Happy New Year 2016
Friday, January 1, 2016
Saturday, September 26, 2015
Laporan Gizi Global 2015 (Global Nutrition Report 2015)
Beberapa hari yang lalu tepatnya pada 23 September telah di
release Laporan Gizi Global 2015 (Global Nutrition Report 2015) di New
York. Masyarakat dunia saat ini menghadapi
banyak masalah gizi. Setiap orang bisa
menghadapi lebih dari satu jenis masalah gizi, oleh karena maslah gizi yang ada
bisa dijumlahkan. Saat ini diperkirakan
besarnya masalah gizi dunia sebagai berikut :
- 2 milyar orang mengalami kekurangan zat gizi mikro.
- 1.9 milyar orang dewasa mengalami overweight atau obes
- 161 juta anak balita pendek menurut umurnya atau stunted, 51 juta tidak cukup berat badan menurut tinggi badannya (kurus atau wasted), dan 42 juta mengalami overweight; tak satupun anak ini yang tumbuh secara sehat.
- 794 juta penduduk diduga mengalami kekurangan kalori.
- Satu diantara 12 orang dewasa diseluruh dunia menderita diabetes tipe-2.
Banyak
negara yang anak-anaknya hanya sebagian kecil saja yang tumbuh secara sehat,
seperti Bangladesh, Re[ublik Demokratik Kongo, Ethiopia, Nigeria, dan Pakistan. Pada negara-negara tersebut persentase
anak-anak balita yang tidak stunted atau wasted ganya berkisar 43-48 persen.
Kemajuan
yang telah dicapai selama ini cukup bervariasi, dari 74 negara yang datanya
tersedia sekitar 70 negara telah memenuhi
minimal satu target dari 5 target yang telah ditetapkan, yaitu World
Health Assembly (WHA) Global Nutrition Targets by 2025. Hanya satu negara sudah memenuhi kelima
target, yaitu Kenya, tetapi juga ada empat negara yang tidak memenuhi satupun
dari kelima target, yaitu Iraq, Mozambique, Thailand, Sao Tome and Principe. Bagaimana dengan Indonesia? Ternyata Indonesia hanya memenuhi satu target
saja, karena itu masih banyak hal yang harus ditingkatkan dan perlu upaya yang
lebih keras lagi.
Dalam
laporan ini juga dikatakan bahwa investasi bidang gizi memberikan manfaat yang sangat tinggi
bagi pembangunan ekonomi (lihat gambar dibawah).
Buku
ini sangat baik untuk dibaca. Bagi yang
berminat mengunduh bisa diunduh melalui link berikut :
http://ebrary.ifpri.org/utils/getfile/collection/p15738coll2/id/129443/filename/129654.pdf
Saturday, September 19, 2015
Karbohidrat dan Kesehatan (Carbohydrates and Health)
Scientific Advisory
Committee on Nutrition (SACN) Inggeris merekomendasikan angka kecukupan
gizi karbohidrat penduduk adalah 50% dari asupan energi makanan total. Direkomendasikan juga asupan ‘free sugar’
atau ‘bebas gula’ (semua monosakarida dan disakarida yang ditambahkan pada
makanan oleh pabrik, masakan atau konsumen, serta gula alami yang terdapat pada
madu, sirup dan jus buah tanpa pemanis) tidak boleh melebihi 5% dari asupan energi total pada penduduk
berusia 2 tahun keatas. Pembatasan asupan
‘free sugar’ ini untuk menghindari kerusakan gigi. Pembatasan asupan gula ini juga akan
berdampak positif terhadap asupan energi secara keseluruhan, diharapkan dengan
pembatasan gula maka asupan energi juga bisa dikendalikan. Pada akhirnya masalah kegemukan juga dapat
dikurangi.
SACN juga merekomendasikan angka kecukupan serat makanan karena
manfaatnya yang sangat positif untuk kesehatan , yaitu sebesar 15 g/hari untuk anak berusia 2-5 tahun, 20
g/hari untuk anak usia 5-11 tahun, 25 g/hari untuk anak berusia 11-16 tahun, serta
30 g/hari untuk remaja usia 16-18 tahun dan orang dewasa. Serat makanan yang dimaksudkan disini adalah
semua karbohidrat yang dapat dicerna maupun yang tidak dapat dicerna dalam usus
halus dan memiliki derajat polimerasi tiga atau lebih unit monomer, dan lignin. Asupan serat makanan ini harus dicapai
melalui asupan beragam makanan, bukan dari suplemen atau bahan ekstraksi serat.
Rekomendasi juga dibuat untuk asupan karbohidrat secara
keseluruhan , yaitu sekitar 50% dari asupan energi total.
Buku tentang Karbohidrat dan Kesehatan tersebut dapat diunduh pada link dibawah :
Saturday, September 12, 2015
Apel dan Tomat hijau meningkatkan Otot
Ketika usia bertambah maka akan terjadi penurunan kemampuan untuk
mempertahankan massa, kekuatan dan mutu otot skeletal . Kondisi ini disebut sarcopenia. Kehilangan massa otot skeletal sekitar 0.5
sampai 1% pertahun setelah berusia 25 tahun.
Ciri sarcopenia adalah pertama, terjadinya atrofi (penurunan ukuran
otot) yang terjadi bersamaan dengan penurunan mutu jaringan otot. Kemudian berlanjut dengan penurunan fungsi
dan kekuatan otot.Hal ini terjadi karena
adanya protein ATF4 (Activating Transcription Factor 4 atau
faktor transkripsi) yang dapat mengubah ekspresi gen pada sekelompok gen dalam
otot skeletal, sehingga terjadi penurunan sintesis, kekuatan dan massa
otot. Dengan semakin bertambahnya umur
maka ATF4 semakin berakumulasi dalam tubuh seseorang.
Peneliti dari Universitas Iowa yang dipimpin Prof
Christopher Adams berhasil mengidentifikasi dua senyawa yang dapat mengurangi
defisit kekuatan, mutu dan massa otot,
yaitu ursolic acid (suatu pentacyclic triterpenoid yang ditemukan
dalam apel hijau, terutama pada kulit apel dan tomatidine (suatu steroidal alkaloid yang berasal dari
tomat hijau). Dua senyawa ini berperan
dalam mengurangi aktivitas ATF4. Dengan
mengurangi aktivitas ATF4, maka ursolic
acid dan tomatidine memungkinkan
otot dipulihkan dari efek penuaan (aging). Penelitian pada tikus, hanya dalam dua bulan
massa otot meningkat 10 persen dan mutu otot meningkat 30 persen.
Hasil penelitian ini di publikasi minggu lalu dalam Journal
of Biological Chemistry http://www.jbc.org/content/early/2015/09/03/jbc.M115.681445.full.pdf+html
Oleh karena itu agar otot tidak berkurang dengan
bertambahnya usia, maka jangan lupa makan tomat hijau dan apel...mumpung tomat
lagi murah...hehe
Sunday, May 31, 2015
Kerawanan Pangan Dunia tahun 2015 (The State of Food Insecurity 2015)
Saat ini kita mengalami kemajuan dalam menangani kelaparan,
meskipun demikian masih banyak penduduk yang mengalami kekurangan pangan untuk
hidup aktif dan sehat (atau disebut juga kelaparan). Saat ini diduga masih ada sekitar 795 juta
penduduk duania mengalami kelaparan (undernourished) . Penduduk yang mengalami kelaparan ini sudah
jauh menurun dari 18.6 persen tar 1 milyar penduduk) pada tahun 1990-an menjadi
10.9 persen (795 juta) pada saat ini.
Hal ini tentu saja menggambarkan penduduk yang mengalami kelaparan jauh
lebih sedikit atau menurun sekitar 216 juta atau penurunan sekitar 21.4 persen.
Penduduk yang mengalami kelaparan ini pada umumnya (sekitar
780 juta jiwa) tinggal di negara-negara berkembang, terutama di Asia dan Afrika. Penurunan kelaparan di dunia ini banyak
disumbang oleh kemajuan-kemajuan di China dan India. Pertumbuhan ekonomi merupakan faktor utama keberhasilan
dalam menurunkan angka kelaparan. Bagi
negara berkembang secara keseluruhan, dua indikator MDG, yaitu prevalensi
undernourishment dan proporsi underweight anak balita, sudah mengalami
penurunan. Pada beberapa daerah, seperti
Afrika Barat, Asia Tenggara, dan Amerika Selatan, proporsi kelaparan
(undernourishment) menurun lebih cepat dibandingkan penurunan proporsi
underweight anak balita. Hal ini
menunjukkan bahwa perlu upaya lebih baik untuk memperbaiki mutu diet, kondisi hygiene
dan akses terhadap air bersih, terutama bagi penduduk miskin.
Tentu saja harus lebih banyak lagi upaya yang harus
dilakukan agar masalah kelaparan dapat diatasi dengan tuntas.
Yang tertarik membaca bukunya bisa di download disini
http://www.fao.org/3/a4ef2d16-70a7-460a-a9ac-2a65a533269a/i4646e.pdf
Thursday, April 9, 2015
Healthy Eating for People with Type 2 Diabetes
Akhir-akhir ini masyarakat sangat
familiar dengan istilah diabetes mellitus, bukan hanya karena sering dibahas di
media massa melainkan juga karena kasusnya sering dijumpai di lingkungan
sekitar.
Diabetes melitus adalah suatu penyakit
dimana kadar gula darah (glukosa) cukup tinggi (diatas normal) karena tubuh
tidak dapat melepaskan atau menggunakan insulin dengan cukup.
Ada 2 tipe diabetes melitus yaitu
diabetes tipe I dan diabetes tipe II. Diabetes
tipe I sering disebut insulin dependent diabetes mellitus atau diabetes yang
bergantung pada insulin.. Diabetes tipe
I ini berhubungan dengan ketidakmampuan pankreas untuk menghasilkan insulin. Diabetes tipe I juga disebut diabetes juvenile
yaitu diabetes yang umumnya didapat sejak masa kanak-kanak. Diabetes tipe II sering juga disebut
non-insulin dependent diabetes mellitus atau diabetes mellitus tanpa bergantung
insulin. Diabetes tipe II yaitu diabetes yang didapat setelah dewasa.
Penyakit diabetes mellitus tipe II
merupakan penyakit kencing manis yang sering diderita. Sekitar 90% dari penyakit diabetes adalah
penyakit diabetes tipe II.
Beberapa faktor penyebab diabetes
adalah keturunan, pola makan dan gaya hidup tidak sehat, kadar kolesterol darah
yang tinggi, dan obesitas.
Gejala diabetes antara lain: sering merasa
haus yang berlebihan (polidipsi), sering kencing (poliuri) terutama malam hari,
sering merasa lapar (poliphagi), berat badan yang turun dengan cepat, keluhan lemah,
kesemutan pada tangan dan kaki, gatal-gatal, penglihatan menjadi kabur,
impotensi, luka sulit sembuh, keputihan, penyakit kulit akibat jamur di bawah
lipatan kulit, dan pada ibu-ibu sering melahirkan bayi besar dengan berat badan
>4 kg.
Hasil Riset Kesehatan Dasar 2013 yang
dilakukan oleh Keenterian Kesehatan menunjukkan proporsi penduduk ≥15 tahun
dengan diabetes mellitus (DM) adalah 6,9 persen.
Kunci utama mengatasi penyakit
diabetes adalah menjaga pola makan dan gaya hidup yang sehat.
Bagaimana cara menjaga pola makan dan
gaya hidup yang sehat dapat ditemukan pada buku ini yang dapat di unduh secara
gratis pada link berikut :
Thursday, March 26, 2015
Hasil Studi Diet Total Indonesia 2014
Sebulan yang lalu Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah merelease laporan hasil Studi Diet Total - Survei Konsumsi Makanan Individu Indonesia 2014.
Berikut ini adalah ringkasan hasil Studi Diet Total yang saya kutip dari laporan tersebut.
Hasil analisis SKMI 2014 menunjukkan tingkat
konsumsi bahan makanan menurut jenis dan kelompok makanan,
berpengaruh terhadap asupan zat gizi, tingkat kecukupan energi dan protein individu.
Hasilnya secara lengkap sebagai
berikut:
1.
Pada makanan pokok, beras terbanyak dikonsumsi oleh
sebagian besar penduduk Indonesia (97,7%) dengan konsumsi sebesar 201,3 gram
per orang per hari diikuti terigu dan olahannya yang dikonsumsi oleh sekitar
30,2 persen penduduk dengan konsumsi sebesar 51,6 gram per orang per hari.
Jenis umbi-umbian dan olahannya menempati urutan ketiga dengan konsumsi sebesar
27,1 gram per orang per hari dan dikonsumsi oleh sekitar 19,6 persen penduduk.
Dari ketiga jenis makanan pokok tersebut, jenis umbi-umbian yang umumnya
merupakan produksi lokal, justru jumlahnya paling sedikit dikonsumsi oleh
penduduk.
2.
Konsumsi protein hewani penduduk Indonesia,
terbanyak berasal dari kelompok ikan dan olahan, yaitu sebesar 78,4 gram per
orang per hari. Disusul oleh kelompok daging dan olahan sebanyak 42,8 gram per
orang per hari, dan tiga kelompok lain yang sedikit dikonsumsi secara berurutan
adalah telur dan olahan sebesar 19,7 gram per orang per hari, susu dan olahan
kurang dari 5 gram per orang per hari, dan kelompok jeroan sebesar 2,1 gram per
orang perhari. Protein nabati lebih banyak dikonsumsi penduduk dibandingkan
protein hewani, terlihat pada konsumsi kacang-kacangan dan olahan dan serealia
dan olahan mencapai 56,7 gram dan 257,7 gram per orang per hari. Berdasarkan
jumlah penduduk, yang dominan dikonsumsi adalah kacang kedele dan beras masing
masing 47,4 persen dan 97,7 persen. Dengan demikian mayoritas sumber protein
dalam makanan penduduk adalah protein nabati.
3.
Konsumsi kelompok sayur dan olahan serta buah-buahan
dan olahan penduduk masih rendah yaitu 57,1 gram per orang per hari dan 33,5
gram per orang per hari. Dalam kelompok sayur, sayuran hijau dikonsumsi paling
banyak (79,1%) dibandingkan sayur lainnya. Sebaliknya untuk kelompok
buah-buahan dan olahan, buah pisang terbanyak dikonsumsi oleh penduduk (15,1%).
Konsumsi sayur dan olahan serta
buah-buahan dan olahan yang belum memadai berpengaruh terhadap suplai vitamin
dan mineral yang dibutuhkan oleh tubuh.
4.
Konsumsi kelompok minyak, lemak dan olahan sebesar
37,4 gram per orang per hari, terbanyak dikonsumsi dalam kelompok ini adalah
minyak kelapa sawit dan minyak kelapa (19,7gram/orang/hari). Sebagian besar
penduduk Indonesia (92,6%) mengonsumsi minyak kelapa sawit dan minyak kelapa,
menyusul kelapa dan olahannya (29,4%) dan minyak lainnya (7,1%).
5.
Konsumsi kelompok gula dan konfeksionari penduduk
Indonesia sebesar 15,7 gram per orang per hari, terbanyak dikonsumsi dalam
kelompok ini adalah gula putih/gula pasir (13,6 gram/orang/hari). Gula pasir
dikonsumsi oleh sebagian besar penduduk Indonesia (66,6%), diikuti oleh bahan
makanan lain, permen dan coklat dengan kisaran antara 2,3 sampai 2,8 persen dan
terendah sirup (1,2%).
6.
Konsumsi kelompok bumbu penduduk Indonesia sebesar
20,4 gram per orang per hari, terbanyak dikonsumsi pada kelompok ini adalah
bumbu basah (14,3 gram/orang/hari), menyusul garam (3,5 gram/orang/hari) dan
terkecil bahan tambahan kurang dari 1,0 gram/orang/hari. Hampir seluruh
penduduk mengonsumsi garam (96,3%) diikuti dengan bumbu basah (84,1%), vetsin
(50,3%) dan terendah bahan tambahan (1,3%).
7.
Konsumsi minuman serbuk penduduk Indonesia sebesar
8,7 gram per orang per hari. Teh instan/daun kering dikonsumsi terbanyak (31,2
%) diikuti kopi bubuk (25,1%) dan terendah minuman serbuk (5,9%), dengan
konsumsi terbanyak adalah kopi bubuk (6,0 gram/orang/hari), menyusul teh instan
daun kering (1,6 gram/orang/hari) dan terendah adalah minuman serbuk (1,2
gram/orang/hari). Minuman serbuk merupakan minuman terbanyak dikonsumsi oleh
kelompok umur 0-59 bulan hingga kelompok umur 13-18 tahun.
8.
Konsumsi minuman cair penduduk Indonesia sebesar
25,0 ml per orang per hari. Berasal dari minuman kemasan (19,8 ml /orang/hari),
minuman berkarbonasi (2,4 ml/orang/hari), minuman beralkohol (1 ml/orang/hari),
serta lainnya (1,9 ml /orang/hari). Minuman
kemasan cairan dikonsumsi 8,7 persen penduduk, diikuti minuman lainnya (1,8%),
minuman berkarbonasi (1,1%) dan terendah minuman beralkohol (0,2%). Minuman kemasan cairan merupakan minuman
terbanyak dikonsumsi pada semua kelompok umur termasuk kelompok balita.
9.
Total konsumsi cairan penduduk Indonesia 1.317 ml
per orang per hari, berasal dari air minum 1.146 ml per orang per hari, air
minum kemasan bermerek 146 ml per orang per hari, dan minuman cairan (25 ml/orang/hari).
Konsumsi cairan kelompok umur 19-55 tahun (dewasa) hampir mencapai 1 ½ liter.
10. Konsumsi
kelompok makanan komposit, suplemen termasuk jamu amat kecil yaitu di bawah 1,0
gram per orang per hari, dan dikonsumsi kurang dari 1 persen penduduk
Asupan dan kecukupan gizi
1. Lebih dari separuh balita (55,7%)
mempunyai asupan energi yang kurang bila dibandingkan dengan Angka Kecukupan
Energi (AKE) yang dianjurkan. Proporsinya dengan asupan energi sangat kurang ( <
70% AKE) sebesar 6,8 persen dan asupan energi kurang (70 - < 100 % AKE)
sebanyak 48,9 persen. Sebaliknya ditemukan balita yang mengonsumsi energi lebih
besar dari Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang dianjurkan ( >130% AKE) sebesar
17,1 persen.
2. Secara nasional, penduduk dengan
tingkat kecukupan energi sangat kurang (< 70% AKE) sebesar 45,7 persen,
tingkat kecukupan energi kurang (70 - < 100% AKE) sebesar 33,9 persen,
tingkat kecukupan energi sesuai AKG (100 - < 130% AKE) sebesar 14,5 persen,
dan lebih dari AKG (> 130% AKE) sebesar 5,9 persen.
3. Secara nasional tingkat kecukupan
protein per orang per hari tertinggi terlihat pada kelompok umur 0-59 bulan
(134,5% AKP), diikuti kelompok umur 5-12 tahun (115,9% AKP), kelompok umur 19-55
tahun (107,2% AKP), kelompok umur >55 tahun (93% AKP) dan terendah pada
kelompok umur 13-18 tahun (89,5% AKP). Penduduk dengan tingkat kecukupan
protein sangat kurang (< 80% AKP) sebesar 36,1 persen, tingkat kecukupan
protein kurang (70 - < 100% AKP) sebesar 17,3 persen dan tingkat kecukupan
protein normal (> 100% AKP) sebesar 46,5 persen.
4. Rerata tingkat kecukupan energi
dan protein pada kelompok umur remaja (13-18 tahun) sebesar 72,3 persen dan
82,5 persen, paling rendah dibandingkan dengan empat kelompok umur lainnya.
Proporsi remaja dengan tingkat kecukupan energi sangat kurang (< 70% )
sebanyak 52,5 persen tertinggi dibandingkan dengan empat kelompok umur lainnya.
5. Secara nasional, sebanyak 4,8
persen, 18,3 persen dan 26,5 persen penduduk mengonsumsi gula, natrium dan
lemak melebihi pesan Permenkes Nomor 30 tahun 2013.
6. Kecukupan energi dan protein pada
ibu hamil perlu mendapat perhatian terutama di perdesaan. Ibu hamil dengan
tingkat kecukupan energi sangat kurang (< 70% AKE) di perdesaan (52,9%), sementara di perkotaan
(51,5%). Hanya 14,0 persen ibu hamil dengan tingkat kecukupan energi lebih atau
sama dengan 100 persen AKE baik di perkotaan maupun perdesaan. Ibu hamil dengan
tingkat kecukupan protein sangat kurang (< 80 % AKP) di perdesaan (55,7%),
sedangkan di perkotaan (49,6%).
7. Kontribusi lemak terhadap total
asupan energi sebesar 27,4 persen, sedikit di atas angka yang dianjurkan
Pedoman Gizi Seimbang.
Lebih jelasnya laporan tersebut
dapat diunduh pada link berikut :
Friday, February 6, 2015
Improving diets and nutrition through Food-based Approaches
FAO dan CABI bekerjasama mempublikasi sebuah buku tentang improving
diets and nutrition through Food-based Approaches. Buku ini mengadvokasi
pendekatan berbasis pangan yang sensitif gizi untuk mengatasi masalah kelaparan
dan malnutrisi. Bagi yang berminat dapat mengunduh disini http://www.fao.org/3/a-i3030e.pdf
Subscribe to:
Comments (Atom)








