik menentukan makanan ditolak atau diterima oleh seseorang.
            Contoh: Orang Afrika menyenangi makanan yang dikunyah, seperti daging.
Ø  Fungsi arti budaya
            Makanan memberikan identitas budaya individu atau kelompok tertentu.
            Contoh:
§  Orang Islam tidak makan babi.
§  Suku bangsa Eskimo dinamai Eskimo, yaitu pemakan daging mentah, oleh suku bangsa tetangganya.
Ø  Fungsi religi dan magis
§  Selamatan menggunakan nasi tumpeng, bubur merah-putih, makanan upacara keagamaan di Bali, Jawa, dll.
§  Padi : sebagai lambang pemberian Dewi Sri.
Ø  Fungsi komunikasi
§  Makanan sebagai simbol keramahtamahan.
§  Upacara perkawinan : saling suap nasi, lambang penyerahan diri.
§  Membawa makanan pada calon mertua.
§  Makan bersama dengan rekan bisnis.
Ø  Fungsi pernyataan status ekonomi
§  Di Eropa roti putih memberi makna seorang konsumen memiliki kedudukan ekonomi tinggi.
§  Makan tiwul melambangkan status ekonomi rendah.
§  Makan daging melambangkan status sosial ekonomi tinggi.
Ø  Fungsi simbol kekuasaan dan kekuatan
§  Orang yang menguasai suplai pangan dapat menguasai masyarakat.
§  Bantuan pangan dari negara maju ke negara miskin.
§  Ayah sebagai pencari nafkah “harus diutamakan”.

3.      Fungsi psikologi makanan
·         Makanan memenuhi kebutuhan-kebutuhan emosional tertentu, termasuk rasa aman, cinta, dan perhatian.
·         Makanan digunakan untuk menyatakan perasaan perhatian khusus, persahabatan, pengakuan atau  hukuman

Rabu, 15 Oktober 2014

Kerugian Ekonomi Akibat Gizi Buruk

Perbaikan gizi berkontribusi terhadap meningkatnya produktivitas, pembangunan ekonomi dan penurunan angka kemiskinan. Hal ini terjadi melalui peningkatan kemampuan kapasitas aktifitas fisik, peningkatan kemampuan kognitif, performa belajar dan penurunan angka kesakitan dan angka kematian. Gizi buruk jika tidak ditangani dengan baik akan mengakibatkan lingkaran setan antara kemiskinan dan gizi buruk melalui tiga mekanisme: penurunan produktifitas kerja, kehilangan tidak langsung akibat penurunan kemampuan kognitif dan tingginya biaya kesehatan.

Gizi buruk berkontribusi terhadap 60% angka kematian pada anak dan  anak yang memiliki berat badan rendah memiliki resiko kematian dua kali lebih besar dibandingkan anak yang bergizi baik. Bayi yang lahir degan berat badan rendah atau BBLR (<`2,5 Kg) memiliki resiko kematian 2-10 kali lebih besar dibanding bayi normal. Di masa dewasanya mereka juga memiliki resiko yang lebih besar untuk menderita penyakit degeneratif seperti diabetes melitus dan penyakit kardiovaskuler.

Gizi buruk juga berpengaruh nyata terhadap penurunan fungsi kognitif. Laporan Bank Dunia 2006 menyebutkan bahwa BBLR berpengaruh terhadap penurunan IQ sebesar 5 poin. Anak yang pendek (stunting) cenderung memiliki IQ lebih rendah sebesar 5 hingga 11 poin. Gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY) menurunkan IQ sebesar 10-15 poin. Anemia gizi besi (AGB) secara konsisten menurunkan IQ sebesar 8 poin. Anak yang memiliki riwayat gizi buruk semasa kecilnya terbukti memiliki kemampuan kognitif yang rendah, fungsi motorik yang rendah dan mereka memiliki tingkat konsentrasi yang rendah pula. Kemampuan kognitif tersebut di atas berpengaruh terhadap kemampuan kognitif di masa dewasa mereka dan pada akhirnya akan berpengaruh terhadap kemampuan untuk mencari penghasilan

Resiko ekonomi mengabaikan gizi buruk

Biaya akibat gizi buruk di negara berkembang menelan biaya jutaan dolar setiap tahunnya.  Laporan Bank Dunia 2006 juga menyebutkan bahwa kerugian financial akibat gizi buruk sangat tinggi. Pada level negara, India sebagai contoh;  kerugian yang timbul akibat kehilangan produktivitas akibat gizi buruk sebesar 2,95 % dari Produk Domestik Bruto (PDB) negara tersebut. Kerugian akibat defisiensi gizi mikro saja mengakibatkan kerugian sebesar US $ 2,5 juta per tahunnya atau sekitar 0,4 persen dari PDB negara yang bersangkutan.

Anak yang berstatus gizi buruk memerlukan pelayanan kesehatan yang lebih khusus (memerlukan perhatian lebih) dan memerlukan biaya yang lebih besar di banding anak yang berstatus gizi baik. Anak yang bergizi buruk juga memiliki prestasi sekolah yang lebih buruk dan cenderung lebih sering tidak naik kelas dibanding anak yang bergizi baik, hal ini pada akhirnya juga akan meningkatkan pengeluaran untuk biaya pendidikan.

Rasio manfaat-biaya program Gizi

Program perbaikan gizi sangat menguntungkan secara ekonomi, manfaat yang diperoleh jauh lebih besar dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Behrman, Alderman, dan Hoddinott (2004) menunjukkan bahwa hasil atau manfaat yang diperoleh jauh lebih besar dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan untuk program perbaikan gizi. Perhitungan manfaat tersebut diperoleh melalui asumsi terhadap penurunan angka kematian, penurunan biaya kesehatan, dan meningkatnya produktivitas serta manfaat-manfaat lainnya. Sebagai contoh untuk setiap 1 rupiah biaya yang dikeluarkan untuk program promosi ASI ekslusif di rumah sakit menghasilkan manfaaat sebesar 5-67 rupiah. Manfaat untuk program lainnya bisa di lihat pada tabel berikut.
  

Tabel.  Rasio manfaat-biaya program intervensi gizi

Program intervensi
Manfaat-biaya
Promosi ASI di rumah sakit
5-67
Pelayanan keehatan anak terpadu
9-16
Suplementasi Yodium pada wanita
15-520
Suplementasi Vitamin A pada anak < 6 tahun
4-43
Fortifikasi zat besi (per kapita)
176-200
Suplementasi zat besi (per wanita hamil)
6-14

Sumber :  Behrman, Alderman, dan Hoddinott (2004)

Keadaan gizi dan gangguan kesehatan

           Dapatkah makanan kita mempengaruhi resiko berkembangnya penyakit? Jawabannya tergantung pada jenis penyakitnya. Dua jenis penyakit yang banyak diderita orang diseluruh dunia adalah penyakit infeksi dan penyakit tidak menular kronis (degeneratif).  Penyakit infeksi seperti tuberkolosa, penyakit hati, pnemonia, dan diare merupakan merupakan penyakit yang banyak diderita oleh penduduk Indonesia.  Penyakit-penyakit ini dapat menurunkan umur harapan hidup orang Indonesia. Adanya vaksin dan antibiotik jauh mengurangi insiden penyakit-penyakit tersebut dibandingkan dengan keadaan-keadaan sebelumnya.  Saat ini kita dihadapkan pada munculnya penyakit infeksi baru, yaitu H1N1 yang pada awalnya dikenal dengan flu burung, Ebola, MERS dan AIDS serta adanya resistensi tuberkolosa dan penyakit yang bersumber dari makanan (seperti tifoid dan diare) yang resinten (kebal) terhadap obat antibiotik.  Meskipun ilmuwan sudah bekerja keras untuk mengembangkan obat-obatan baru, pemerintah tetap harus memperkuat sistem respon kedaruratan dan melindungi makanan dan suplai air bersih agar masyarakat terhindar dari resiko serangan penyakit tersebut.
            Setiap orang juga dapat melindungi dirinya sendiri.  Setiap orang dapat melawan jutaan mikroba setiap hari yang sebagiannya merupakan penyebab penyakit.  Meskipun gizi tidak dapat secara langsung mencegah atau mengobati penyakit, gizi dapat memperkuat atau memperlemah sistem pertahanan tubuh terhadap serangan penyakit.  Gizi yang baik dapat membantu memperkuat pertahanan tubuh, sebaliknya gizi yang buruk dapat memperlemah pertahanan tubuh melawan penyakit.
            Tanpa kita sadari, sistem imun (kekebalan) tubuh secara terus menerus melawan ribuan serangan mikroorganisme dan sel kanker.  Jika sistem imun tubuh menurun, maka tubuh mudah diserang penyakit.  Sistem imun tubuh yang bergizi baik memberikan perlindungan terbaik karena alasan berikut :
1.      Asupan berbagai vitamin dan mineral yang defisien berkaitan dengan gangguan resistensi penyakit.
2.      Jaringan imun merupakan yang pertama kali diganggu apabila terjadi kekurangan gizi.
3.      Beberapa defisiensi gizi dalam waktu singkat sangat berbahaya bagi imunitas dibandingkan dengan hal lainnya.  Kecepatan dampaknya dipengaruhi oleh apakah zat-zat gizi lain dapat melakukan tugas-tugas metabolik dengan adanya defisiensi zat gizi tertentu, seberapa berat defisiensi gizinya, dan apakah infeksi sudah muncul, serta umur seseorang.
            Pada saat ini dikenal istilah immunonutrition (gizi imun) yang digunakan untuk menjelaskan pengaruh zat-zat gizi terhadap fungsi sistem imun, khususnya berkenaan dengan terapi gizi medik.  Defisiensi atau toksisitas zat-zat gizi berikut ini dapat mengganggu imunitas, yaitu protein, energi, vitamin A, vitamin E, vitamin D, vitamin C, vitamin B, folat, besi, seng,copper,dan magnesium.  Defisiensi atau toksisitas hanya salah satu zat gizi dapat memperlemah sistem imun.  Sebagai contoh, defisiensi vitamin A memperlemah membran saluran cerna dan kulit tubuh. Defisiensi vitamin C memperlemah daya bunuh sel darah putih.  Terlalu rendah vitamin E dapat mengganggu imunitas, terutama melalui perannya sebagai antioksidan. Kekurangan seng (Zn) mengganggu imunitas melalui penurunan jumlah sel darah putih, dan kelebihan seng (Zn) mengganggu respon imun. Menu makanan yang seimbang dapat mendukung pertahanan sistem imun.
            Apabila orang mengalami kekurangan gizi, maka selanjutnya kekurangan gizi tersebut akan memperburuk keadaan penyakit, dan sebaliknya penyakit tersebut akan memperburuk keadaan kurang gizi.
            Apakah gangguan gizi hanya akibat kekurangan gizi?  Tentu saja tidak.  Gangguan gizi dapat pula diakibatkan karena kelebihan gizi, misalnya obesitas (kegemukan).  Penyakit akibat kelebihan gizi banyak terdapat di negara-negara yang sudah maju; di daerah perkotaan di Indonesia juga masih banyak dijumpai masalah ini, terutama pada masyarakat berpenghasilan tinggi.
            Kelebihan gizi ternyata juga diketahui berhubungan erat (atau merupakan faktor resiko) dengan munculnya penyakit- penyakit degeneratif (penyakit tidak menular kronis), seperti hipertensi, penyakit jantung koroner, diabetes, kanker.  Penderita penyakit degeneratif ini di Indonesia semakin banyak.  Laporan Riset Kesehatan Dasar 2013 (Kemenkes, 2014) menunjukkan penyakit  tidak menular kronis semakin meningkat dan semakin mendominasi penyebab kematian.  Hal ini sejalan dengan semakin meningkatnya pendapatan masyarakat dan perubahan gaya hidup dan konsumsi makanan.
            Konsekuensi kesehatan yang diakibatkan oleh berbagai keadaan gizi disajikan pada tabel dibawah ini.
Keadaan Gizi
Konsekuensi kesehatan, Outcome
Gizi optimum
Seseorang yang tahan pangan dengan menu ang cukup, seimbang, dan bijaksana
Sehat, afiat, perkembangan normal, mutu hidup tinggi
Kurang gizi (Undernutrition): lapar
Seseorang yang rawan pangan yang hidup dalam kemiskinan, ketidaktahuan (pendidikan rendah), lingkungan politik yang tidak stabil, masyarakat yang kacau, peperangan
• Penurunan perkembanan fisik dan mental
• Pnurunan sistem kekebalan tubuh
• Peningkatan penyakit infeksi
• Lingkaran setan kurang gizi, gangguan tumbuh kembang, kemiskinan
Kelebihan gizi (Overnutrition)
Asupan makanan yang berlebihan, khususnya zat gizi makro, ditambah dengan keadaan:
• kurang aktivitas fisik
• merokok, stres, minum minuman alkohol
Obesitas, sindrom metabolik, penyakit kardiovaskular, diabetes mellitus tipe 2, kanker: penyakit tidak menular kronis, yang seringkali dicirikan oleh kelebihan gizi makro dan kekurangan gizi mikro
Gizi salah (Malnutrition)
Transisi gizi: Individu atau masyarakat yang sebelumnya mengalami rawan pangan → kemudian dihadapkan dengan keberlimpahan makanan yang enak-enak → Beberapa orang mengalami kekurangan gizi atau kelaparan (undernourished), sebagian yang lainnya terlalu banyak zat gizi makro dan terlalu sedikit zat gizi mikro
Beban ganda masalah penyakit infeksi dan penyakit tidak menular kronis, yang seringkali dicirikan oleh kelebihan gizi makro dan kekurangan gizi mikro
Sumber : Gibney, et al., (2009).  Introduction to Human Nutrition, second edition. Wiley-Blackwell.



Minggu, 28 September 2014

Perkembangan Istilah Defisiensi Gizi

Hadi Riyadi                
                 Istilah gizi berkembang sesuai dengan dugaan penyebab terjadinya kekurangan gizi pada saat itu.  Istilah malnutrition (gizi salah) yang digunakan oleh ilmuwan saat ini merujuk pada undernutrition (kurang gizi) dan overnutrition (kelebihan gizi).  Kekurangan gizi (undernutrition) umumnya terdiri dari asupan energi yang rendah dan juga kurangnya mutu makanan karena kekurangan zat gizi mikro.  Kelebihan gizi (overnutrition) umumnya merujuk pada kelebihan asupan energi, tetapi dapat juga pada saat yang sama gterjadi kekurangan zat gizi mikro.
                Oleh karena itu, agar terhindar dari kekurangan gizi maka harus ada jaminan tidak hanya ketahanan pangan (food security) tetapi juga ketahanan gizi (nutrition security).   Istilah ketahanan pangan didefinisikan sebagai tersedianya pangan dalam jumlah yang cukup dan terjangkau bagi setiap orang pada setiap saat untuk memenuhi kebutuhan dalam mencapai hidup yang sehat dan aktif.  Istilah ketahanan gizi yang didefinisikan oleh Agnes R Quisumbing adalah status gizi yang cukup dalam hal protein, energi, vitamin, dan mineral bagi semua anggota rumah tangga sepanjang waktu.
                Perkembanan (asal mula) istilah gizi yang menjelaskan defisiensi gizi pada anak di negara berkembang dapat dilihat pada tabel berikut.
Tahun
Istilah
Penjelasan
1900 – 1930
Distrofia Pluricarencial
Istilah yang digunakan oleh pekerja Amerika Latin yang berarti “keadaan multi defisiensi”
1935
Kwashiorkor
Dari bahasa Ga di Afrika Barat yang berarti “penyakit anak bengkak”
1955
Protein Deficiency (Defisiensi Protein)
Istilah yang menggambarkan pemikiran pada saat itu bahwa penyebab utama kwashiorkor adalah defisiensi protein
1959-1960
Protein-calorie malnutrition (PCM) – Kurang Kalori Protein


Protein Energy Malnutrition (PEM) – Kurang Energi Protein
PCM diperkenalkan pada akhir tahun 1950-an, yang menggambarkan penyebab kekurangan gizi adalah kekurangan kalori dan protein.

Pada saat ini berkembang menjadi protein energy malnutrition (PEM) .
Digunakan untuk mencakup semua keadaan defisiensi gizi yang lain daripada yang disebabkan terutama oleh zat-zat gizi khusus (seperti skurvi, pellagra).  PEM atau KEP masih digunakan secara luas.
1980-an – 1990-an
Energy-nutrient malnutrition (ENM) – Kurang energi dan zat gizi
Suatu pengakuan bahwa zat-zat gizi lain disamping protein (dalam hal ini Seng, vitamin A) berkontribusi terhadap kekurangan gizi dan kegagalan pertumbuhan.  Istilah ini tidak digunakan secara luas.
1990-an
Micronutrient deficiency (Defisiensi zat gizi mikro)
Digunakan terutama pada defisiensi zat-zat gizi utama pada saat itu, yaitu : vitamin A, iodium, seng (Zn), dan besi (Fe).
Akhir 1990-an
Malnutrition – gizi salah
Istilah yang digunakan secara luas oleh organisasi internasonal (seperti Unicef) untuk menjelaskan masalah kurang energi dan zat gizi serta kegagalan pertumbuhan.
Istilah ini sekarang menjelaskan tidak hanya masalah kekurangan gizi tetapi juga masalah kelebihan gizi.

Sumber : Sight and Life (2011) - Micronutrients, Macro Impact: The story of vitamins and a hungry world

Jumat, 28 Februari 2014

Cara menghitung kebutuhan energi untuk orang gemuk/obes menurut institute of medicine


         Cara menghitung kebutuhan energi yang di duga dari total pengeluaran energi pada orang yang mengalami overweight dan kegemukan berbeda dengan orang normal.  Beberapa waktu yang lalu di blog ini sudah ditulis cara menduga kebutuhan energi untuk orang yang sehat.  Berikut  ini adalah persamaan untuk menduga kebutuhan energi untuk orang yang mengalami overweight dan obesitas.


Kebutuhan energi
Jenis kelamin/usia
Persamaan
Faktor aktifitas fisik
Total energy expenditure (TEE) utk mempertahankan berat badan pada anak yang kelebihan berat badan dan kegemukan
Kali-laki 3-18 th
TEE=114-50.9 x Umur[th] + PA (19.5 x BB[kg] + 1161.4 xTB [m])
PA = 1.00 jika  dugaan PAL antara 1.0 sampai 1.4 (sedentary atau sangat ringan)
PA =1.12 jika dugaan PAL antara 1.4  sampai1.6 ( low active atau ringan)
PL = 1.24 jika dugaan PAL antara1.6 sampai 1.9 (active atau aktif)
PA = 1.45 jika dugaan  PAL antara 1.9 sampai 2.5 (very active atau sangat aktif)
Perempuan, 3-18 th
TEE=389 – 41.2xUmur[th] + PA (15.0 x BB[kg] + 701 x TB [m])
PA = 1.00 jika  dugaan PAL antara 1.0 sampai 1.4 (sedentary atau sangat ringan)
PA =1.18 jika dugaan PAL antara 1.4  sampai1.6 ( low active atau ringan)
PL = 1.35 jika dugaan PAL antara1.6 sampai 1.9 (active atau aktif)
PA = 1.60 jika dugaan  PAL antara 1.9 sampai 2.5 (very active atau sangat aktif)

Total energy expenditure (TEE) utk mempertahankan berat badan pada orang dewasa yang kelebihan berat badan dan kegemukan
Laki-laki, >19 th
TEE : 1086 - 10.1 x Umur (th) + PA x (13.7 x BB [kg] + 416 x  TB [m]))
PA = 1.00 jika  dugaan PAL antara 1.0 sampai 1.4 (sedentary atau sangat ringan)
PA =1.12 jika dugaan PAL antara 1.4  sampai1.6 ( low active atau ringan)
PL = 1.29 jika dugaan PAL antara1.6 sampai 1.9 (active atau aktif)
PA = 1.59 jika dugaan  PAL antara 1.9 sampai 2.5 (very active atau sangat aktif)

Perempuan, >19 th
TEE: 448 - 7.95 x Umur (th) + PA x (11.4 x BB [kg] +619 x TB [m])
PA = 1.00 jika  dugaan PAL antara 1.0 sampai 1.4 (sedentary atau sangat ringan)
PA =1.16 jika dugaan PAL antara 1.4  sampai1.6  ( low active atau ringan)
PL = 1.27 jika dugaan PAL antara1.6 sampai 1.9 (active atau aktif)
PA = 1.44 jika dugaan  PAL antara 1.9 sampai 2.5 (very active atau sangat aktif)



Sumber            : IOM (2005)
Keterangan       :
U        = umur (tahun), BB = berat badan (kg), TB = tinggi badan (m)
               TEE    = Total Energy Expenditure - total pengeluaran energi, (kkal)
PA      = koefisien aktivitas fisik

Contoh menghitung total pengeluaran energi untuk menduga kebutuhan energi  harian untuk anak laki-laki usia 3-18 tahun:
Usia = 18 tahun
Berat badan = 67 kg
Tinggi badan = 160 cm
IMT = 26.2
Aktivitas fisik tergolong ringan (low active) atau PA = 1.12
Kebutuhan energi atau TEE (kkal)) =114-50.9 x Umur [th] + PA (19.5 x BB[kg] + 1161.4 xTB [m])
Kebutuhan energi atau TEE (kkal)) =114-50.9 x 18 + 1.12 (19.5 x 67 + 1161.4 x 1.6)
Kebutuhan energi atau TEE (kkal)) =114 – 916.2 + 1.12 (19.5 x 67 + 1161.4 x 1.6)
Kebutuhan energi atau TEE (kkal)) = -802.2 + 1.12 (19.5 x 67 + 1161.4 x 1.6)
Kebutuhan energi atau TEE (kkal)) =-802.2 + 1.12 (1306.5 + 1858.2)
Kebutuhan energi atau TEE (kkal)) =-802.2+ 1.12 (3164.7)
Kebutuhan energi atau TEE (kkal)) =-802.2+ 3544.5
Kebutuhan energi atau TEE (kkal)) = 2742

Sumber :
[IOM] Institute of Medicine. (2005). Dietary Reference Intake for Energy, Carbohydrate, Fiber, Fat, Fatty Acids, Cholesterol, Protein, and Amino Acids”. A Report of the Panel on Macronutrients, Subcommittees on Upper Reference Levels of Nutrients and Interpretation and Uses of Dietary Reference Intakes, and the Standing Committee on the Scientific Evaluation of Dietary Reference Intakes.  Washington, DC. : National Academies Press.